"Kamu hati-hati, ya. Sampai di rumah, tolong kabari aku," pinta Sindy setelah memberi pelukan hangat sejenak, sebelum melepaskan Qenna untuk masuk ke mobil taksi.
"Eemm ... nanti aku kabari," timpal Qenna, segera masuk ke mobil taksi.
Qenna melambaikan tangan ke arah Sindy. Sebagai salam perpisahan mereka. Kaca mobil pun di naikan, setelah mobil taksi itu mulai berjalan meninggalkan Sindy.
Raut wajah Sindy berubah sendu seketika. Di bawah alis yang berkerut, iris mata Sindy berkaca-kaca oleh cairan bening yang semenjak tadi tidak mampu di tahan. Pada hal bukan dia yang mendapatkan masalah dalam hidupnya. Melainkan sahabatnya--Qenna. Tetapi, Sindy tidak tega melihat nasib Qenna. Dalam rahimnya tumbuh janin dari lelaki yang telah menceraikan dia.
"Tidak, perceraian itu tidak sah! Rafa harus tahu bahwa Qenna mengandung anaknya," gumam Sindy.
***
Qenna turun dari mobil di salah satu apotik. Menebus obat yang di katakan Armand padanya."Pak, bisa tunggu sebentar?" tanyanya pada sang supir taksi.
"Bisa mbak," ujarnya,
Qenna pun mengayunkan kakinya memasuki apotik. Memberikan kertas itu pada karyawan perempuan di hadapannya.
"Mbak, saya mau beli obat ini," ucap Qenna. Karyawan apotik itu mengambil kertas yang di berikan Qenna.
"Tunggu sebentar, ya mbak ..."
Setelah menunggu, akhirnya obat yang ia dapatkan. Qenna keluar dari apotik menuju taksi yang terpakir di luar. Qenna segera masuk ke taksi."Pak, Maaf sudah menunggu lama."
"Tidak apa-apa, mbak." Jawab supir, mobil kembali di lajukan kembali
Tidak lama kemudian, Qenna tiba di rumah. Membayar taksi yang ia tumpangi, dan memasuki rumah. Namun, manik mata Qenna mendapati bu Aisyah duduk di kursi luar, tengah melempar senyum padanya.
Qenna membalas senyuman itu. Ia sangat senang dengan kedatangan ibu Aisyah. Sebagai penawar rindu baginya. Dengan tidak sabar, Qenna melangkah lebar mendekati Ibu Aisyah.
"Assalamu'alaikum, bu," ucap Qenna, meraih tangan perempuam paruh baya itu. Mencium punggung tangan bu Aisyah. Seketika raut wajah Ibu Aisyah berubah drastis, saat melihat wajah pucat Qenna.
"Walaikum salam," jawab Ibu Aisyah. Di bawah alis mata yang berkerut, ia bertanya."Qen, wajahmu pucat sekali, nak, kamu sakit?" tangan Ibu Aisyah meraba dahi Qenna, lalu berpindah ke lehernya. Perempuan itu mencemaskan Qenna yang terlihat pucat.
"Ibu enggak usah khawatir. Aku hanya masuk angin doang, kok. Nanti juga sembuh." Qenna mempeelihatkan obat yang akan ia minum."Ini Qenna sudah beli obatnya. Butuh istirhat yang cukup, nanti juga sembuh."
Seutas senyum sengaja terbit di raut wajah Qenna, untuk melebur rasa cemas yang membaluti Ibu Aisyah. Dengan kedatangan beliau saja, sudah seperti obat baginya.
"Ibu sudah lama di sini?" tanya Qenna, sebab saat kedatangannya tadi, ia sudah melihat Ibu Aisyah duduk di kursi kayu depan rumahnya. Pagar rumah Qenna memang tidak terkunci. Hanya di pasang slotnya saja. Qenna hanya mengunci pintu rumah, dan ia berangkat kerja. Tidam ada barang berharga pun di rumahnya. Hanya memiliki televisi sebagai media mengusir kesepiannya di rumah itu.
"Tidak lama juga sih, Qen. Rafa mana, Qen?" pertanyaan itu seketika membuat Qenna menyadari, ia lupa bahwa Ibu Aisyah sampai saat ini belum tahu lelaki itu telah meninggalkannya.
Raut wajah Qenna seketika melebur gugup. Bersyukur ia memakai switer, hingga tidak menampakkan seragam kerja yanh ia pakai. Tetapi, Qenna kembali harus berbohong untuk menutupi lelaki itu.
"Maaf ya, bu, membuat Ibu menunggu. Biasa bu, Mas Rafa kerja. Nanti juga pulang," killah Qenna.
"Sampai kapan aku menutupi tentang Mas Rafa? Apa kau jujur saja, bahwa aku dan dia sudah pisah? Tapi ... Aku belum siap. Ibu Aisyah pasti sedih, dan akan memintaku untuk kembali tinggal di panti. Maafkan Qenna, bu." ucap Qenna lirih dalam hati.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu yang salah, tidak mengabari kamu dulu. Ah iya, ibu lupa. Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sayang, sampai Rafa pulang. Dia sudah tahu, kamu sakit?" Ibu Aisyah mengusap lembut bahu Qenna.
"Su-sudah, bu. Tadi Qenna sudah mengabari Mas Rafa," lagi-lagi Qenna berbohong.
"Tunggu sebentar, Qenna buka pintu dulu," sambungnya.
Setelah pintu di buka, Qenna dan Ibu Aisyah masuk ke rumah. Pemandangan aneh pun tertangkap oleh Ibu Aisyah. Tidak seperti rumah pasangan lain, yang terdapat foto pernikahan mereka yang di perbesar. Di tempelkan ke dinding. Sedangkan rumah Qenna, seakan tidak memiliki nyawa pernikahan.
Bukan hanya foto pernikahan. Foto yang menampakkan diri mereka berdua saja tidak ada. Dinding rumah itu hanya memperlihatkan foto-foto anak panti, dan foto Qenna bersama Sindy. Manik mata yang diam-diam mengamati puu membuat Ibu Aisyah menaruh curiga.
"Qenna, seharusnya kamu memajang foto pernikahanmu, Nak. Rumah kalian akan terlihat kehangatan, setiap kali melihat foto yang bersejarah itu. Ini malah tidak ada satupun foto pernikahan kalian. Kamu pasti punya, kan? Mari ibu bantu pasangkan?" Ibu Aisyah hanya ingin Qenna dan suaminya itu senang dengan terpajangnya foto pernikahan mereka. Ia malah berpikir, Qenna maupun Rafa belum sempat untuk memajangkan foto pernikahan itu.
Qenna tertegun, tenggorokkannya tercekat. Denga mata membeliak penuh, dalam posisi membelakangi Ibu Aisyah, Qenna menggigit bibir bawahnya. Harus menyesali kedatangan perempuan paruh baya itu atau tidak. Sebab, dua pertanyaan yang di lontarkan pada Qenna membuat jantungnya berdegup kencang.
Namun, ia juga merindukan kehadiran Ibu Aisyah. Di saat tubuhnya kehilangan imun, sosok Ibu Aisyah sangat berarti bagi Qenna.
Perempuan itu menaruh tas dan obat yang ia bawa di atas kursi panjang sederhana di dalam rumah kontrakan itu. Ia berusaha untuk setenang mungkin, menjawab pertanyaan ibu Aisyah lagi. Foto pernikahan yang di pertanyaan Qenna, selamanya tidak akan pernah terpajang. Jangankan untuk ukuran besar, kecilpum Qenna tidak akan sudi.
Buat apa ia memandangi wajah yang telah menggoreskan luka di hatinya. Wajah senyum lebar lelaki itu saat di pernikahan mereka, hanya akan menjadi duri dalam daging. Jika saja ia boleh memilih, Qenna akan meminta agar bayangan lelaki itu hilang dari ingatannya tanpa ada yang tersisa.
" Qenna ...." seru Ibu Aisyah, setelah lama keheningan tercipta, mengambil alih jeda pembicaraan mereka.
"Ah, mmm ... Biar aku dan Mas Rafa yang pasangkan, bu. Soalnya foto itu, Mmm ..
Apa namanya," Qenna kesulitan untuk berkillah." Kemaren sudah di bawakan oleh fotografernya. Di jalan, fotografernya mengalami kemalangan. Foto itu pecah, dan ... belum di antarkan lagi. Tapi, orangnya janji mengantarkan foto pernikahan kami. Nanti biar aku dan Mas Rafa yang pasangkan."
"Kasihan sekali fotografernya," ibu Aisyah merasa simpati atas apa yang menimpa pria itu."Ya sudah, ibu serahkan itu pada kalian. Asalkan rumah tangga kamu dan Rafa, ibu do'a kan akan langgang selamanya. Menjadi rumah tangga yang di impi-impikan pasangan lain. Karena keharmonisan, kebahagiaan yang tercipta di dalam rumah tanggamu, nak."
Deg ...
Qenna tidak tahu harus bahagia atau tidak mendengarkan do'a yang di ucapkan Ibu Aisyah. Bagaimana bisa menjadi impian pasangan lain, sedangkan baru saja hendak memulai, semua sudah berakhir lebih dulu. Tanpa Qenna tahu, bagaimana rasa manisnya dalam berumah tangga. Jika di tanya pahitnya, maka Qenna tidak dapat menggambarkan betapa pahitnya penderitaan yang di alaminya.
Qenna menatap nanar pada Ibu Aisyah. Berusaha menahan laju air matanya dengan baik. Tidak boleh setetes air mata pun mengalir di pipinya di hadapan perempuan paruh baya itu. Perempuan yang telah ia anggap sebagai malaikat tak bersayapnya.
Qenna terpaksa mengangguk samar, seutas senyum getir ikut larut menyempurnakan sandiwara Qenna di hadapan Ibu Aisyah.
"Ah iya, ini ibu ada bawakan makana kesukaanmu. Di makan ya, nak. Kamu pasti kangen, kan, masakan Ibu? Mungkin makan kamu nanti banyak. Setelah kamu makan masakan ibu dan kesukaan kamu ini," titah Ibu Aisyah, memberikan kantong plastik putih yanh terdapat makanan kesukaan Qenna.
Qenna membuka kantong plastik itu, melihat makanan yang di bawakan Ibu Aisyah. Seharusnya Qenna sangat senang, dan bau makanan itu seharusnya sangat enak. Saat hidungnya terhidu aroma masakan Ibu Aisyah. Namun, tidak seperti biasanya. Qenna malah merasa perutnya kembali di aduk-aduk. Mencium aroma masakan yang kali itu berbeda. Amis, aroma pertama yang ia cium. Pada hal opor ayamh itu tidak pernah membuat Qenna bosan. Tetapi, entah kenapa ia malah di buat geli dengan ayam opor itu.
Qenna kesulitan menahan mual yang mengaduk-ngaduk perut Qenna. Tidak mungkin ia mengeluarkan suara muntahan itu di hadapan Ibu Aisyah. Saat melihat masakan yang ia bawa. Perempuan paruh baya itu pasti akan tersinggung.
"Uummm ... kayaknya enak sekali, bu. Tapi tidak apa-apa kan, bu, nanti Qenna makan. Soalnya, Qen, habis makan juga tadi," elak Qenna.
"Tidak apa-apa sayang. Kamu simpan dulu, nanti jangan lupa di makan. Hummm, Qen, maaf ibu tidak bisa lama-lama, kasihan adik-adikmu sudah lama ibu tinggalkan. Tapi ibu janji, akan sering ke sini, melihatmu nak," ujar Ibu Aisyah.
"Tidak apa-apa, bu. Qen, tidak marah kok. Terima kasih ya, bu, sudah datang kemari," timpal Qenna, ia sangat senang dengan kunjungan Ibu Aisyah. Meski jantungnya di buat copot dengan pertanyaan Ibu Aisyah mengenai lelaki itu, tetapi tidak bisa di pungkiri. Ia merindukan kehangatan perempuan paruh baya itu. Sebagai pundak tempat ia bersandar.
"Ya sudah, ibu pulang dulu. Assalamu'alaikum,"
"Walaikum salam." Qenna melihat kepergian Ibu Aisyah yang perlahan-lahan menjauh dari sorotan matanya."Maafkan Qenna, bu," lirihnya.
Bersambung ...