Mimpi

1083 Kata
Dalam keheningan, Viona yang memakai pakaian serba putih tampak berjalan menyusuri sebuah bukit hijau yang sangat sepi. Tak ada orang lain selain dirinya di tempat itu. Berjalan seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, berharap ada seseorang yang bisa dia tanyai. "Aku dimana? Kenapa tempat ini sangat sepi," ucapnya seraya terus berjalan mengikuti langkah kaki jenjangnya. Tak berselang lama, rambut panjang indahnya mengembang karena tertiup angin. Angin yang terasa hangat. Kemudian, terdengar suara yang sangat dia kenali, suara keduanya orang tuanya. "Viona ... yang terlihat baik, belum tentu baik. Yang terlihat buruk belum tentu buruk. Nyaman dan tidaknya hatimu, akan mempengaruhi langkah kehidupanmu." Suara seorang laki-laki yang sangat dia rindukan. Suara pria yang menjadi cinta pertamanya. Suara yang selalu dia dengar dan dia percaya jika semua yang berasal darinya itu benar. Tak pernah ada keraguan walau sekecil apa pun. "Putriku ... Berpegangan pada dahan yang lebih muda itu lebih baik, dari pada memaksakan diri bertahan pada dahan yang rapuh." Dan kini di ikuti oleh suara seorang wanita. Wanita yang selalu ada untuknya, wanita yang sudah banyak berjuang untuk hidupnya, wanita yang dengan kelembutan dan kasih sayangnya yang tulus selalu memeluknya dengan kehangatan yang bisa tergantikan oleh apa pun. Mendengar suara yang begitu dia rindukan, membuat Viona berusaha untuk mencari sumber suara itu. Berharap dia bisa menemukan pemilik suara tersebut saat ini. Dengan terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, Viona tampak sudah berkaca-kaca. "Mama! ... papa!, kalian dimana?!" Teriak gadis cantik itu dengan terus memutar tubuh rampingnya untuk mencari sumber suara tersebut. "Mama! Papa! Viona kangen!" Hingga beberapa saat kemudian, suara tersebut tak muncul kembali. Membuat Viona menyerah dan mulai tersadar jika dia tak mungkin bisa menemukan kedua orang tuanya. Karena kedua orang tersebut sudah bahagia di pangkuan tuhan. Di kamar bernuansa putih gading dengan sedikit sentuhan warna coklat gelap. Seorang gadis masih terlelap dalam tidurnya. Sampai akhirnya, dia mulai merasa tak tenang dan gelisah. Kepalanya terus bergerak tak tenang, dan perlahan kelopak mata yang sedari tadi menutup kini mulai terbuka. Bertanda jika dia akan segera sadar dan menatap dunia kembali. Dio yang tak sengaja melihat itu segera mendekat dan berdiri di samping ranjang. Menatap gadis berstatus sahabat sang kakak yang mempunyai nasib yang sama dengan dirinya dan kakaknya. "Eegghh ... Mama ... papa ... " Dengan memegangi kepalanya yang sedikit pusing, Viona mencoba membuka matanya. Mengerjap beberapa kali untuk bisa menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Sampai akhirnya dia pun tersadar dan bisa membuka mata itu sempurna. Merasa asing dengan kamar yang dia tempati saat ini membuat Viona mengedarkan pandangannya kesekeliling, sampai gerakanya terhenti saat tak sengaja matanya menangkap tubuh seseorang yang berdiri di sampingnya. "Kamu ... kenapa ada di sini?" tanyanya pelan setelah mengetahui siapa bersamanya di ruangan pribadi tersebut. "Main bola," jawab Dio ngasal tanpa mengalihkan pandangannya dari Viona. Mendengar jawaban cowok yang berusia 4 tahun lebih muda darinya itu membuat Viona enggan untuk memperpanjang interaksi mereka. Yang ada bukannya mendapat jawaban yang dia harapankan, justru membuat emosinya makin menjadi. Viona memilih mengalihkan pandangannya dari Dio. Menelisik ruangan tersebut sampai akhirnya dia ingat jika dia berada di kediaman Erfas. Mengingat apa yang terjadi pada dirinya sampai akhirnya dia terbaring di tempat tersebut. Dan dia juga ingat jika cowok tengil di sampingnya lah yang menyelamatkan hidupnya. Berusaha untuk bangun dari posisinya saat ini, kemudian bersandar di papan ranjang. Tak mungkin jika dia terus berbaring sedangkan ada orang lain yang berlainan jenis bersamanya dalam satu ruangan yang banyak terdapat aura negatif. Dio yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum dalam hatinya. Entah kenapa raut wajah Viona tampak begitu menggemaskan bagi cowok berusia 19 tahun tersebut. Dia sadar jika usianya lebih muda di banding Viona, tapi rasa yang menurutnya sedikit aneh telah menguasai jalan pikirnya, hingga tak peduli dengan angka tersebut. Saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Mereka di kejutkan dengan kedatangan satu wanita yang menjadi penengah saat keduanya bertemu. Diana yang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya masuk ke dalam ruangan yang pintunya tak tertutup itu. Tersenyum saat mengetahui jika sang sahabat sudah sadar dan terlihat mulai membaik. "Vi ... kamu sudah bangun?" ucap Diana seraya mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping Viona. Di balas dengan senyuman dan anggukkan oleh gadis itu. "Maaf ya, Di. Aku sudah banyak ngrepotin kamu," ucap Viona meraih tangan Diana dan menggenggamnya erat, dia merasa bersyukur dengan kebaikkan semua orang yang berada di kediaman tersebut. Tak pernah terbayangkan olehnya jika tak ada mereka. Mendengar permintaan maaf dari Viona, bidan cantik tersebut menggelengkan kepalanya, menandakan jika dia tak sependapat dengan arsitek cantik tersebut. "Vi ... kita kan sudah buat janji, kalau kita bukan lagi sahabat. Tapi kita adalah saudara yang sudah seharusnya saling membantu satu sama lain," jawab Diana mengingatkan. Terharu dengan jalinan persahabatan yang mereka jaga hingga saat ini. Viona dan Diana pun berpelukan. Saling menerima dan manghargai satu sama lain, tanpa adanya niat yang tak pantas dalam hubungan persahabatan. "Ckk ... kalau sodara nggak bisa nikah donk," sahut Dio yang berdiri di belakang kakaknya. Diana dan Viona yang tengah dalam mode serius dan haru sontak merubah raut wajah mereka. Menoleh ke arah cowok berkulit putih itu dengan kening yang berkerut. Mereka saling pandang, bingung dengan respon Dio yang jauh melenceng dari pembahasan. "Nikah apaan sih, Dek?" "Ya nikah, masa kawin. Kambing dong!" "Emang siapa yang mau nikah?" Sela Viona yang juga merasa ada yang aneh dengan adik sahabatnya itu. "Kita ... hehe," jawab Dio di akhiri dengan cengiran khas dirinya. Bukk!! Satu lemparan bantal mendarat tepat di wajah tampan Dio. Ya siapa lagi pelakunya kalau bukan Viona. Entah kenapa setiap yang di lakukan dan di katakan oleh Dio selalu membuat dia marah. Aneh dan terlalu mengada-ngada, itu yang selalu di rasakan oleh Viona. Walau pada satu dua kesempatan, Dio berperilaku gentlemen dan membuat Viona hilang kesadaran. Namun, selalu terlupakan kalau Dio kembali berulah. "Kita?! Lu aja sono sama onta," cetus Viona. "Kalau sama onta entar anaknya model gimana? Kalau sama embak kan sudah pasti cantik dan tampan." "Ogah!!" "Halaah ... maulah, entar biar kak Diana yang jagain babynya." "Baby dari mana?" "Dari sini trus kutransfer ke situ," jawab Dio sambil menunjuk bawah perutnya kemudian beralih menunjuk perut Viona. "Di ... adek kamu ngeselin banget, sumpah! Nemu dimana sih?" Tak menanggapi keluhan sang sahabat, Diana justru menikmati pertunjukkan yang tersaji di depannya itu. Kedua prang yang selalu bertengkar setiap bertemu, namun dia yakin dalam hati mereka tak sama dengan apa yang mereka katakan. Apalagi Viona yang memang tidak suka mengumbar semua isi hatinya. Kecuali jika dia benar-benar sudah tak tahan dan perlu teman berbagi, dia baru akan mengungkapkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN