Malam

1388 Kata
"Gimana?" "Udah dibaca sih, tapi belum di balas. Dan sekarang dia malah offline." "Ouuh ... tapi itu nggak akan mempengaruhi rencana kita buat senang-senang malam ini 'kan?" "Hmm ... tentu tidak dong sayang." "Aahh ... jadi makin sayang." "Gimana kalau kita berangkat sekarang?" "Ayo! Aku sudah tak sabar buat seneng-senang sama kamu," "Aku juga," Suara percakapan laki-laki dan perempuan yang berasal dari salah satu ruang VIP yang terletak di dalam sebuah restoran membuat siapa pun merasa geli. Pasalnya, suara itu terdengar begitu lebay. Apalagi yang terdengar bukan hanya suara percakapan, tapi suara lain yang hanya sebagian orang saja sang mengetahui itu suara apa. Tak berselang lama, pintu ruangan tersebut terbuka. Pasangan pria dan wanita yang memang sudah terlihat berumur tampak keluar dengan tangan yang saling bergandengan. Tak lama setelah itu, kedua tangan yang saling tertaut tersebut terlepas, berganti ke tempat yang lebih sensitif. Si pria yang menggunakan setelah jas, tampak melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh ramping si wanita dengan begitu posesif. Sedangkan wanita dengan pakaian yang begitu terbuka dan menampilkan lekuk tubuh indahnya, serta make up yang tampak pas di wajah cantiknya membalas dengan melingkarkan tangan panjangnya ke lengan sang lelaki. Seraya saling melempar senyum, keduanya keluar dari restoran tersebut tanpa peduli pandangan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Yang terpenting bagi keduanya, malam ini adalah malam untuk bersenang-senang. Berjalan mendekat ke arah mobil hitam yang memang habis di cuci. Dengan gaya romantis serta senyuman yang terus terukir di bibir keduanya. Si pria yang di ketahui bernama Bayu dan wanita yang bersamanya itu bernama Lydia, tampak sangat bahagia sekarang. Bagaikan pasangan yang di mabuk asmara. "Silahkan masuk ratuku," ucap Bayu membuka kan pintu untuk Lydia seraya sedikit membungkukkan tubuhnya seperti seorang pengawal yang menghormat kepada rajanya. "Terima kasih, pangeranku," jawab Lydia tersenyum manis kemudian masuk ke dalam mobil tersebut dengan gaya elegan. Setelah memastikan jika wanita pujaan hatinya sudah mendapatkan posisi yang nyaman, Bayu segera menutup pintu mobil itu lalu berjalan memutar ke arah pintu yang bersebarangan dengan Lydia. Di dalam mobil, kedua orang yang sama-sama suka bersenang-senang tapi malas berusaha itu tak langsung melajukan mobil mereka ke tempat yang mereka tuju, tapi keduanya justru saling goda dan saling sentuh di bagian-bagian tertentu. Membuat sesuatu yang seharusnya belum mau terpakai, sudah terpanggil. Sentuhan demi sentuhan yang perlahan namun pasti yang terus mereka lakukan membuat keduanya makin tak tahan. Dengan nafas yang mulai menggebu, dan tatapan mata yang tampak jelas jika saling menginginkan, mereka pun hanya bisa saling beradu bibir. Satu menit, dua menit, tiga menit sampai hampir sepuluh menit mereka melakukannya. Mungkin tak akan berhenti atau malah berlanjut ke aktifitas yang lebih ekstreme kalau tak ada mobil lain yang parkir tepat di samping mobil mereka. Terpaksa, aktifitas menyenangkan itu terhenti saling pandang dengan senyum manis, keduanya mulai membersihkan bekas kegiatan mereka dengan tissu yang tersedia di sana. Bagaimana pun juga, penampilan itu harus tetap di jaga walau hanya berdua. Dan di saat Lydia hendak mengambil senjatanya di dalam tas, mata indah berbulu lentik itu tak sengaja menangkap sesuatu yang menonjol. Membuat dia tersenyum, melirik ke samping kanan. Sementara Bayu yang tengah mengecek kembali ponselnya, tak menyadari jika ada sesuatu yang menjadi fokus Lydia saat ini. "Tumben gak di balas, kemana gadis itu?" Gumam Bayu yang ternyata tengah mengecek pesan yang dia kirim ke Viona. Ya ... Viona yang saat ini berada di kediaman Erfas, dan tengah di jaga oleh anak kedua keluarga itu. "Kenapa, Sayang?" Dengan mengusap lembut lengan kekar Bayu, Lydia mencoba menjadi wanita yang benar-benar bisa menjadi prioritas untuk pria di sampingnya itu. "Viona ... dia gak balas chat aku," jawab Bayu yang tampak bingung dan heran. Pasalnya setiap kali dia hubungi, pasti langsung di jawab oleh gadis tersebut. Bahkan, selalu dia yang menghubungi Bayu lebih dulu. Tapi, seharian ini tak ada panggilan atau pesan yang berasal dari dia. Membuat Bayu merasa was-was, takut kalau Viona sudah tahu jika dia selama ini tak benar-benar menyayanginya. Bahkan, memanfaatkan kebaikan dan kebucinan gadis itu. Yang lebih parahnya lagi, dia tak dapat menikmati harta dan kekayaan yang selama ini dia nikmati tanpa bersusah payah terlebih dahulu. Apalagi, Lydia yang juga sudah terbiasa dengan kemewahan yang selalu di berikan olehnya. Jelas, jika semua itu terjadi tak hanya dirinya yang akan merasa malu dan tercampakkan, tapi Lydia dan ibunya yang juga ikut terkena dampaknya. "Biarin aja, nanti juga balas kok. Mungkin dia lagi istirahat atau masih sibuk karena banyak kerjaan." Walau dirinya juga merasa khawatir dengan Viona yang tak kunjung membalas pesan yang di kirim oleh Bayu, namun dia harus berusaha untuk membuat kekasih serta penghasil uangnya tenang. Agar bisa memikirkan cara untuk terus bisa memoroti gadis kaya tanpa orang tua itu. "Sekarang ... kita senang-senang dulu, nanti coba hubungi lagi," sambung wanita berkulit putih dan mulus tersebut. Bayu menghela nafas, mengiyakan ucapan wanita di sampingnya itu. Dia juga harus memperhatikan dan menjaga perasaan Lydia. Masalah Viona, setelah urusannya dengan Lydia selesai, dia akan mencoba untuk kembali menghubungi gadis baik tersebut dengan pelan-pelan dan kalau perlu dia datangi ke rumahnya. Tak butuh waktu lama, mobil tersebut sampai di tempat yang menjadi sanksi panasnya hubungan kedua orang yang berbeda jenis tapi sama kebiasaan itu. Tempat dimana menjadi favorite semua orang untuk menikmati malam mereka bersama pasangan yang sejalan pikirnya. Ramai dan penuh dengan pengunjung yang sebagian besar mengendarai mobil. Ada motor, tapi hanya beberapa buah. Tak menunggu lagi, Bayu dan Lydia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam tempat tersebut. Dengan gaya yang sama, saling merangkul mesra tak peduli pandangan orang lain terhadap mereka berdua. Yang penting hari ini mereka harus bersenang-senang terlebih dahulu, dan untuk urusan lain, diselesaikan setelah malam ini. *** Di kediaman Erfas, Viona yang masih terlelap dalam tidurnya tampak sangat nyaman dengan balutan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya. Bibir yang sebelumnya tampak membiru kini mulai berubah kembali ke warna asli. Rambutnya yang panjang juga sudah mengering. Semua sudah kembali ke keadaan semula, walau gadis itu masih belum bangun dari tidurnya. Sementara Dio yang di percaya sang kakak untuk menjaga Viona, kini tampak asik bermain game yang ada di ponselnya. Bagaimana pun juga, dia seorang cowok masa kini yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang bukan menunggu orang tidur. Makanya dia berusaha membuat dirinya sendiri betah di rumah dengan cara bermain game online bersama teman-temannya. Tok! tok! tok! Terdengar ketukan dari arah pintu membuat Dio langsung menghentikan permainannya. Menoleh ke sumber suara untuk melihat siapa yang datang. Di sana, bi Yaya berdiri di samping pintu dengan nampan di tangannya. Tersenyum dengan sedikit mengangguk dan di balas dengan hal yang sama oleh Dio. Kemudian bi Yaya mulai melangkah masuk dan mendekat ke arah ranjang. Meletakkan nampan berisi makan malam itu ke atas nakas samping ranjang. "Non Viona belum bangun dari tadi, Den?" tanyanya menoleh ke arah Dio yang masih duduk di sofa, setelah menatap wajah cantik yang masih terlelap itu. "Belum ... keknya dia nyaman tidur di situ," jawab Dio kemudian berjalan mendekat ke arah sang pembantu yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. "Semoga tak terjadi apa-apa dengan non Viona. Kasian bibi melihatnya kalau seperti ini, apalagi mengingat kalau dia juga tidak mempunyai orang tua." Sama halnya dengan Diana yang sudah menganggap Viona seperti saudara kandungnya, wanita paruh baya itu pun sudah menganggap gadis yatim piatu tersebut seperti anaknya sendiri, walau baru kali ini mereka bertemu langsung. Diana memang sering bercerita tentang sahabatnya yang juga tak punya orang tua, namun baru kali ini dia datang ke kediaman Erfas. "Amiin ... eh, Bi! Misal dia tinggal disini gimana ya?" "Kalau masalah itu, urusan Den Dio sama non Diana. Kalau Bibi mah ngikut aja, Den." "Ooh ... oke lah," Walau mereka sudah tak ada orang tua yang menasehati dan mengarahkan mana yang benar dan salah, Dio dan Diana selalu mengingat apa yang pernah di katakan oleh kedua orang tuanya. Salah satu tentang kebebasan berteman dan bergaul. Walau sudah tak ada yang mengawasi, mereka harus bisa menjaga amanah kedua orang tuanya. "Oh iya, tadi bibi berpapasan dengan non Diana tapi dia terlihat aneh, kenapa ya, Den?" tanya bi Yaya mengutarakan rasa penasarannya. Dio terdiam, mengingat sesuatu. "Keknya saudara bulanannya datang deh, Bi. Tadi bilang kalau sakit perut," jawabnya yang sedikit tahu tentang kebiasaan sang kakak. Bi Yaya yang mendengar jawaban dari Dio yang bisa jadi kenyataan itu pun mengangguk. "Ooh ... pantesan, kalau gitu bibi buatkan minum dulu buat non Diana," ucap wanita paruh baya tersebut di balas anggukkan oleh Dio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN