Bab 10. Tanda Cinta

1562 Kata
"Aduh ...." Suara rintihan kesakitan yang keluar dari bibir Nada, berhasil membangunkan lelapnya tidur Abian. "Ada apa, Sayang? Kamu mau ke mana?" tanya Abian ketika sudah tidak mendapati tubuh hangat sang istri dalam pelukannya. "Nada mau ke kamar mandi, Kak," jawab Nada, setelah mendudukkan dirinya kembali di tepi pembaringan. "Apa sudah tiba waktu subuh?" "Belum, Kak. Baru jam setengah tiga." "Oh, apa kamu mau sholat malam?" tanya Abian kembali. "Iya." "Kalau gitu, ayo, kita mandi bareng!" ajak Abian yang kemudian beringsut mendekat ke arah sang istri, sembari meraba-raba. "Kamu sudah mengenakan pakaianmu kembali, Sayang?" tanya Abian ketika tangannya mendapati tubuh sang istri dan sudah dalam keadaan tertutup rapat. Hanya rambut panjang Nada saja yang masih dibiarkan tergerai, tanpa diikat. "Iya, Kak." "Kenapa, hem? Bukankah nanti kalau mandi juga bakalan dilepas lagi?" bisik Abian bertanya, seraya mengendus aroma tubuh sang istri yang sangat dia sukai. Pemuda itu pun melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Nada. Hal itu sukses membuat Nada kembali meremang. "Memang iya, sih, Kak. Tapi, Nada malu jika harus berjalan ke kamar mandi dalam keadaan polos. Takut Kakak tiba-tiba kebangun seperti ini, lalu mendapati Nada tanpa memakai apa-apa." "Aku 'kan enggak bisa melihat, Sayang. Kenapa mesti malu?" "Tetap aja malu, Kak." Abian tersenyum. Pemuda itu seperti dapat membayangkan jika saat ini, pastilah wajah sang istri telah merona. "Tapi aku lebih suka kalau kamu seperti tadi malam, Sayang," bisik Abian kemudian. Pemuda itu lalu menciumi tengkuk istrinya. "Kak, jangan gini!" tolak Nada sembari mencoba melepaskan tangan Abian, tetapi suaminya itu malah semakin mengeratkan pelukan, dan semakin liar mencumbui istrinya. "Sebentar aja, Sayang." Di saat bibir Abian begitu agresif mencumbui leher bagian belakang istrinya, tangan pemuda itu pun tak kalah aktif mulai membuka kancing piyama Nada. Hanya dalam hitungan detik, baju atasan Nada telah terlepas lalu teronggok di lantai begitu saja. "Aku mau lagi, Sayang. Sekali aja. Kamu tidak keberatan, 'kan?" Nada hanya bisa pasrah ketika sang suami merebahkan kembali tubuhnya di atas pembaringan empuk, tempat mereka berdua semalam memadu kasih. "Nada mandi dulu, ya, Kak. Takut kehabisan waktu sholat malam." Nada segera beranjak, setelah memakai kembali piyamanya yang tadi dilepas oleh sang suami, dan wanita belia itu seketika meringis ketika merasakan kembali perih di area kewanitaannya. Akan tetapi, Nada berusaha menahan agar tidak merintih seperti tadi. Nada tentu malu jika sampai sang suami mengetahuinya. Ketika Nada baru saja memberanikan diri untuk melangkah, suara Abian menghentikannya. "Tunggu aku, Sayang. Kita mandi junub bersama," pinta Abian, membuat pipi Nada merona. "Ma-mandi bareng?" "Iya, Sayang. Kenapa? Apa kamu malu? Bukankah semalam dan barusan aku sudah menikmati semua yang ada pada dirimu? Ayo, kita mandi!" Mau tak mau, Nada menuruti keinginan suaminya itu untuk mandi bersama. Abian benar, mereka telah melebur bersama semalam, dan mengulangnya barusan. Berbagi peluh dan kenikmatan di bawah selimut yang sama. Lalu, kenapa Nada harus malu jika tanpa busana di hadapan suaminya ketika mandi nanti? Setelah mengganti lampu kamar dengan lampu utama, Nada lalu menuntun sang suami menuju kamar mandi. Sepanjang berjalan menuju kamar mandi, bibir Abian terus saja menyunggingkan sebuah senyuman. Ya, Abian memutuskan membawa Nada ke vila milik keluarganya terlebih dahulu, sebelum pulang ke rumah, menemui eyangnya. Setibanya di villa, Abian menyuruh Pak Karim untuk pulang ke rumah sang eyang, dan mengabarkan pada eyangnya jika malam ini dia tidak akan pulang. "Kak, kita mau nginap di sini?" tanya Nada, setelah Nada mendengar perintah sang suami pada sopir tersebut. "Iya, Sayang. Aku hanya ingin berduaan denganmu, tanpa gangguan." "Tapi 'kan, kita enggak bawa baju ganti, Kak." "Itu masalah gampang, Sayang. Biar nanti bibi Saodah yang siapkan." Abian lalu berteriak, memanggil bibi asisten yang stay di villa tersebut, dan memberikan perintah pada wanita paruh baya itu untuk menyiapkan semua keperluan mereka berdua, selama berada di sana. Setelah asisten itu berlalu, Abian kemudian meminta sang istri untuk menuntunnya ke kamar. "Kenapa, Sayang?" tanya Abian ketika mereka telah berada di kamar dan pemuda itu mendengar helaan napas panjang dari istrinya. "Sayang," panggil Abian kembali ketika Nada tak segera menjawab pertanyaannya. "Ada apa, hem?" tanya Abian, sembari memeluk pinggang Nada. "Apa itu foto calon istri Kak Bian?" tanya Nada, sembari menunjuk foto seorang wanita cantik yang dipajang di dinding kamar. Mendengar pertanyaan istrinya, Abian kembali berteriak memanggil bibi asisten. Tergopoh-gopoh, Bibi Saodah menghampiri cucu sang majikan dengan raut wajah ketakutan. Ya, mendengar teriakan Abian barusan, bibi asisten itu sudah dapat memastikan jika saat ini Abian pasti sedang marah besar. "Kenapa Bibi tidak becus bekerja? Bukankah aku sudah menyuruh Bibi untuk memusnahkan semua barang milik wanita itu dan jangan sampai ada yang tertinggal? Tapi, kenapa foto itu masih terpajang di sana?" Benar adanya dugaan Bi Saodah. Baru saja wanita itu mendekat, Abian sudah melontarkan protesnya atas kinerja asisten rumah tangga tersebut. "Ma-maaf, Den. Bibi hanya fokus dengan barang-barang milik Non Zizi." "Jangan sebut nama wanita itu lagi, Bi!" sergah Abian ketika mendengar bibi asisten menyebut nama sang mantan tunangan. "Kak," panggil Nada dengan melembutkan suaranya. "Enggak perlu sekeras itu, Kak," bisiknya kemudian, membuat Abian menghela napas panjang untuk mengurai emosi yang bercokol di hati. "Tolong bereskan segera, Bi!" Perintah Abian kemudian dengan memelankan suara, membuat Bibi Saodah tersenyum pada Nada. Wanita paruh baya itu yakin jika wanita berhijab yang bersama cucu sang majikan itulah yang telah berhasil membuat Abian menjadi melunak padanya. Dulu, boro-boro Abian akan melunak jika sedikit saja Bibi Saodah melakukan kesalahan. Sebab, Zizi akan selalu mengompori kekasihnya itu jika apa yang dilakukan asisten tersebut ada yang tidak sesuai atau tidak pas seperti keinginan tunangan Abian hingga cucu Ndoro Brata tersebut akan semakin marah pada Bibi Saodah. Ya, kehadiran Zizi dalam kehidupan Abian memang membawa pengaruh buruk bagi pemuda itu. "Maaf, ya, Bi. Jadi merepotkan Bibi." Nada menimpali seraya tersenyum ramah, membuat Bibi Saodah semakin bersimpati pada wanita belia itu. Setelah Bibi Saodah berlalu dari kamar Abian sambil membawa foto Zizi dalam pigura besar, Abian lalu mengajak Nada menuju ranjang miliknya. "Maaf, Sayang. Aku tak bermaksud melukai perasaanmu dengan masih menyimpan foto wanita itu," kata Abian, setelah mereka berdua duduk bersisihan. "Iya, Nada mengerti, Kak. Tapi, ada satu hal yang ingin tanyakan jika Kak Bian tidak keberatan." "Apa, Sayang? Tanyakanlah." "Dia ... em, apa dia?" Sejenak, Nada menjeda ucapannya. Wanita belia itu sepertinya ragu untuk menanyakan apa yang menjadi ganjalan di hati. "Kamu pasti berpikir, apakah dia sering menginap di sini? Begitu, 'kan?" tebak Abian ketika Nada tak kunjung melanjutkan pertanyaannya. "Iya, dia memang sering menginap di sini jika sedang bosan dengan pekerjaannya. Tapi kamu jangan khawatir, Sayang, karena kami tak pernah tidur bersama," lanjut Abian. Pemuda itu lalu menghela napas panjang. "Aku memang terkenal sebagai pemuda urakan, Nad, tapi aku juga tahu batasan dalam pergaulan. Ya, kuakui jika hubungan kami dulu sudah sangat dekat. Tapi sungguh, aku belum pernah menyentuhnya lebih jauh." "Menyentuhnya lebih jauh?" "Em, iya, Nad. Maaf jika apa yang akan aku sampaikan ini membuatmu tidak nyaman. Tapi, aku harus jujur padamu. Kuakui, dulu kami sering berciuman." "Apakah di sini?" tanya Nada dengan suara bergetar, sembari menyentuh bibir Abian yang sudah pernah dia rasakan semalam. Kekecewaan jelas terdengar dari suara Nada, di rungu Abian. "Apa kamu cemburu, Sayang?" tanya Abian, sengaja menggoda Nada. "Menurut Kakak? Apa sesuatu yang sudah sah menjadi milik kita, lalu tiba-tiba kita mengetahui bahwa sesuatu itu sudah pernah dipakai oleh orang lain, apakah Kak Bian tidak akan kecewa?" "Kalau begitu, kamu harus membersihkannya, Sayang. Agar, tak ada lagi bekas orang lain di sini," pinta Abian seraya menunjuk bibirnya sendiri. Sedetik kemudian, pemuda itu menarik kepala Nada yang berjarak sangat dekat dengannya. Hal itu dapat Abian rasakan melalui embusan napas hangat Nada yang menerpa wajahnya. Abian lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Nada. Awalnya, Nada yang masih merasa kecewa, tidak membalas ciuman sang suami. Namun, lambat laun Nada mulai membalas, dan mengimbangi permainan lidah Abian. Dalam sekejap, suara desahan telah memenuhi seisi kamar Abian. "Kak, kita belum sholat maghrib!" Nada mengingatkan, setelah penyatuan kedua bibir tersebut, terlepas. Abian nampak kecewa, tapi dia bisa menerima penolakan dari Nada kali ini. Mereka berdua lalu sholat maghrib berjama'ah dan dilanjutkan dengan makan malam. Usai sholat isya', Abian buru-buru menagih kesediaan Nada untuk menjadi istri Abian yang seutuhnya. Malam itu, Abian benar sangat menikmati pergumulannya bersama sang istri. Pemuda itu bahkan tak puas jika hanya melakukannya sekali. Dia pun mengulangnya, lagi, dan lagi hingga membuat Nada kesulitan berjalan seperti sekarang ini. "Ah, Kak Bian! Tubuhku kenapa?" Suara jeritan Nada setelah wanita belia itu melepaskan seluruh pakaiannya di dalam kamar mandi, membuat Abian yang sedang mengguyur tubuh di bawah shower, terkejut lalu segera mendekat. "Sayang, kamu kenapa? Apa kamu jatuh? Mana yang sakit, Sayang?" "Bukan itu, Kak. Tapi ini, tubuh Nada kenapa banyak merah-merahnya, Kak? Apa mungkin, Nada alergi, ya, Kak? Tapi, alergi apa?" Nada yang masih memandangi pantulan dirinya di hadapan cermin besar, nampak sangat kebingungan. Sementara Abian malah senyum-senyum sendiri. "Benar, Sayang. Itu alergi. Alergi yang bikin nagih." "Kok, Kakak malah senyum-senyum gitu, sih? Bukannya khawatir dengan apa yang terjadi pada tubuh Nada," protes wanita belia itu dengan bibir mengerucut. Abian yang sedari tadi berdiri di belakang Nada lalu memeluk perut rata istrinya. "Hadap sini, Sayang!" pinta Abian dan Nada pun menurut. Pemuda itu sedikit membungkuk lalu mengecup d**a sang istri untuk memberikan tanda cinta di sana. "Apakah seperti ini warnanya?" tanya Abian kemudian setelah melepaskan d**a sang istri. Nada tak menjawab, tetapi malah senyum-senyum sendiri. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Abian tadi. "Sayang, apakah warnanya sama?" bersambung ... Ya, ampun, Nad.. . kamu volos banget, sih. Jadi pengin nyubit pipimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN