Bab 11. Buta Selamanya

1191 Kata
Waktu berlalu. Hubungan Abian dan Nada semakin hari, semakin mesra saja. Sikap Abian pun semakin manis pada Nada. Akan tetapi, dibarengi pula dengan sikap manjanya hingga membuat Nada terkadang gemas sendiri menghadapi sang suami. "Malu, ah, Kak. 'Kan ada eyang," bisik Nada menolak ketika sang suami minta disuapi. "Eyang Kakung dan Eyang Uti pasti bisa ngerti, Sayang. Benar 'kan, Eyang?" "Hem ...." Hanya gumaman yang didapatkan Abian dari eyang kakungnya. "Sudah, buruan sarapan! Mau makan sendiri atau mau minta disuapi, terserah." Eyang putrinya berbicara dengan cukup tenang terdengar di rungu Abian hingga membuat pemuda itu tersenyum. Abian mengambil kesimpulan jika sang eyang tak lagi keberatan dengan hubungan mereka berdua. Akan tetapi berbeda dengan Nada yang dapat melihat. Sekilas tadi Ndoro Putri Brata meliriknya dengan tatapan sinis. Wanita belia itu pun mengerti jika eyang putri Abian belum bisa menerima kehadirannya. Ya, ketika mereka tengah sarapan bersama, pemuda itu sengaja meminta disuapi oleh Nada. Abian sepertinya sengaja ingin menunjukkan pada sang eyang jika dia nyaman bersama istrinya dan mereka berdua takkan terpisahkan. "Mau nambah, Kak?" tanya Nada, setelah isi piringnya habis tanpa sisa. Ya, Nada akhirnya mau tak mau menuruti keinginan sang suami karena tak ingin ada perdebatan di meja makan. "Cukup, Sayang. Tapi, kalau kamu belum kenyang, nambah aja. Aku masih mau jika untuk menemanimu." "Nada juga udah kenyang, Kak." Melihat kemesraan sepasang muda-mudi di hadapan, Ndoro Brata terlihat acuh saja. Berbeda dengan istrinya yang nampak tidak suka. Namun, Ndoro Putri Brata tidak dapat mengintimidasi Nada untuk saat ini karena Abian terus saja menempel, ke mana pun Nada pergi. "Ke mana rencana kalian, setelah sarapan?" tanya Ndoro Putri Brata. "Apa kamu akan ajak suami kamu keliling kebun teh lagi?" lanjutnya sembari menatap Nada dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kalau Nada, terserah Kak Bian saja, Eyang," balas Nada yang kini sudah memanggil eyang pada kedua eyang Abian, seperti permintaan pemuda itu. Meski awalnya Ndoro Putri Brata merasa keberatan, akhirnya membiarkan saja Nada memanggil demikian. "Bian mau di rumah saja, Eyang. Pengin berduaan saja, sama istri Bian." Abian lalu memeluk bahu Nada. "Ya, sudah, terserah kalian saja." Ndoro Putri Brata segera beranjak, mengikuti sang suami. "Apa belum ada kabar dari Dokter Tyas untuk Bian, Bu?" tanya Ndoro Brata pada istrinya, setelah kedua eyang Abian berada di ruang keluarga. "Belum, Pak. Mudah-mudahan secepatnya." "Apa kamu benar tidak bisa menerima gadis itu?" "Bapak ini nanya apa, tho? Sudah jelas-jelas dari awal ibu itu terpaksa menikahkan cucu kita dengan anaknya pemabuk dan penjudi seperti Nada, tapi kenapa Bapak masih saja bertanya?" "Ya, siapa tahu saja pandangan Ibu terhadap Nada berubah, setelah mengetahui sifat baik anak itu. Apalagi, Abian sepertinya benar-benar menyayangi Nada, Bu." "Halah, Pak! Dia seperti itu 'kan karena ingin mengambil simpati kita! Nanti juga kalau dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, sifat aslinya bakalan ketahuan!" Ndoro Putri Brata terdengar sangat sinis jika membahas tentang Nada. "Sampai kapan pun, ya, Pak, ibu itu tidak akan pernah setuju jika Bian bersama anaknya Mulyono! Sudah bapaknya pemabuk dan penjudi! Ibunya, hanya buruh kasar di tempat orang! Belum lagi kakaknya Nada yang kabarnya mau dibayar untuk memuaskan hasrat liar para lelaki hidung belang!" Ndoro Brata hanya menanggapi perkataan sang istri dengan anggukan kepala. Sebenarnya, laki-laki berusia senja itu sudah mulai bersimpati dengan Nada, setelah melihat sendiri bagaimana wanita belia itu memperlakukan sang cucu, dan melihat sikap Abian yang sangat manis pada Nada. Hanya saja, saat ini beliau sedang malas berdebat dengan istrinya. Jadi, Ndoro Brata memilih untuk diam saja. Sementara di dalam kamar Abian, pemuda itu kembali merayu-rayu istrinya agar mau diajak kembali untuk terbang ke puncak nirwana. Rasanya, tidak cukup bagi Abian jika hanya menyatu dengan sang istri di malam hari saja. Pemuda itu ingin terus