Selera yang hilang

1511 Kata
Qenna menggigit roti tawar yang ia oleskan selai kacang. Hanya itu yang bisa masuk ke mulutnya. Opor ayam yang di bawakan Ibu Aisyah, malah membuatnya semakin mual. Hidungnya mencium bau yang sangat amis. Jika di lihat, nampaknya sangat enak. Namun, Qenna di buat tidak tahan dengan bau amis yang terhidu itu. Dari pada tidak di makan, Qenna memberikan pada pemulung yang ada di depan rumahnya tadi. Lebih baik di makan orang lain, dari pada terbuang sia-sia. Sayang, opor ayam yang cukup banyak itu harus berakhir di tempat sampah. Ibu Aisyah sudah bersusah payah membawakan untuknya. Bukan maksud Qenna tidak menghargai pemberian dan maksud baik Ibu Aisyah. Saat ini perutnya benar-benar tidak bisa menerima makanan yang terlanjur berbau amis di hidungnya. Melihat pemulung itu makan dengan lahapnya dengan nasi yang di berikan Qenna, tidak sedikitpun pemulung itu mencium bau amis seperti yang ia rasakan. Pemulung juga mengatakan bahwa opor ayam itu sama sekali tidak amis. Dan opor itu sangat enak. Pemulung sempat menawarkan pada Qenna untuk makan opor ayam yang enak itu. Saat opor itu di kasihkan oleh pemulung padanya, lagi-lagi Qenna menutup hidungnya. Itulah yang membuat pikiran Qenna terganggu. Ada apa dengan penciumannya akhir-akhir ini. Aneh, semua terhidu amis, mulai dari parfum yang mulai tidak ia sukai. Pada hal, Qenna sendiri punya. Namun, tidak di pakai juga. Makanan yang biasa menjadi kesukaannya pun tidak luput untuk ia jauhi juga saat ini. Selera makannya juga berubah, pahit juga terasa di lidahnya. Memakan apa yang menurutnya enak, seperti roti tawar sebagai makanan yang bisa menjanggal perutnya yang lapar. Sesuai anjuran dokter yang memeriksanya di kantor, Qenna juga telah membeli obat yang diresepkan dokter tersebut. Tanpa menaruh curiga apapun, Qenna mengambil meminum obat itu. Setelah beberapa pil masuk ke dalam tenggorokannya, Qenna pergi ke kamar untuk beristirahat. Berharap setelah bangun nanti, tubuhnya terasa sehat lagi. "Wahai tubuh, kamu harus sehat kembali. Kamu harus bertahan hidup dan berjuang lagi untuk menata hidupmu ke depan. Qenna, kamu tidak boleh cengeng, tidak boleh mengeluh. Kamu kuat Qenna, kamu kuat!" Qenna bermonolog dengan dirinya sendiri. *** Armand menutup pintu ruangannya. Melonggarkan dasi bermotif batik melingkar di kerah baju kemeja biru mudanya tersebut. Mendesahkan napas ke udara, capek, lelah, letih dan ... pikirannya masih bertanya-tanya perihal kehamilan Qenna. Apa lagi pertanyaan pada Sindy yang masih menggantung. Mengatakan bahwa Qenna tidak punya suami. Tetapi perempuan itu, di hamil kini. Tidak mungkin seorang perempuan hamil seorang diri, jika tidak bersentuhan dengan pria. Armand mendarat duduk di kursi kerja, sembari memutar-mutarkan kursi tersebut."Kenapa aku harus memikirkan dia? Ah, sudahlah ... tidak semua urusan orang kita ketahui. Ada privasi masing-masing." Armand memutuskan untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Tetap saja sama, ia masih mengingat wajah pucat Qenna. Armand mengalihkan sebentar pikirannya dari kerja. Membuka sosial media, jari jemari Rendra iseng mencari nama Qenna. Tidak lama kemudian, sederatan nama perempuan itu bermunculan beserta profilnya. Armand mengamati satu persatu foto profil tersebut. Hingga tepat barisan ke enam, ada profil yang mirip dengan Qenna. Armand buru-buru membuka foto profil itu. Benar saja, itu memang Qenna. Armand tidak dapat melihat lebih jauh. Album foto perempuan itu. Sebab, mereka tidak berteman. Armand menimang-nimang sesaat, sedetik kemudian pria itu follow akun Qenna. Ia penasaran mungkin dengan berteman Armand bisa melihat koleksi foto perempuan itu. Mungkin Armand akan mendapat petunjuk, Qenna ada dekat dengan lelaki lain atau tidak. Armand menyanggah bahwa ada perasaan aneh di hatinya. Ia kepikiran perempuan itu lantaran karyawannya, bekerja di kantor ini. Merasa bertanggung, untuk membantu Qenna menemukan pria yang telah membuatnya hamil. Sebab, Armand berpikir pria yang telah membuat Qenna hamil pergi tanpa bertanggung jawab. Suara pintu terbuka terdengar, Armand seketika menoleh. Ia gelagapan untuk segera keluar dari pencarian nama Qenna di layar komputernya tersebut. Agar Hans tidak melihat apa yang sedang ia cari. "Ada apa, Han?" tanya Armand, pada pria dengan jabatan sekretaris itu. Hans menarik kursi di hadapan Armand. Mengangkat kakinya sebelah. Berhubungan sebentar lagi jam pulang kantor, Hans sudah menganggap sudah di luar jam kantor terlebih dulu. Armand melirik tajam pada kaki Hans yang naik satu."Turunkan kakimu! Masih beberapa menit lagi. Sopan santun kamu kemana?" Hans terkekeh."Sudahlah, tinggal beberapa menit lagi. Lagian juga tidak ada pekerjaan yang lainnya." "Jangan terlalu memikirkan perempuan itu. Mungkin dia sudah punya suami. Makanya dia hamil," terka Hans langsung."Tidak baik juga, kan berpikiran buruk padanya. Hamil di luar nikah. Aku rasa dia perempuan baik-baik." Sebab di saat melakukan pertemuan dengan klien tadi secara mendadak, Armand tanpa sadar bergumam, namun terdengar jelas di telinga Hans yang tidak jauh darinya. Membuat Hans mengerutkan alisnya, menatap heran pada Armand. Armand mengatakan, bahwa ada yang aneh dengan Qenna dan dia siap mencari tahu tentang perempuan itu. Tentu saja itu menarik perhatian Hans. Dalam meeting, masih sempat-sempatnya Armand mengingat kehamilan Qenna. Pada hal itu semua bukan urusan penting bagi sahabatnya itu. Kecuali, Armand telah menaruh hati pada Qenna, dan kehamilan itu menjadi hal yang penting baginya. "Apa sih? Sok tahu jadi orang! Siapa juga yang memikirkannya?!" elak Armand, sembari memperbaiki tempat duduknya. Kegelisahannya itu caranya untuk meleburkan perasaan gelagapan dari Hans. Sahabatnya itu seolah membaca baik pikirannya. Hans tertawa lebar."Masih juga kamu ngelak?! Eh ... aku dengar apa yang kamu bilang pas kita meeting tadi." "Aku harus mencari tahu tentang perempuan itu," Hans memperagakan apa yang di ucapkan Armand ketika meeting. Kata-kata yang tertangkap di telinganya. Armand meneguk saliva, memang benar yang di katakan Hans. Ia memang mengatakan hal itu. Armand tidak menyangka ternyata di tangkap oleh Hans."Jangan berpikiran aneh-aneh. Dia itu bekerja di sini. Mungkin ada yang berniat jahat padanya. Di kartu pengenalnya, di sana tercantum belum menikah." "Lalu? Apa hubungannya sudah nikah atau belum?"Hans mengedikkan alisnya."Jangan-jangan kau menyukainya lagi." "Jangan asal bicara! Nanti di dengar orang lain, yang ada fitnah!" Armand menutup layar komputernya. Membereskan berkas-berkas di meja, ia bersiap untuk pulang. "Ngomong-ngomong siska apa kabarnya dia?" Hans mengusik mantan istri Armand itu. Begitu cepat Siska melupakan Armand dan bersenang-senang dengan pria yang di cintainya. "Lama-lama aku lihat, mulutmu itu sudah kayak emak-emak berdaster! Suka gosipi orang saja! Gak usah mengurus urusan orang lain. Atur aja hidupmu yang