Hari ini suasana kantor terasa seperti biasa—sibuk, tapi terkendali. Para karyawan sibuk di meja masing-masing, mengetik laporan, berdiskusi dalam rapat kecil, atau sekadar mengobrol santai di pantry. Namun, kehadiran seorang pria tua dengan setelan abu-abu elegan dan tongkat kayu hitam segera menarik perhatian banyak orang. Kakek Bagaskara datang ke kantor dan para karyawan menyambutnya. Jantungku berdebar takut. Aku tidak berani beranjak dari meja kerjaku karena takut bertemu kakek Mas Aska, semoga saja beliau tidak menghampiriku ke ruangan ini. Aku benar-benar risau, takut Kakek Bagaskara membongkar hubungan sandiwaraku dengan Mas Aska pada seluruh karyawan kantor lalu dia juga menghinaku. Agar berhenti merasa cemas aku berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan. Saat aku sedang fokus

