"Ya sudah, terima kasih infonya," Mama Jamilah menutup sambungan telepon. Pikirannya berkecamuk. "Ini tidak bisa di biarkan. Perempuan itu tidak boleh ada di kota ini. Lihat saja apa yang bisa aku perbuat untuknya." Di sisi lain ... Qenna turun dari bus. Berjalan menuju rumahnya. Awan kelabu tua nan mendung masih betah berada di atas sana. Seakan masih ada setumpuk air hujan yang belum di selesaikan mengguyur bumi pertiwi. Rasa dingin menyentuh kulitnya membuat Qenna buru-buru membuka pintu rumah. Membuang pikiran berkecamuk, Qenna merebus air panas untuk ia mandi. Beberapa menit menunggu air panas itu, akhirnya mendidih juga, dan Qenna segera meletakkan pada baskom yang sudah tersedia. Selesai mandi, Qenna keluar dengan tubuh kembali segar. Setelah memakai baju, Qenna keluar dari ka