mengulangnya, lagi, dan lagi. Bagi Abian, tubuh sang istri sudah selayaknya candu yang ingin dia nikmati setiap waktu. "Rambut Nada aja belum kering, Kak," protes Nada ketika Abian mulai melucuti pakaian Nada. "Nanti aku bantu keringkan, Sayang." Pemuda itu benar-benar tidak dapat dicegah jika sudah memiliki keinginan. Sifat keras kepala Abian, sepertinya menurun dari sang eyang putri yang tidak mau menerima penolakan. Nada pun akhirnya kembali pasrah dan menuruti keinginan sang suami, yang sebenarnya juga sangat dia nikmati. Kembali, sepasang suami-istri yang tengah dilanda asmara itu bergumul, dan menciptakan hawa panas di kamar luas milik Abian. Hawa yang berbanding terbalik dengan keadaan di luar sana yang masih terasa dingin karena pagi ini kabut turun menyelimuti kawasan perkebunan. Suara-suara syahdu pun menggema, memenuhi seisi kamar, dan semakin membangkitkan gairah Abian yang sedang memacu istrinya untuk bersama-sama terbang menggapai puncak kenikmatan. "Terima kasih, Sayang. Aku akan selalu mengingat setiap momen indah kebersamaan kita," kata Abian, setelah melabuhkan kecupan di kening Nada. "Terima kasih juga karena kamu telah menghadirkan hari-hari yang indah untukku," lanjut Abian. Ya. Bagi Abian, kehadiran Nada bagai pelangi setelah hujan badai yang menerpa dalam kehidupannya. Nada mampu menerangi kehidupan Abian yang sebelumnya gelap gulita, setelah pemuda itu kehilangan penglihatan. Bersama Nada, Abian seolah dapat kembali menikmati keindahan dunia dan seisinya. Nada yang lembut dan dengan kelembutannya itu mampu menenangkan Abian dan meredam emosi pemuda tersebut yang meluap-luap. Seiring berjalannya waktu dan seringnya kebersamaan dengan Nada, membuat Abian menjadi pribadi yang sedikit lebih ramah, dan peduli dengan orang lain. Terutama kepada para pekerja, baik di kediaman keluarga Ndoro Brata maupun di perkebunan. Tangan Abian kemudian terulur dan meraba wajah sang istri dengan segenap perasaan. "Kamu cantik sekali, Sayang. Rasanya, aku sudah tidak sabar ingin bisa melihat kembali." Mendengar perkataan sang suami, Nada pun menghela napas panjang hingga membuat Abian melontarkan pertanyaan, "Kenapa, Sayang?" "Sejujurnya, Nada juga senang jika Kak Bian bisa melihat kembali. Tapi ...." "Tapi apa, Sayang?" "Nada takut jika nanti Kak Bian bisa melihat lagi lalu Kakak menyaksikan sendiri seperti apa wajah dan penampilan Nada, Kak Bian akan berubah pikiran. Nada takut Kakak akan meninggalkan Nada." Kekhawatiran Nada bukan tanpa alasan. Wanita belia itu sedikit banyak telah mengetahui cerita tentang Abian. Pemuda yang menjadi incaran gadis-gadis cantik di daerah tersebut. Jika Abian bisa melihat kembali, tidak menutup kemungkinan jika pemuda itu akan menendang Nada dari kediaman Ndoro Brata. Apalagi keluarga besar pemuda itu juga tidak mengharapkan kehadiran Nada. Sudah barang tentu, apa yang akan dilakukan Abian terhadap Nada, akan mendapatkan dukungan dari keluarga besarnya. "Sst ... kamu ini bicara apa, Sayang? Aku enggak akan seperti itu! Aku mencintaimu bukan karena penampilan kamu, bukan pula karena wajahmu. Jadi, bisa melihat kembali atau tidak, perasaanku ini tak akan berubah." "Sungguh?" Mendengar pertanyaan sang istri yang terdengar penuh kekhawatiran, Abian lalu memeluk istrinya. "Aku mencintaimu, Nad. Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku belum pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya dan baru kali ini, bersamamu, aku merasakannya." Abian lalu merenggangkan sedikit pelukan dan menangkup kedua sisi pipi Nada. "Jika dengan melihat kembali kamu meragukan cintaku, tak masalah jika aku buta selamanya asal kamu percaya padaku. Percaya dengan perasaanku, Nad. Tak masalah aku tak bisa melihat kembali, asal kamu tetap di sampingku, dan bersedia menceritakan semua keindahan yang kamu lihat. Dan yang terpenting, asal kamu bahagia hidup bersamaku, bersama laki-laki buta sepertiku." "Setelah ini, aku akan telepon Dokter Tyas agar dia mencoret namaku dari daftar calon penerima donor mata. Ya, aku memang lebih baik buta selamanya, Sayang," kata Abian dengan penuh keyakinan. bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN