Semalam, Abian terpaksa meredam hasrat karena sang istri belum bersedia untuk disentuh, setelah Nada teringat jika pernikahan mereka berdua atas dasar keterpaksaan, terutama dari pihak sang suami. Ya, Abian menikah dengan Nada karena dipaksa sang eyang demi menjaga nama baik keluarga. Berbeda jika yang terpaksa hanya pihak wanita, yaitu Nada, maka pernikahan tersebut tetap sah hukumnya karena sang wali, yaitu ayah kandung Nada, memang memiliki hak untuk memaksa.
Keesokan harinya, Abian mengajak Nada untuk menjemput ayahnya hendak diajak ke kediaman tokoh agama di daerah tersebut. Tentu saja kedatangan Abian dan Nada di rumah orang tua wanita belia itu, membuat Pak Mul terkejut. Bukan hanya terkejut, kenapa Abian bersedia menginjakkan kaki di rumahnya yang sangat sederhana, mengingat jika anggota keluarga Ndoro Brata termasuk orang yang pilih-pilih. Akan tetapi, ayah Nada juga terkejut melihat sikap Abian yang sangat manis pada sang putri.
"Kupikir, anak itu akan menderita di sana, tapi ternyata aku salah. Pemuda itu sepertinya sangat menyayangi Nada. Tahu begini, dulu Gina saja yang aku tawarkan untuk menikah dengan Abian. Meskipun dia buta, tapi setidaknya Gina dapat ikut menikmati harta eyangnya yang tak terhingga itu," sesal Pak Mul, sepanjang perjalanan menuju kediaman seorang kyai untuk memperbarui pernikahan Abian dan Nada.
"Nak Bian. Apa Nak Bian sungguh-sungguh mencintai Nada?" tanya Pak Mul ketika mereka baru saja turun dari mobil mahal milik Abian.
"Tentu saja, Pak. Kalau tidak, saya tidak akan melakukan hal ini."
Wajah Pak Mul nampak sangat tidak suka mendengar jawaban Abian. Nada yang melihat air muka sang ayah, semakin bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa laki-laki paruh baya yang dia panggil ayah itu, jelas terlihat sangat tidak suka jika dia bahagia?
"Apa benar dia bapakku? Apa mungkin, ibu pernah selingkuh? Astaghfirullah ... aku ini mikir apaan, sih? Tidak mungkin, lah, wanita seperti ibuku itu selingkuh. Na'udzubillah. Ya Rabb, jauhkan kami dari sifat-sifat seperti itu." monolog Nada dalam diam.
"Ayo, Sayang!" Ajakan Abian kemudian, mengurai lamunan Nada.
Mereka bertiga kemudian segera masuk ke kediaman Kyai Rusli, setelah dipersilakan oleh sang empunya rumah.
"Silakan duduk, Nak Bian, Kang Mul, Nak Nada." Kyai sepuh itu pun mempersilakan seraya mengabsen satu per satu tamunya.
"Oh, ya. Tadi pagi, Pak Karim sudah menyampaikan kepada saya, maksud kedatangan Nak Abian kemari," kata Kyai Rusli, mengawali pembicaraan setelah ketiga tamunya duduk.
"Apa, masih ada keluarga yang ditunggu, Nak?" tanya sang kyai kemudian, lalu laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun itu melihat ke arah luar.
"Tidak ada, Kyai, kami hanya bertiga. Apakah ada yang kurang?" jawab dan tanya Abian.
Ya, untuk memperbarui nikahnya, Abian memang hanya mengajak Pak Mul, selaku wali dari Nada. Abian bahkan tidak memberitahukan pada sang eyang karena eyangnya pasti akan menentang. Abian juga tidak memberitahukan sang mama, apalagi mamanya telah kembali ke kota pagi-pagi tadi bersama Tyas karena dokter mata itu harus segera terbang ke Singapura.
Ibu Nada juga tidak bisa ikut mendampingi Nada karena wanita itu sudah berangkat ke tempat kerja pagi-pagi sekali. Jika biasanya Bu Mul baru berangkat bakda dhuhur, tapi hari ini diperintah oleh bosnya untuk berangkat pagi karena ada orderan beras banyak dari kota.
"Kita butuh dua orang saksi, Nak Bian. Anak saya kebetulan di rumah jika Nak Bian belum menyiapkan saksi nikah. Tapi kita masih membutuhkan satu orang lagi."
"Bagaimana kalau Pak Karim, Kyai?"
"Boleh-boleh."
Nada lalu beranjak untuk memanggil sopir Abian. Setelah Pak Karim ikut duduk di sana, begitu pula dengan putra sang kyai, ijab qabul itu pun segera dilaksanakan.
Kali ini, suara Abian terdengar bergetar ketika mengucapkan qabul. Bukan hanya bahasa lisan, tetapi Abian pun menerima dengan sepenuh hati wanita yang namanya baru saja dia sebut, sebagai istri. Abian pun bertekad akan memikul tanggung jawab atas diri Nada seutuhnya dan akan membahagiakan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya dalam waktu singkat tersebut.
Sementara Nada kembali meneteskan air mata, setelah mendengar kata sah terucap dari dua orang saksi. Tentunya air mata yang berbeda dengan air mata terdahulu. Saat ini yang mengalir adalah air mata bahagia karena pemuda yang duduk di sampingnya telah mencintai Nada.
"Kenapa menangis, Sayang?" bisik Abian bertanya, setelah pemuda itu mendengar isakan tertahan dari sang istri.
Nada tak menjawab. Hanya tangan Nada yang terulur untuk mengambil tangan sang suami, lalu menciumnya dengan takdzim. Abian pun membalas dengan mencium kening sang istri.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Aku akan bersedih jika kamu menangis," kata Abian lagi dengan bisikan di telinga Nada.
"Ini air mata kebahagiaan, Kak. Nada merasa sangat terharu. Makasih banyak, ya, Kak."
"Bukan kamu yang seharusnya berterima kasih, Sayang, tapi aku. Terima kasih karena kamu telah menuntunku menuju jalan yang terang di tengah kegelapan yang aku rasakan."
Kata-kata Abian, membuat air mata Nada semakin deras mengalir. Kedua sejoli itu masih larut dalam keharuan ketika tiba-tiba Ndoro Putri Brata datang.
"Apa-apaan ini, Kyai? Siapa yang mengizinkan Kyai memperbarui pernikahan cucu saya dengan gadis kampung itu?"
"Eyang, ini murni atas permintaan Bian. Kyai Rusli hanya menuruti keinginan Bian, Jadi, Eyang jangan menyalahkan siapa pun!" sahut Abian yang kemudian beranjak.
"Pak Kyai, mohon maaf sebelumnya jika kedatangan Eyang saya membuat Pak Kyai merasa tidak nyaman. Saya haturkan terima kasih atas kesediaan Pak Kyai menikahkan kami berdua. Kami mohon undur diri, Pak Kyai," pamit Abian kemudian karena tak ingin sang eyang semakin berulah di sana.
Abian segera mengajak Nada keluar dari kediaman Kyai Rusli. Mau tak mau, sang eyang pun ikut keluar dengan menyimpan kemarahan. Setelah berada di halaman, Ndoro Putri Brata tiba-tiba menjambak hijab Nada lalu menariknya hingga terlepas dari kepala wanita belia itu.
Sontak saja Nada menjerit lalu menutup kepala dengan kedua tangannya.
"Ada apa, Sayang?"
"Jilbab Nada, Kak," jawab Nada dengan terisak.
Tentu saja Nada menangis karena tak menyangka jika eyang Abian akan bertindak sejauh itu. Nada buru-buru mengambil hijabnya yang telah dibuang Ndoro Putri Brata. Sementara Abian nampak sangat marah pada sang eyang.
"Eyang ini apa-apaan? Apa begini, cara orang berpendidikan tinggi seperti Eyang memperlakukan orang lain? Bian sama sekali tidak menyangka jika Eyang yang selama ini Bian segani dan Bian anggap sebagai orang yang menjunjung tinggi tata krama, nyatanya tak lebih baik dari orang yang tidak memiliki adab!"
"Tega kamu, Nang, sama eyang. Hanya demi wanita lugu itu, kamu berani melawan eyang, Bian!"
"Maaf, Eyang. Bian bukannya melawan Eyang. Bian hanya tidak suka dengan sikap Eyang.
"Maaf, Bu Brata. Sebaiknya, selesaikan masalah Ibu dengan Nak Bian di rumah saja. Tidak baik dilihat oleh orang-orang yang berlalu lalang di sini." Kyai Rusli terpaksa keluar untuk menjadi penengah, setelah mendengar keributan cucu dan eyangnya itu.
"Eyang tunggu kamu di rumah, Bian!"
Wanita berusia senja itu segera masuk ke dalam mobil mahalnya lalu mobil yang dikendarai sopir pribadi itu pun segera bergerak, meninggalkan halaman kediaman Kyai Rusli.
"Maafkan atas kejadian barusan, Pak Kyai," kata Nada sambil membungkukkan sedikit badan.
"Iya, Pak Kyai. Maaf karena kami telah membuat keributan di sini." Abian kemudian menimpali.
"Tidak apa-apa, Nak. Salah paham dalam keluarga itu hal yang biasa. Asal, jangan berlarut-larut. Segera bicarakan jika kepala sudah dingin. Dan satu hal pesan saya, tetap hormatlah pada orang tua."
Nada dan Abian mengangguk, kompak. Keduanya kembali berpamitan pada Kyai Rusli. Setelah Nada dan Abian masuk ke mobil, Pak Karim segera memacu kuda besi sang majikan, meninggalkan tempat tersebut.
Setelah mengantarkan Pak Mul, Abian meminta Pak Karim untuk membawa dia dan istrinya ke suatu tempat. Apa yang diminta oleh sang suami barusan, tentu saja membuat Nada mengerutkan dahi.
"Kak, kita mau ke mana? Bukankah tadi, eyangnya Kakak meminta Kak Bian untuk segera pulang?"
"Kalau tidak salah dengar, bukankah tadi Kyai Rusli mengatakan jika sebaiknya kita membahas sesuatu yang menjadi perdebatan itu nanti saja, kalau kepala sudah dingin. Benar begitu 'kan, Sayang?" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Abian malah balik melontarkan pertanyaan.
"Apa kamu tahu, Sayang, jika saat ini kepalaku seperti terbakar? Aku takkan mungkin bisa berbicara dengan baik-baik saja dan tanpa terbawa emosi jika kemarahan masih menguasai hatiku, Sayang," lanjutnya.
"Lalu, bagaimana caranya agar kepala Kak Bian menjadi dingin?"
"Cukup dengan menghabiskan waktu berduaan bersamamu, Nada, kepalaku pasti akan cepat dingin."
Nada tersenyum. "Ish, Kak Bian bisa aja bikin Nada melting."
"Ya, udah. Kita berduaan sampai sore dan setelah itu kita pulang," lanjut Nada.
"Enggak bisa seperti itu, Sayang!"
"Kenapa? 'Kan kepalanya udah dingin?"
"Itu baru kepala atas yang dingin, Sayang. Lah, kepala yang bawah 'kan belum."
"Kepala bawah? Maksud Kak Bian apa, sih? Nada enggak ngerti, deh." Wanita belia itu pun mengerutkan dahi dengan dalam.
Sementara Pak Karim yang duduk di belakang kemudi dan dapat mendengar dengan jelas perkataan Abian, senyum-senyum sendiri.
Abian lalu mendekat ke arah sang istri dan membisikkan sesuatu, membuat pipi Nada menjadi merona karena malu.
"Kakak ada-ada aja, istilahnya. 'Kan, Nada jadi bingung," protes Nada.
"Bagaimana, Sayang? Kamu mau, kan?"
bersambung ...