Viona terpaku mendengar bisikan Dio, tepatnya di tiga kata terakhir yang terucap dari cowok tengil itu. Tiga kata sederhana yang sukses membuat jantungnya berdetak sangat cepat. 'Ingat, Vi. Ini hanya pura-pura, please jangan baper.' batinnya terus mengingatkan Viona agar tidak main dengan hati. Bagaimana pun juga Viona harus tetap menyadarkan dirinya agar tidak membebaskan rasa di hatinya terus tumbuh. Sebenarnya dia tahu, jika hatinya yang terluka beberapa hari yang lalu kini telah menemukan penawarnya. Namun, dia masih enggan mengakui hal tersebut. Takut jika semua hanya rasa yang semu, dan akan berakhir dengan saling menyakiti. Hembusan nafas hangat Dio pun sangat membuat dirinya tidak nyaman. Beberapa kali Viona harus memejamkan mata saat angin yang berasal dari dalam tubuh cowok

