Sesampainya di rumah, Qenna melangkah masuk ke rumah dengan tubuh lelah. Hati yang masih terguncang, ia mendarat duduk di kursi dengan kepala tersandar lelah di punggung kursi. Matanya terpejam keatas, helaan napas ikut menyesak di dadanya. 'Kenapa ini semua menimpa hidupku? Aku ikhlas untuk membesarkan bayi ini seorang diri, tapi jangan ada fitnah lagi." Lirih Qenna dalam hati. Baru saja ingin melepaskan gumpalan napas berat di dadanya, Perempuan itu terpaksa membuka matanya saat ketukan pintu terdengar. Qenna melirik ke arah pintu, bertanya-tanya siapa yang datang di saat matahari sudah terbenam dan rembulan mulai merangkak naik. Apa lagi di tambah, guyuran hujan yang mulai turun. "Ya, tunggu sebentar!" ujar Qenna, seseorang di luar sana terus menggedor pintu. Seakan tidak sabar menun

