Setelah Mas Aska pergi aku kembali ke kamar kos. Rasa sesak di d**a membuat air mataku tidak bisa berhenti menetes. Untuk kedua kalinya aku kembali merasakan patah hati gara-gara Mas Aska. Jika dulu hatiku sakit karena dijauhi Mas Aska dan dia juga tidak memberitahuku saat pindah ke luar negeri, sekarang hatiku sakit karena dia memarahi dan menyalahkanku. Padahal dia tahu Bima hanya membantuku, apakah itu salah? Aku merasa sangat bodoh karena dipermainkan olehnya. Mengapa dia begitu tega memanfaatkanku? Setelah lama merenung akhirnya aku menyadari sepertinya memang aku yang salah. Aku terlalu bodoh dan mudah luluh sehingga mau menjadi pacar pura-puranya. Sekarang gara-gara aku keadaan menjadi rumit. Tidak salah jika tadi Mas Aska menyebut bahwa aku mengacaukan semuanya, harusnya sejak

