Aku menunduk malu. Pasti Mas Aska menatapku karena lucu. Baju pria itu sungguh kebesaran di badanku, tanganku bahkan sampai hilang. "Kenapa, Mas?" "Nggak ada apa-apa." Keningku berkerut, kenapa pria itu malah kelihatan kikuk? Dia segera mengalihkan pandangannya dariku. "Mas Aska masak apa?" "Nasi goreng." "Mau aku bantuin?" "Tidak usah, tunggu saja di meja." "Mas sejak kapan pandai masak?" Mas Aska menarik napas panjang, mungkin kesal karena aku tidak menurut dan masih merecokinya di dapur. "Saat tinggal di Singapore aku sering masak sendiri. Jika kamu tidak mau duduk tolong aku kupas bawang." "Siapa, Pak Bos!" Aku melakukan posisi hormat lalu segera melaksanakan perintah. Selesai mengupas bawang aku memotongnya sekalian. "Tolong ambilkan garam!" lerintah Mas Aska lagi. "Di

