Nadin sungguh gelisah dalam tidurnya. Beberapa kali mimpi itu terjadi. Bahkan tanpa ia sadari, keringat mengucur dari sekujur tubuhnya. Dan mimpi yang seperti nyata itu kembali hadir. Mimpi jika dirinya itu tenggelam dan ada satu tangan yang telah menarik dan menyelamatkan hidupnya. Nadin terbangun dengan nafas yang memburu. Jantungnya bahkan masih berdegup kencang. Menandakan jika dirinya sungguh hanyut dalam mimpi yang mencekam itu. Nadin melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul dua belas malam. Nadin merasa haus dan keluar dari kamarnya. Dia menuju ke lemari es yang ada di dapur. Meneguk segelas air dingin untuk sekedar mendinginkan kepalanya. "Kenapa, Pa? Kenapa Papa berubah? Siapa wanita itu?" Tanya Sisi. "Papa gak pernah berubah, Ma." Ucap Hendri. Nadin mendengar j

