Wanita, bisa menjadi seorang kawan dan bisa juga menjadi seorang lawan. Apalagi kalau tamu bulanannya telah datang, sulit untuk membedakan apakah dia kawan atau malah lawan. Itulah salah satu keistimewaan yang berikan oleh tuhan pada salah satu ciptaannya yaitu wanita, yang tak bisa tergantikan oleh makluk lain.
Dalam kurun waktu beberapa hari dalam satu bulan, emosi dan tingkat kesensitifannya akan mudah berubah. Tak peduli benar atau salah, yang jelas apa pun yang dia lalukan adalah benar menurutnya.
"Huuh ... sudah kuduga jika dia akan datang sekarang," gumam Diana yang baru keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya yang sedikit nyeri.
Berjalan perlahan menuju ranjang kesayangannya dengan sedikit menekan bagian perut untuk mengurangi rasa nyeri yang membuatnya tak nyaman. Kalau sudah seperti ini, dia harus beristirahat sejenak dan mengurangi aktifitas sementara sampai rasa sakit itu berkurang.
Duduk di tepi ranjang kemudian sedikit membungkuk agar tangannya sampai meraih gagang laci bagian bawah. Tempat dimana dia menyimpan obat pereda nyeri. Bagaimana pun juga dia harus berusaha agar nyeri di perutnya segera hilang. Karena Viona masih sangat membutuhkan perawatannya.
Tak menunggu lagi, Diana langsung saja meminum obat yang selalu dia simpan dan tak pernah telat itu. Cukup satu butir untuk saat ini. Kemudian mencoba menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang sampai akhirnya dia berpindah posisi menjadi bersandar di papan ranjang.
"Vio sudah bangun belum ya?" Ucapnya khawatir mengingat keadaan sang sahabat.
Tak mau menunggu lagi, Diana segera mencari ponselnya dan mencoba untuk menanyakan keadaan sang sahabat pada adiknya. Setelah ketemu Diana langsung mengusap-usap layar tipis tersebut mencari nama kontak sang adik.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu pun terbubung. Namun, tak langsung di tanggapi oleh si penerima. Hanya terdengar suara gemericik air. Membuat kening Diana tampak berkerut.
"Halo!"
"Ya ... kenapa, Kak?"
Suara sahutan dari sebrang sana terdengar agak jauh. Membuat kerutan pada kening gadis itu semakin dalam.
"Vio udah bangun, Dek?"
"Hmm ... keknya belum deh." Mendengar jawaban sang adik yang tak pasti membuat Diana semakin merasa ada yang tidak beres dengan adiknya itu.
"Kok gitu? Emang kamu di mana?"
Tak langsung menjawab, justru yang terdengar hanya suara gemericik air yang semakin jelas. Hingga beberapa saat kemudian Dio menjawab dengan suara yang tampak menahan tawa.
"Di atas closed."
"What?!" Dan jawaban itu pun sukses membuat Diana terkejut dengan tingkah sang adik. Selalu blak-blakan dan tak pernah di setting dulu.
"Haha ... perutku mules, Kak. Ya kali mau di empet. Entar malah tambah mules dan buang gas di mana-mana. Tercorenglah ketampanan dan kegagahan seorang Dio Aditama Erfas," jawab Dio dengan bangganya.
"Huuh ... kok makin pinter ya sekarang?"
Seraya menggekengjan kepalanya, Diana terlihat ikut menahan senyum. Di usia Dio yang sudah menginjak di tahun ke 19, kelakuannya masih sama aja. Tak pernah canggung dalam hal apa pun.
"Ya iyalah, anaknya mama Soraya,"
"Hmm ... serah!"
"Xixixi ... ."
Terdengar suara kikikan dari sebrang sana, membuat Diana mengerucutkan bibir. Dio memang sengaja menggoda sang kakak dengan membawa nama mendiang mamanya, karena dia tahu jika antara kedua wanita itu sungguh saling menyayangi, tapi tak mau saling mengungkapkan. Soraya, mama dari kedua kakak beradik itu, mempunyai sifat gengsi yang tinggi serta dingin. Apalagi kalau keduanya sudah bertemu, yang ada hanya saling ledek.
Beda halnya dengan sang papa yang lebih hangat dan humoris. Selalu pria baruh baya itu yang menengahi kedua wanita yang sanamgat dia sayangi tersebut saat penyakit keduanya kambuh.
"Kakak belum balik,?" Sambung Dio yang penasaran kenapa kakaknya malah menanyakan soal Viona kepada dirinya.
