Qenna turun dari mobil, tubuhnya terasa lemas. Melangkah gontai memasuki rumah. Wajah-wajah orang yang menyakitinya berterbangan membahana. Jawaban yang ia dapati hari ini cukup membuat hidupnya terpuruk. Pintu terbuka, Qenna duduk di kursi dengan tubuh tidak mampu lagi berdiri lama. Matanya terpejam lelah. Tenggorokannya juga terasa kering, haus. Ingin ia mengambil segelas air putih, tetapi kakinya belum kuat untuk di gerakkan. Setelah dua jam lamanya duduk di kursi, dan Qenna malah tertidur pulas dengan posisi terduduk, kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Perlahan mata Qenna mengerjap, memisahkan kelopak matanya yang sembab dan layu. Manik matanya menelisik dalam rumah. Menyadari bahwa dirinya telah berada di rumah, seorang diri. Qenna meringis kesakitan pada kepalanya. Saat ia mu

