Nadin segera beranjak memasuki rumah itu. Mencari keberadaan Meli di sana. Dia melihat Meli sedang melayang. Menatap Nadin lalu menangis. Seakan meminta bantuan padanya. "Nadin, tolong aku." Ucap Meli. Nadin menatap sosok wanita yang ingin menyakiti Meli. "Hentikan. Jangan lakukan itu." Kata Nadin. Sosok itu menoleh pada Nadin. Menatapnya dengan tatapan tajam. "Perempuan ini sudah diserahkan untuk menjadi tumbal ku." Jawab Nyai. "Nyai Ajeng. Jangan lakukan itu. Apa gunanya kamu menjadikannya tumbal?" Tanya Nadin. "Aku memberikan kekayaan pada siapa yang menyembahku." Jawabnya. "Karena apa? Karena kamu merasa dendam, kan?" Tanya Nadin. "Dia adalah keturunan lelaki biadab itu. Lelaki yang telah membunuhku." Kata Nyai. Mendengar itu Nadin terkejut bukan main. Tak menyangka jika sem

