Trauma

1026 Kata
"Kak!" Panggilan dari balik pintu kamar menyadarkan lamunan Diana, dia pun menoleh ke sumber suara. Beberapa detik kemudian, pintu bercat putih itu terbuka perlahan menampilkan sosok Dio yang sudah berganti pakaian. Terlihat jika ragu untuk masuk ke dalam kamar tersebut, sampai akhirnya sang kakak mengatakan jika semua sudah baik-baik saja. "Bagaimana, Kak? Dia nggak papa kan?" Tanyanya seraya mendekat perlahan ke arah Diana. Diana tersenyum dan mengangguk, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Viona yang tengah beristirahat. Tampak jika gadis itu masih sedikit merasa kedinginan, karena bibirnya masih terlihat membiru. Padahal baju yang dia pakai sebelumnya sudah tergantikan dengan yang kering dan bersih di tambah selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Hanya saja rambut panjang yang tergerai indah itu masih sedikit basah. "Dia sudah lebih baik," ucap Diana tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah pucat Viona. "Hanya saja ... dia butuh istirahat lebih, agar kondisinya segera pulih." Mendengar penjelasan sang kakak, Dio merasa lebih tenang. Setidaknya gadis di depannya itu sudah baik-baik saja. Dia sempat khawatir karena Viona terlihat sangat ketakutan saat tenggelam di kolam renang tadi, di tambah kondisinya sempat drop banget. "Kak," panggil Dio, membuat sang kakak menoleh ke arahnya. "Apa dia punya fobia?" Tanyanya. Diana terdiam untuk beberapa saat, kemudian berjalan menuju sofa yang berada di dalam tersebut. Duduk di salah satu sisi dengan raut wajah yang tampak sulit di artikan. Melihat itu, Dio mendekat dan duduk di samping sang kakak, menunggu jawaban dari pertanyaan yang baru saja di lontarkan. "Viona ... dulu dia seorang gadis yang suka dengan dunia olah raga, hampir semua oleh raga dia bisa, walau tidak ahli Dan salah satunya adalah renang." Ingatan gadis berusia 23 tahun itu pun kembali pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Tahun dimana sang sahabat, mendapatkan mengalaman yang sangat buruk dalam dunia olahraga, yaitu pernah tenggelam saat terpeleset di dekat kolam renang milik salah satu teman sekelasnya. Tak ada yang menolong dirinya, karena semua berada di depan, dan yang di kolam renang hanya dia karena berniat mengambil tasnya yang tertinggal. Sampai akhirnya salah satu pembantu disana melihat hal itu dan segera menolong. Karena terkejut dan tak siap dengan situasi sekitar di tambah tidak langsung mendapat pertolongan, Viona akhirnya pingsan tepat saat pertolongan itu datang. Diana, dan teman-teman yang lain langsung saja membawa Viona ke rumah sakit agar segera mendapat pertolongan. Dan sejak kejadian itu, selama beberapa bulan Viona sama sekali tak bisa melihat kolam, baik kolam renang atau kolam ikan. Namun, dengan berjalannya waktu dan terus dalam dampingan keluarga, Viona mulai bisa kembali seperti dahulu lagi. "Lalu?" Sela Dio yang sangat penasaran dengan cerita tentang gadis yang mencuri perhatiannya itu. Walau baru pertama kali, tapi Dio merasa jika dia memang sudah sangat tertarik dengan gadis berambut panjang dengan warna sedikit pirang itu. Diana menoleh ke arah Dio, yang tampak sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Membuat dirinya tersenyum, dalam hati dia sangat bersyukur jika sang adik memang benar-benar seperhatian itu dengan sahabatnya. Apalagi mengingat jika Dio kalau sudah perhatian dengan seseorang, maka dia akan sungguh-sungguh dalam urusan apa pun yang menyangkut orang tersebut. "Dia terus mencoba untuk bisa melawan rasa takutnya, semua dia lakukan