"Terus kamu diam saja, di hina Mamanya Rafa?" Sindy melirik Qenna dengan sudut matanya. "Tidak! Aku bilang bahwa ini benaran anaknya Mas Rafa. Tetap saja dia tidak mau menerima," bahu Qenna melorot. Pada hal dia yang di hina, tetapi Sindy yang meradang amarah. "Heran aku sama Tante Jamilah itu! Dia kan perempuan juga. Apa tidak sakit di perlakukan pria seperti anaknya itu? Bisa-bisanya ia memisahkan anak dan ayahnya," Sindy berbalik badan, melangkah mendekati salah satu kursi. Ia mendaratkan bokongnya di kursi tersebut. Dengan wajah kesal, rahangnya mengeras. "Itu si Rafa, pria atau perempuan sih dia? Kamu sudah memastikan bahwa dia itu seorang pria?!" imbuhnya kemudian. "Lah, memangnya ada apa? Dia memang pria. Lagian pertanyaan kamu, Aneh!" sahut Qenna, matanya berputar penuh. "Kala

