Setelah bertukar suara dengan Sindy. Qenna masih juga tidak beranjak dari tempat tidur. Masih berkelana dengan ponselnya. Membuka sosmed kembali. Satu persatu status yang lewat di baca oleh Qenna. Hingga lewat artikel yang memperlihatkan seorang ibu membuang anak kandungnya sendiri.
"Kasihan sekali bayinya. Kenapa tega sih, orang tuanya membuang bayi sendiri," umpat Qenna, bermonolog dengan dirinya sendiri.
Seketika air wajah Qenna berubah sendu. Begitu tega orang tuanya membuang bayi tak berdosa itu. Banyak di luar sana menginginkan malaikat kecil itu di tengah keluarga kecil mereka. Namun, takdir berkata lain. Ada sebagian mereka di uji masalah anak. Sampai bertahun-tahun, melakukan pengobatan kesana kemari, baru mendapatkan anak.
Sedangkan yang mudah, malah di buang seperti boneka. Melakukan perbuatan tanpa memikirkan ke belakangnya. Setelah di beri, dan berkembang di dalam janin, lalu di lahirkan. Perbuatan ibu dari sang anak itu lebih kejam dari binatang.
Seketika Qenna menitikkan air mata. Ikut sedih atas nasib malang yang di terima oleh bayi itu. Bayi yang tak di inginkan kehadirannya. Hingga nyawanya kembali ke sang maha pencipta.
"Kasihan kamu, nak. Sayang ... aku pikir akan mendapatkannya juga setelah menikah dengan Mas Rafa. Di panggil Mama dan Papa, membesarkan secara bersama sampai menua nanti. Jangankan punya anak, lelaki itu malah pergi tanpa menampakkan hidungnya lagi." Gumamnya.
Hoekkkk ... Hoeekkk
Suara muntahan itu kembali keluar secara tiba-tiba. Lagi-lagi Qenna merasakan perutnya di aduk-aduk bergejolak hendak naik ke permukaan. Qenna berlari ke kamar mandi, sambil membekap mulutnya.
"Hoeekk ... Hoeeekk ..."
Cairan bening kental keluar dari mulut Qenna. Mulutnya terasa pahit, dan asam. Setelah mengeluarkan muntahan itu. Qenna mencuci wajahnya dan mulutnya. Rasanya begitu lemas ketika mengeluarkan muntahan tersebut. Qenna memegangi perutnya, masih berdiri di depan kamar mandi.
"Aku kenapa? sudah minum obat. Tapi kenapa masih mual. Apa karena baru sekali? Ah iya, ini kan sudah lama juga dari minum obat sebelumnya. Ya sudah, aku akan minum lagi obatnya," Sisil melangkah ke dapur. Mencari obat yang roti tawar lagi. Hanya itu yang dapay masuk dalam perutnya. Lantaran hidungnya saat ini sangat tajam dengan bau-bau amis.
Saat beberapa gigitan berhasil lolos dari mulutnya, seketika Qenna merasa mencium aroma parfum Rafa. Ia tiba-tiba ingin mencium aroma tubuh pria itu. Bau keringat yang khas darinya. Meski satu malam keringat mereka berbaur, entah kenapa Qenna menginginkan bau tubuh pria yang kini tidak lagi bersamanya.
"Kok bau parfum, Mas rafa?" Qenna melirik ke sana kemari."Bau keringatnya juga."
"Mana mungkin dia ada di sini? Barang-barangnya juga sudah di buang. Tapi, kok ... Aneh, sih!" ulasnya.
Qenna kebingungan. Tiba-tiba saja hidungnya mencium aroma lelaki itu. Memang Qenna masih mengingatnya. Sebab, melupakan itu memang tidak mudah. Tidak semudah mengukir kenangan. Tetapi, selama Qenna menyibukkan diri dengan bekerja, hatinya sedikit membaik. Tidak terlalu mengingat Rafa lagi.
Jika bau parfum orang lain membuat Qenna mual dan pusing. Namun, aroma parfum yang tiba-tiba tercium itu sangat menenangkan perut Qenna dari rasa mual.
"Ah, ini halusinasi aku saja." Qenna beranjak dari kursi. Mengambil obat untuk ia minum. Berharap besok tubuhnya akan membaik.
Setelah selesai, Qenna kembali ke kamar. Mengambil ponsel yang tergeletak di tempat tidur. Sebuah artikel kembali lewat di sosmed yang belum di keluarkan oleh Qenna.
"Ciri-ciri awal kehamilan?" gumam pelan Qenna. Tulisan itu membuatnya perempuan itu tertarik untuk membuka."Buka saja kali ya, setidaknya untuk diriku sendiri."
Qenna pun memutuskan untuk membaca artikel itu. Tidak lama kemudian halaman artikel itu terbuka. Satu persatu tulisan di dalam artikel itu di baca, tepatnya pada ciri-ciri kehamilan. Selesai membaca, Qenna terdiam. Sebagian yang ia baca itu di rasakan oleh dirinya sendiri. Akhir-akhir ini tubuhnya merasakan hal yang sama dengan artikel yang ia baca. Mual, pusing, hidung yang mencium bau sensitif. Mudah lelah dan ngantuk.
Sontak saja, Qenna baru ingat bahwa bulan ini di belum juga datang bulan. Bahkan sudah telat seminggu dari tanggal biasanya. Qenna tertegun, pikirannya kalut memikirkan hal yang berasa mimpi. Bukan, lebih tepatnya belum siap menerima kenyataan pahit lagi dalam hidupnya.
Entah bagaimana ia harus menerima kenyataan pahit itu. Haruskah dia bahagia? Atau menjadikan hamil itu masalah baru dalam hidupnya. Jika ia benar-benar hamil, apa lagi yang akan ia hadapi nanti?
Qenna mengusap wajahnya. Degup jantungnya terpompa lebih cepat. Keringat dingin pun ikut bercucuran."Tidak! Aku tidak mungkin hamil. Lagi pula hanya sekali, tidak mungkin langsung hamil."
"Tapi ... Kalau benaran hamil bagaimana?"
Qenna berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Pikiran kalut, gelisah, takut pun ia rasakan. Baru saja ia mengumpat kata-kata pada orang tua yang membuang bayinya. Kini masalah itu seakan menimpa dan termakan omongan sendiri.
Qenna mengambil ponselnya lagi. Menghubungi Sindy, salah satu orang yang berada di ruangan direktur ketika itu. Tidak mungkin Qenna bertanya pada sang direktur. Yang ada Qenna merasa malu, jika dokter yang memperiksanya ternyata mendiagnosanya hamil. Sedangkan ia tidak memiliki suami, statusnya pun sebagai janda.
Janda yang sempat merasakan hubungan suami istri, dan hangatnya berbaur keringat. Sampai detik ini pun bekas itu masih terasa. Hanya pada Sindy, orang yang tepat untuk menanyakan hasil dari periksa dokter.
Terdengar berdering. Menandakan panggilan itu masuk ke ponsel Sindy. Tetapi seketika panggilan itu di matikan kembali. Qenna tampak ragu menanyakan pada Sindy. Kalau seandainya pemeriksaan dokter tidak hamil, bagaimana? Sebab, Sindy mengatakan bahwa ia hanya kecapean saja. Tidak mungkin juga Sindy berbohong. Itu yang membuat Qenna meragukan untuk bertanya.
Qenna duduk di sisi tempat tidur. Raut wajahnya sembraut, pikirannya tidak tenang. Ponsel yang ada di sebelahnya tiba-tiba berbunyi, Qenna menoleh melihat panggilan itu dari Sindy.
"Assalamualaikum, Sindy," ucap Qenna pelan.
"Walaikum salam Qen, ada apa menelpon aku tadi? Maaf, aku sedang keluar beli makanan,"
"Tidak ada, Sin. Tidak sengaja ke pencet tadi."Elak Qenna, berbohong.
"Oh ... aku pikir memang mau menghubungiku tadi. Soalnya, ponselku tinggal. Lagi dii charger,"
"Enggak kok. Aku yang salah. Sin, udah dulu ya, aku ngantuk. Assalamualaikum," Qenna tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. Apa lagi mengatakan hal yang sedikit tabu masalah kehamilan ini pada Sindy.
"Walaikum salam," timpal Sindy, dari balik ponsel.
Qenna menarik tubuhnya, bersandar pada sandaran tempat tidur. Pikirannya benar-benar kalut. Namun, ada satu hal untuk membenarkan dia hamil atau tidak. Sebelum ia memperiksakan ke dokter spesialis kandungan.