tidak memiliki pasangan," sembur Armand. Ia berdiri dari kursi kerjanya. Melangkah keluar dari ruangan, tidak lupa tas jinjing di tangannya. Hans juga beranjak dari kursi. Ia tidak ingin ketinggalan jejak Armand. *** Qenna masih uring-uringan di tempat tidur. Tadinya Qenna berpikir, setelah ia bangun tubuhnya akan kembali sehat. Namun, tetap saja. Malah kini ia tidak mau beranjak dari tempat tidur. Rasanya sangat malas untuk membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Qenna ingin menempel terus di tempat tidur. Benda pipih di tangannya saat ini bagaikan mainan yang sangat ia butuhkan. Baterainya yang penuh, dan paket datanya juga ada, menambah Qenna tidak ingin bangkit dari tidurnya itu. Getaran ponsel membuat Qenna menyeringitkan alis di depan layar ponsel yang menyala. Ada panggilan masuk ke ponselnya itu. Tidak lama kemudian menampakkan nama si pemanggil. "Sindy," seru Qenna, ia mengangkat panggilan itu. "Bagaimana kabarmu, Qen? Sudah membaik?" tanya Sindy di balik ponsel. "Pusingnya sih hilang, Sin, tapi mual, tubuh lelah, capek masih terasa," ujar Qenna, mengatakan apa yang masih ia rasakan pada tubuhnya yang kurang sehat. "Hummm ....kamu jadi beli obat?" "Jadi ... Sudah aku minum juga, Sindy," timpal Qenna."Tadi, Bu Aisya datang kemari. Dia bawa opor ayam untukku." "Wahhhh ... pasti makan kamu sangat lahap makannya. Opor ayam, kan, kesukaanmu ...." kelakar Sindy, ia tahu makanan yang di sukai Qenna. Perempuan itu sering mengatakan bahwa masakan opor ayam bu Aisyah tidak ada duanya. "Seharusnya gitu sih, Sin" Qenna cemberut."Tapi, untuk pertama kalinya aku tidak suka opor ayam. Tapi sindy, kamu tidak boleh katakan ini pada Bu Aisyah, ya? Aku takut dia marah nanti. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai masakan bu Aisyah. Sungguh, rasanya aneh sekali. Dan setiap melihat opor ayam itu, malah perutku di aduk-aduk. Apa karena aku lagi tidak enak badan?" "Itu bawaan hamil, Qen. Bawaan si cabang bayi yang tengah tumbuh di rahimmu." Batin Sindy pilu. "Mungkin! Kalau memang tidak bisa makan itu, lebih baik jangan di buang. Kasih tetangga saja. Kamu juga dapat pahalanya," hanya itu yang bisa Sindy sampaikan. Pada hal sebelum ia menghubungi Qenna, Sindy ingin membahas kehamilan itu. Lidah Sindy seketika kelu, tidak mampu untuk mengatakan kehamilan Qenna. Tentu saja yang di rasakan Qenna saat ini, adalah dampak dari awal kehamilan Qenna. Tidak semua perempuan hamil mempunyai ngidam yang sama. Setiap orang berbeda-beda. Ada yang hamil tidak merasakan apapun. Enak makan, enak tidur. Tetap melakukan aktifitas, tanpa kendala. Ada yang tidak mau beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya tidak berdaya, selera makan juga hilang. Setiap makan, keluar lagi. Begitu juga dengan kehamilan Qenna. Ia harus merasakan mual, pusing, tidak selera makan, bau-bau yang amis. Kehilangan selera makan, kini malah tidak mau bangun dari tempat tidurnya. Wajah Qenna sangat pucat. Di hidup sendirian di rumah kontrakan. "Aku sudah kasih ke pemulung. Tapi yang anehnya, pemulung itu tidak sedikitpun merasa mual. Katanya malah opor ayam sangat enak. Tidak ada berbau hamis. Kan, aneh?! " kesal Qenna, pada hal opor ayam sampai harus bertengkar dengan Sindy tergelak."Qenna, Qenna ... namanya juga kurang sehat. Selera makan kamu juga ikut terganggu. Aku yakin kalau kamu sudah sehat lagi, opor ayam itu akan tetap menjadi kesukaanmu." Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN