Arya sudah tiba di rumah Nadin. Semuanya menyambut kehadiran Arya saat itu juga. "Jadi kamu calon tunangan putriku?" Tanya Hendri. Nadin melihat sosok Fathan yang berlari di dalam rumah. "Diam." Ucap Nadin dengan suara lantangnya. Mendengar itu semua menatap Nadin. "Maksudnya Pak Arya jangan diam aja. Jawab." Ucap Nadin. Sosok Fathan malah tertawa melihat Nadin yang mencoba berbohong. "Iya, Pak. Saya Arya, calon tunangan sekaligus dosennya Nadin." Ucap Arya menjelaskan. "Iya, aku sudah banyak dengar tentang kamu. Apa kamu benar-benar serius dengan putriku?" Tanya Hendri memastikan. Dia tak mau jika Arya nantinya hanya mempermainkan Nadin. "Iya, Pak. Tentu saja." Jawab Arya. Fathan mulai menjahili Papa Nadin. Dia mulai menjatuhkan Vas bunga yang ada di atas meja. Untung saja vas b