"Aku harus membelinya besok. Semoga semua ini tidak benar. Semoga aku benaran tidak hamil. Bukan tidak ingin memiliki anak, tapi ..." Qenna mendesahkan napasnya ke udara. Mengingat lelaki itu telah menceraikannya dan menikah dengan perempuan lain. Apa lagi Mama Jamilah tidak menyukai dirinya."Apa mungkin Mas Rafa mempercayaiku nanti? Hanya dengan Mas Rafa aku melakukan ini. Tidak ada pria lain yang menyentuhku, selain Mas Rafa."
***
Di dalam kamar mandi. Qenna menatap lama pada benda tipis panjang yang sedang di pegang oleh tangannya. Dengan tubuh gemetar, harap-harap cemas menunggu sepersekian detik untuk mendapati hasilnya. Meski ini bukanlah test pack yang mahal, tetapi perempuan itu membeli dua sekaligus.
Dan memasukan ke dalam wadah kecil langsung ke duanya, yang telah terkumpul cairan urine. Perlahan cairan merah itu naik ke atas. Hingga mulai tercipta garis satu. Mata Qenna tidak berkedip, tidak mengalihkan sedikitpun dari test pack tersebut.
Tidak lama kemudian mata yang semenjak tadi mematri lekat, kini berubah dengan tatapan nanar. Dengan cairan bening menumpuk di bagian bawah kelopak matanya. Matanya berkaca-kaca, degup jantungnya semakin kencang, namun tubuhnya melemah. Lututnya seolah tak bersendi, tidak mampu berdiri terlalu lama. Rasanya bumi sedang bergetar, membuat Qenna kehilangan keseimbangan untuk berdiri. Hingga membuat Qenna tersandar ke dinding kamar mandi.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Qenna berusaha menyanggah. Bahwa semua yang terjadi berharap adalah mimpi buruk. Ia harus terbangun secepatnya dari mimpi buruk yang sedang menghantui hidupnya."Ini pasti mimpi! Iya ... Ini hanya mimpi!" sanggahnya.
"Qenna, kamu harus bangun!"imbuhnya kemudian.
Qenna menampar-nampar pipinya. Lalu, ia kembali melihat pada tersebut. Matanya masih sama mendapati garis merah tersebut. Tidak ada yang berubah, bahkan garis itu kini tercipta semakin jelas. Sebab, dari keterangan yang di baca lebih dulu oleh Qenna pada kemasan test pack tersebut, memberi penjelasan bahwa dua garis merah itu menandakan positif bahwa sang pemakai benda itu, sedang hamil. Dan orang yang sedang hamil itu ialah Qenna. Sekaligus benda pipih itu terdapat dua garis merah.
Pipi Qenna terasa perih, panas, setelah dapat beberapa kali tamparan oleh tangannya sendiri. Tetapi, semua tidak merubah apapun dari benda pipih panjang itu. Manik matanya masih mendapati dua garis. Qenna mencubit lengannya kuat-kuat. Sehingga memerah, bahkan merahnya itu sampai kebiruan. Tidak cuma satu kali juga, tiga kali ia melakukan. Tetap saja sama, tidak merubah apapun.
Tubuh Qenna terpaku, merosot perlahan ke lantai. Terhenyak, benda pipih itu terlempar dari tangannya. Sorotan matanya kosong. Namun, buliran bening mulai menerjang di pipinya.
"Aku tidak mungkin hamil!" ucapnya lirih, isak tangis mulai terdengar dari kerongkongan Qenna. "Tidak mungkin! Tidak mungkin!!"pekiknya.
Qenna menekuk lututnya. Tangannya berlipat di atas lutut. Qenna mengepalkan tangan, suara tangisan itu tidak mampu ia bendung. Perempuan itu sangat kebingungan, harus bagaimana dengan janin yang ada dalam kandungannya ini.
Ia tidak ingin, janin di dalam kandungannya ini tumbuh menjadi seorang anak tanpa kasih sayang ayahnya. Terlebih, ayah dari calon bayi ini telah menggugat cerai Qenna. Jika dia dalam keadaan hamil ini, tentu saja mereka tidak sah bercerai. Ada janin yang mengikat mereka.
Qenna benar-benar hancur rasanya. Baru saja ia hendak bangkit, dan menata hidupnya kembali. Ia malah terombang-ambing lagi oleh cobaan baru yang ia hadapi. Terlepas dari rasa sakit di tinggalkan sesudah melalui malam tanpa kejelasan apapun, kini Qenna harus mengandung benih cinta saat malam pertama mereka.
Bersambung ...