Qenna tidak ingin meladani manusia tidak punya hati itu. Ia memilih untuk keluar dari rumah neraka tersebut. Pria pengecut--Rafa, hanya bisa memandangi Qenna seperti patung mati. Benar, patung mati! matanya bergerak, bibirnya bungkam. Dengan langkah gontai, Qenna mengayunkan kakinya keluar dari rumah Rafa. Rafa ingin mengejar Qenna, namun tangannya di tahan oleh Mama Jamilah. Bola matanya melototi Rafa, Mama Jamilah menarik tangan Rafa ke dalam rumah. Membiarkan Qenna menangis meratapi nasib anak yang ia kandung. Ayah biologisnya tidak mau mengakui si cabang bayi. "Ma, kalau itu benaran anak Rafa bagaimana?" protes Rafa kesal pada sang Mama. "Kamu itu bodoh atau bagaimana sih? Ha? Itu tidak mungkin anakmu. Kamu meninggalkan dia di hotel seorang diri, mungkin saja ia melakukannya dengan