"Belum ... nitip bentar, perut kakak sakit."
"Ckk ... sama aja donk," cibir Dio.
"Kalau gak mau jagain dia ya gak papa kok, Dek. Biar bi Yaya aja yang jagain, kamu yang masak," balas Diana. Santai tapi serius, dan itu cukup untuk membuat Dio nyerah dan nurut.
"Ooh ... siap!"
Tutt ...
Sambungan tersebut akhirnya terputus. Menyisakan Diana yang masih setia menatap layar ponsel miliknya yang masih menyala. Tampak pada layar tersebut sebuah foto dirinya dengan adik serta kedua orang tuanya. Mereka tampak tersenyum bahagia menatap ke arah kamera. Ya ... waktu itu mereka tengah merayakan ulang tahun Dio yang ke 18 di salah satu Villa milik keluarga. Tak pernah terbayangkan jika hari itu menjadi hari terakhir mereka bisa kumpul dengan formasi lengkap.
"Ma ... Pa ... sekarang Diana dan Dio sudah bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian kalian. Kami berharap papa dan mama tenang di alam sana. Dan doakan kami agar bisa menjadi apa yang papa mama harapkan," ucap Diana mengusap gambar kedua orang tuanya. "Kami sangat menyanyangi kalian," sambungnya.
Rasa penyesalan yang terus ada dalam dirinya membuat Diana selalu bersedih bahkan menangis kala mengingat apa yang sudah dia lakukan selama kedua orang tuanya masih hidup. Dalam hati dia kecewa dengan dirinya sendiri yang belum bisa menjadi anak yang membanggakan untuk kedua orang tuanya. Tak pernah mendengarkan apa kata mereka, walau sebenarnya dia tahu apa yang mereka katakan itu benar adanya.
Sampai akhirnya, di saat kedua orang tuanya di panggil kembali ke pangkuan sang pencipta, dia belum bisa menjadi apa yang kedua orang tuanya harapkan. Kini, dengan tekad dan semangat yang baru. Dengan dukungan dari adik serta orang-orang terdekatnya, Diana kembali bangkit dan berusaha meneruskan perjuangan sang papa untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.
Di saat hati dan pikirannya bergelud dengan rasa kecewa dan semangat yang campur aduk, suara detingan dari ponsel yang terletak di nakas samping ranjang membuyarkan lamunannya. Kemudian menoleh ke samping kanan.
Di sana, ponsel Viona berkedip. Ada pesan masuk dengan nama kontak 'Bayu Sayng'. Membuat Diana berengut kesal. Karena penasaran dengan pesan yang di kirimkan oleh pria yang sudah membuat sahabatnya sakit hati, Diana pun membuka pesan itu. Viona pun tak akan marah jika dia membuka pesan tersebut.
Bayu Sayng :
16:45
[ Sayang ... lagi apa?]
[ Maaf ya, tadi gak bisa nemenin kamu ketemu sama clien. Aku bener-bener sibuk. Lain waktu aku temenin ya. Sekali lagi aku minta maaf.]
"Ckk ... dasar lintah parit! Masih bisa-bisanya ngirim pesan gak bermutu kek gini?!"
Membaca pesan yang di kirim oleh pria tak punya hati itu membuat Diana emosi. Ingin rasanya dia cakar wajah yang sedikit tampan itu. Tak peduli jika nanti dia bakal operasi plastik, hingga membuat wajahnya lebih tampan dari artis Korea. Yang jelas laki-laki macam itu harus di musnahkan dari bumi tercinta ini. Di samping gak ada gunanya, mereka juga hanya membuat dunia makin sempit.
Kembali meletakkan ponsel itu ke tempat semula. Membiarkan pesan tersebut tanpa berniat untuk membalas, karena dia yakin jika dia membalasnya, yang ada dia semakin emosi dan tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Ting!
Kini gantian ponsel miliknya yang berkedip, sebuah pesan masuk yang dikirim oleh adiknya. Penasaran, Diana segera membuka pesan tersebut.
Dio :
16:50
(Picture)
[Emoticon senyum]
Melihat pesan yang dikirim oleh sang adik, membuat Diana tersenyum. Senyuman yang tulus dan apa adanya. Sesuai dengan perasaannya saat ini.
Kakak :
16: 51
[Kakak sih, Oke. Asal dia juga ok.]
Balasan pesan yang dia tulis pun di akhiri dengan emoticon senyum dan jempol. Menandakan jika dia benar-benar sejalan dan sependapat dengan sang adik.