karena dia tak mau terus-terusan larut dakam trauma yang dia sendiri tak nyaman. Akhirnya ... dia bisa, perlahan namun pasti dia bisa melupakan kejadian itu. Dokter yang menanganinya sempat berpesan, walau sudah sembuh dia harus tetap berhati-hati. Terutama orang-orang sekitar. Sebab trauma itu bisa kembali kambuh," jelas Diana. Tak pernah terbayangkan oleh cowok berkulit putih itu jika seorang gadis yang kini hidup sebatang kara mempunyqi trauma yang lumayan berat. Pernah mengalami hal yang membuat dirinya hampir kehilangan nyawa. Dio mengalihkan pandangannya ke arah ranjang yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. Menatap Viona yang masih terlelap dalam tidurnya. "Dek, kakak boleh minta tolong nggak?" Ucap Diana membuat Dio sedikit terkejut kemudian menoleh ke arah sang kakak. "Minta tolong apa, Kak?" Tanyanya. "Tolong jagain Viona sebentar ya, kakak mau ke kamar dulu," jawab Diana. "Ke kamar? Ngapain?" "Hmm ... kepentingan." Diana segera beranjak dari duduknya. Karena memang dia sudah tak tahan lagi. "Kepentingan apa sih, Kak?" "Udah deh, jagain dulu sebentar. Kakak segera kembali." "Tap—" Karena sudah sangat geram dan gemas dengan kelakuan sang adik, Diana langsung memotong ucapan cowok itu, Dengan mata yang menatap tajam ke arah cowok berstatus adikknya itu. "Dio!!," Bukannya takut, Dio justru terlihat sangat senang karena sudah berhasil menggoda sang kakak. "Hehe ... peace!" Serunya nyengir seraya mengangkat kedua jari ke samping telinga. Dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal, Diana segera keluar dari kamar tersebut untuk menuju ke kamar miliknya sendiri. Sungguh dia sudah tak tahan lagi sekarang. Tanpa menutup pintu kamar tamu tempat Viona beristirahat. Diana meninggalkan kedua orang berlainan jenis serta berbeda usia itu untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Berjalan cepat menaikki tangga dengan bibir yang di rapatkan, membuat bi Yaya yang kebetulan dari lantai dua tampak heran. Pasalnya biasanya kalau mereka bersimpangan di manapun, Diana yang lebih dulu menyapa. Tapi kali ini, nona mudanya itu tampak tak menyadari dengan keberadaannya. "Non Diana kenapa ya? Kok terlihat aneh," gumam bi Yaya menatap pintu kamar nona mudanya yang kini sudah tertutup rapat. Mengingat masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, wanita paruh baya itu pun memilih untuk melanjutkan langkahnya. Berjalan menuruni tangga kemudian menuju ke ruangan tempat dia bekerja, yaitu dapur. Namun, ketika hendak berbelok ke arah ruangan tempat pengplahan makanan itu, pandangannya terhenti ketika melihat pintu kamar tamu terbuka. Karena posisi pintu itu lurus dengan ranjang, membuat bi Yaya bisa melihat seseorang yang tengah terbaring di sana. Tak berselang lama, dia melihat tuan mudanya mendekat ke arah Viona. Membuat kening wanita paruh baya itu tampak berkerut. "Den Dio, mau ngapain?" Gumamnya tanpa mengalihkan pandangannya. Beberapa saat kemudian, hati yang sudah merasa was-was itu kini berubah menjadi terenyuh. Bahkan sudut bibirnya tak kuasa untuk tidak naik. "Ternyata ada yang lagi kesandung," gumamnya kemuduan berjalan ke dapur meninggalkan dua insan di kamar itu. Di dalam sana, Dio yang mendekat ke arah Viona tampak membelai rambut gadis yang terlelap. Membelai penuh perasaan dan perhatian. Menatap wajah pucat itu dengan tatapan prihatin. Tak tega, walau baru pertama kali bertemu dan dengan situasi yang kurang mengenakkan, tapi Dio merasa jika dia cocok dan sangat berharap bisa menjaga gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN