Dua hari sudah, Qenna mengurung diri di rumah. Malas untuk bertatapan dengan sinar sang surya yang tidak enggan terus menyinari di atas sana. Meski sulit Qenna berusaha menata hidupnya yang telah hancur berkeping-keping. Di tinggal, lalu di fitnah tidak suci lagi, semua itu telah menekan hidup Qenna.
Ingin sekali waktu kembali di putar, di mana Qenna tidak jatuh cinta pada pria pengecut itu. Namun, semua terlanjur terjadi. Hingga hidup pahit yang di jalani perempuan itu saat ini. Tidak hanya di tinggal, Qenna tidak tahu bagaimana ia akan menceritakan pada Ibu Aisyah. Apa yang akan ia jawab jika wanita paruh baya itu menanyakan Rafa? Bukan hanya Qenna saja yang malu, ibu Aisyah pasti merasakan hal yang sama.
Qenna menyusun baju yang masih ada di dalam koper ke dalam lemari. Baju yang belum sempat ia keluarkan ketika itu dari kopernya. Koper yang ia bawa ketika pergi berbulan madu dengan pria itu. Hal yang terhidu lebih dulu dari dalam koper, ialah parfum yang di belikan oleh Rafa. Qenna sempat memakaikan pada salah satu pakaiannya. Pakaian itu belum sempat ia cuci.
Aroma parfum yang lebih dominan itu, Qenna bergegas memisahkan dari pakaian yang lainnya. Sebab, parfum itu mengingatkan Qenna akan sosok lelaki yang dengan sekejap menghancurkan hidupnya.
Tidak hanya itu, Qenna mencari botol parfum yang terselip di sela-sela baju yang masih ada di koper. Sedikit menggeledah, akhirnya tangan Qenna meraih botok parfum tersebut. Tanpa menunggu lama, Qenna mengambil baju dan parfum itu, lalu melangkah ke luar. Membuangnya ke dalam tempat sampah.
Ingin rasanya Qenna membakar segala kenangan bersama Rafa, jika itu ia lakukan, maka akan mengundang tanda tanya tetangganya sendiri. Apalah daya, ibu-ibu yang tinggal di gang itu, ibu-ibu yang rempong akan urusan orang lain.
Qenna tidak mau memancing pertanyaan-pertanyaan dari para tetangganya itu."Aku akan membuang semuanya yang kamu berikan, Mas! Seperti hatiku yang siap membuang kamu dari perasaanku. Susah payah aku mempertahankan hubungan kita, kamu malah mencampakkan aku bagaikan barang tidak berguna lagi. Setelah kamu renggut mahkotaku, meski kita sah secara agama dan hukum, kamu meninggalkanmu bagai barang yang tidak lagi kamu butuh,kan!"
Qenna masuk ke rumahnya lagi. Setelah bermonolog singkat bersama dirinya sendiri. Meluapkan kekesalannya pada Rafa. Tidak hanya lelaki itu, mertuanya juga sangat kejam memisahkan Qenna dengan Rafa.
Qenna tidak habis pikir, ternyata orang tua Rafa sangat membencinya. Hanya karena dia di besarkan di panti asuhan, Mamanya Rafa malu memiliki menantu seperti Qenna. Ia tidak menyalahkan takdir, yang membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Dia malah bersyukur tinggal bersama orang-orang yang senasib dengannya. Meski kehilangan orang tua, di usianya yang masih meminta kasih sayang dari orang tua, sosok ibu Aisyah menggantikan segalanya. Beliau sangat menyayangi Qenna, memperlakukan Qenna seperti anak kandung sendiri.
Selesai dengan merapikan pakaiannya. Qenna beralih pada album foto yang menyimpan banyak kenangan ketika mereka masih menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih.
"Semua tidak perlu ada benda yang mengenang tentangmu, Mas! Kau membakar hatiku menjadi abu. Aku akan membakar semua tentangmu juga menjadi bagian yang tak tersisa. Bahkan untuk abunya saja, tidak akan sudi aku melihatnya!" umpat Qenna, mengambil album itu dan mengeluarkan pigura berasama Rafa satu persatu. Membakarnya di tempat sampah, satu persatu wajah Rafa hangus menjadi abu.
Dalam tatapan penuh kebencian memandangi satu persatu pigura itu menjadi abu, dari depan terdengar suara ketukan pintu yang menyentakkan Qenna dari rasa kesalnya."Siapa yang datang? Apa ibu Aisyah? Tidak! Tidak! dia belum tahu aku sudah di sini. Tapi di luar siapa?"
Qenna menuju pintu depan. Untuk mengetahui siapa orang yang bertamu di rumahnya. Qenna tidak langsung membuka pintu, ia menyikapi tirai jendela untuk dapat melihat siapa orang di luar sana.
Qenna di buat terkejut, oleh kedatangan Mama Jamilah seorang diri di luar sana. Ia menutup tirai jendela kembali. Di bawah dahi yang berkerut penuh, Qenna bertanya-tanya ada gerangan apa Mama Jamilah mendatanginya.
"Qenna! Aku tahu kamu ada di dalam! Buka pintunya!" teriak Mama Jamilah, ia ingin segera berhadapan dengan Qenna. Firasatnya mengatakan bahwa Qenna ada di dalam. Mama Jamillah mengetuk pintu rumah Qenna lagi, seraya memanggil nama Qenna.
Qenna tidak tinggal diam, ia membuka pintu. Memberanikan diri untuk berhadapan langsung dengan Mama Jamilah. Pintu terbuka lebar, mata mereka saling bersilang pandang. Sedetik kemudian, Mama Jamilah menyunggingkan senyumannya.
"Ada apa Mama kemari?" tanya Qenna, menyelidiki. Ia yakin perempuan paruh baya itu punya maksud tertentu bertemu dengannya.
"Aku bukan Mamamu! Berhenti memanggilku dengan sebutan Mama! Aku tidak sudi nama itu terucap dari mulut kotormu itu!" sembur Mama Jamilah. Mama Jamilah masuk ke rumah Qenna, matanya menelusuri rumah sederhana milik perempuan yang menjadi menantunya itu."Kau memang pantas tinggal di rumah ini. Sesuai dengan statusmu. Sebagai anak panti asuhan." perempuan itu terkekeh kecil, setelah menghina Qenna.
"Rumah ini memang sederhana dan aku memang di besarkan di panti asuhan. Tetapi, aku bukan manusia kejam seperti Anda, yang tidak mempunyai hati dan perasaan!" ucap Qenna lantang, ia berani mengangkat wajahnya menatap tajam pada perempuan yang jauh berbeda usianya dengan dia.
"Jangan sok menceramahiku! Kamu anak ingusan kemaren sore." Mama Jamilah melototi Qenna."Aku kemari ingin mengatakan padamu. Surat perceraian kalian segera keluar. Jadi, bersabarlah sampai surat itu keluar. Kamu dan Rafa tidak lagi menjadi sepasang suami istri nanti."
"Anda memang orang tua yang kejam! Telah memisahkan aku dan Mas Rafa. Menjadikan Mas Rafa sebagai boneka mainan Anda. Hal yang paling bodohnya, Mas Rafa menuruti semua yang Anda rencanakan, hingga ia benar-benar di peralat seperti mainan. Aku sangat menyayangi dari semua yang terjadi. Sebagai lelaki, Mas Rafa tidak bisa tegas pada keputusannya. Sebagai anak, di juga di peralat oleh Mamanya sendiri. Aku dan Mas Rafa tidak akan berpisah, sebelum ia menjatuhkan talak padaku! Sebatas surat cerai tidak akan sah di mata agama!" tegas Qenna, menahan baik air matanya di balik kelopak matanya itu.
Sebab, Qenna tahu hanya Mama Jamilah yang mengusut perceraian itu. Tanpa ada di gugatan perceraian yang di layangkan Rafa pada pengadilan.
"Plaaakkkk !!"
Tamparan kuat melayang di pipi Qenna, wajah Qenna terhempas, panas, dan sakit bekas tangan Mama Jamilah yang terpancing emosi oleh penuturan Qenna. Mama Jamilah tidak terima dari apa yang ia dengar itu. Menganggap Qenna telah lancang menyinggung perasaannya.
Qenna menyunggingkan senyumannya, setelah mengangkat wajahnya lagi, menatap Mama Jamilah."Kenapa? Semua itu benar, bukan? Semua yang aku katakan adalah kebohongan!"
Jari telunjuk Mama Jamilah mengarah tegas pada Qenna."Dengarkan aku baik-baik! Aku pastikan kamu mendengar kata talak dari Rafa. Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu. Karena aku tidak sudi mempunyai menantu sepertimu!"
"Tunggulah, sampai kata talak itu jatuh padamu. Dan statusmu menjadi janda!" sambung Mama Jamilah dengan bangga.
Mama Jamilah merogoh tasnya. Mengeluarkan amplop coklat yang cukup tebal. Yang telah ia persiapkan sebelum kedatangannya kerumah Qenna.
"Inikan yang kamu mau?!" Mama Jamilah tersenyum sinis."Ambillah, sebagai konpensansi harga dirimu."
Mama jamilah meletakkan di meja kaca. Menatap Qenna dari ujung kaki, sampai kepala perempuan muda itu."Jika kurang, kamu boleh memintanya lagi. Bahkan melebihi dari itu, aku berikan. Jangan munafik! Itukan yang kau butuhkan?!"
Memandangi Qenna sesaat, Mama Jamilah tersenyum kecut pada Qenna yang bergeming. Hanya sorotan matanya menajam pada Mama Jamilah. Saat Mama Jamliah melangkah keluar, membelakangi Qenna, ia bergegas mengambil amplop coklat itu. Menggenggam erat, dengan hati yang memanas.
"Tunggu!" kata Qenna. Menghentikan langkah perempuan paruh baya itu. Meraih tangan Mama Jamilah, lalu memberikan amlop coklat itu di tangannya perempuan paruh baya itu."Semua tidak harus tentang uang! Tidak semua harus di beli dengan uang! Simpan saja uang itu untuk membiayai Mas Rafa, membeli bahagia untuk Mas Rafa dengan uang. Sebab, harga diriku dan kebahagiaanku tidak akan pernah ternilai dengan uang sebanyak apapun!"
Qenna meninggalkan Mama Jamilah. Setelah meluapkan amarah di hatinya. Menutup rapat pintu rumah, Qenna tidak memperdulikan Mama Jamilah di luar sana. Tubuh Qenna tersandar lemah di balik pintu. Merosot ke bawah, seiring rasa panas menyentuh hidung lalu merambat mata ke dua bola matanya. Hingga air mata yang telah menganak sungai, tidak mampu menampung cairan bening itu lagi.
Dalam hati yang begitu pilu, isak tangis Qenna pecah. Perempuan itu sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan. Saat pintu mobil di luar sana baru saja terbuka. Dan terdengar tertutup kembali. Deruman mesin mobil mulai terdengar, siap meninggalkan rumahnya.
Qenna melepaskan tangannya dari mulut. Menekuk lutut, membenamkan wajahnya. Isak tangis perempuan itu terdengar memenuhi seisi rumah. Membiarkan tangisan itu mengambil alih suasana hati Qenna. Baru saja ia ingin menata hidupnya, malah kedatangan Mama Jamilah memporak porandakan kembali hidup Qenna. Seakan tidak puas apa yang ia lakukan, sampai harus mendatangi rumah Qenna.
"Jangan khawatir, Mas Rafa ... Aku akan melatih diriku untuk tidak menanyakan kabarmu. Dan melatih diriku untuk tidak mencarimu setiap hari. Sampai aku lupa kamu siapa?
Aku tahu dan sadar siapa diriku, aku hanya pemain cadangan. Orang yang tidak kamu prioritaskan. Siapa lagi kalau bukan aku? Perempuan bodoh yang kalah dengan perasaannya sendiri. Orang yang tidak di prioritaskan, tapi butuhkan. Lalu, di campakkan bagaikan sampah.
Aku salah menilai kebaikanmu, perhatian, dan keseriusan kamu yang ternyata semua itu berkedok jahat! Apalah dayaku, aku tidak mempunyai kemampuan untuk tahu siapa dirimu di balik topeng yang kamu pakai. Hingga aku terkecoh, terluka, hanya karena lelaki yang membuatku jatuh cinta." Suara hati Qenna, dalam kenangan di balut luka."
Bersambung ...