"Aakkhh!!"
Akhirnya, setelah selama satu jam lebih dia bersusah payah untuk menggapai puncak kesempurnaannya, kini Bayu bisa dengan leluasa meluapkan segala yang ada pada dirinya kedalam ruangan sempit milik Lidya. Tanpa ragu dan tanpa menggunakan tameng, Bayu dan Lidya yang terlalu menikmati aktifitasnya tampak tak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Dalam pikiran keduanya, kenikmatan ini tak akan pernah mereka lewatkan sedetikpun.
"Aah ... kau luar biasa, Sayang."
Dengan gaya seksualnya, Lidya mengelus permukaan kulit pria di atasnya tanpa ragu. Tampak jelas di seluruh permukaan kulir keduanya terdapat butiran-butiran cairan bening yang membuat kulit mereka tampak mengkilat. Entah olah raga apa yang mereka lakukan hingga semua lemak pada tubuh keduanya bisa terkuras dengan begitu mudahnya.
"Kau juga sangat mahir, Sayang."
Tak mau kalah, Bayu pun membalas perlakuan wanita di bawahnya. Menyentuh setiap jengkal kulit putih bersih tersebut yang kini terdapat beberapa tanda merah. Siapa lagi kalau bukan dia pembuatnya. Entah ilmu apa yang dia gunakan, sampai bisa membuat wanita cantik berkulir putih mulus itu berubah bagaiman macan tutul.
Dan ... karena kembali terpancing dengan apa yang mereka lakukan sendiri. Kedua memutuskan untuk mengulang hal yang sama. Tak peduli bagaimana nasib pegawai hotel yang akan membersihkan bekas aktifitas mereka nanti. Yang penting, apa yang ingin di dapat harus mereka dapatkan. Toh, mereka juga sudah membayar tagihan sesuai dengan ketentuan. Jadi apa pun yang mereka lakukan itu sudah menjadi hak mereka.
Setengah jam kemudian, suara leguhan panjang kembali terdengar memenuhi kamar bernuansa pastel itu. Menandakan jika aksi keduanya telah usai dan mencapai titik tertinggi. Karena bukan yang pertama, waktu yang mereka butuhkan juga tak selama yang pertama.
"Sayang ... bagaimana dengan pacar oon mu itu? Apa dia sudah membalas chat yang kau kirim?"
Walau merasa sedikit cemburu, tapi Lidya tak ada pilihan lain. Pria yang bersamanya saat ini masih berstatus kekasih dari gadis yang selama ini membiayai hidup mereka. Jadi mau tak mau mereka harus bisa menyadari hal tersebut dan mengesampingkan rasa di hati mereka.
"Belum aku cek," jawab Bayu kemudian mendaratkan satu kecupan di kening Lidya.
"Cek gih, siapa tahu dia kirim uang buat kita."
Menanggapai guyonan yang bermaksud harapan dari pujaan hatinya, Bayu hanya merespon dengan senyumannya. Kemudian sedikit beringsut dari posisinya saat ini guna meraih ponsel di atas nakas samping ranjang. Mengusap-usap ponsel tersebut dan melihat jika memang ada satu balasan chat dari kekasihnya.
Viona SYG :
20:45
[Aku sudah selesai. Ini masih di rumah Diana.]
Membaca pesan yang di kirim oleh Viona membuat kening Bayu berkerut. Dia kenal siapa Diana dan mereka juga sering bertemu saat sebelum Diana pulang ke kampung neneknya. Dan sekarang dengan tiba-tiba Viona mengatakan jika dia tengah di rumah Diana.
"Kenapa, Sayang?" tanya Lidya yang menyadari perubahan raut wajah Bayu.
"Ini ... Viona bilang kalau dia sudah selesai ketemu cliennya dan sekarang tengah berada di rumah Diana."
"Diana? ... yang seorang bidan itu?"
"Iya."
"Bukannya dulu kamu bilang kalau dia pulang ke rumah neneknya yang di kampung?"
Bayu mengangguk. "Iya ... makanya aku merasa aneh, kenapa Viona bisa di rumah Diana. Padahal setahuku, mereka selalu bertemu di luar rumah."
Bukan hal aneh jika Bayu tahu tentang hubungan Viona dan Diana. Dia sudah mengenal kedua gadis itu sejak awal masuk kuliah. Jadi sudah hampir tak ada hal yang dia tak tahu. Apalagi, Viona selalu mengatakan hal apa pun kepada Bayu.
ME :
21 : 12
[Diana? Dia sudah kembali?]
Dan sayang, pesan tersebut hanya berhenti di centang satu. Yang artinya pesan itu belum di terima oleh Viona. Membuat rasa penasaran Bayu semakin membesar, dia takut jika diam-diam Viona dan Diana mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mengetahui tentang hubungannya dengan Lidya yang sudah berjalan lama dan menggunakan uang darinya untuk bersenang-senang. Walau tak semua uang Viona dia gunakan untuk berfoya-foya, tapi dia yakin jika apa yang dia sembunyikan suatu saat pasti akan terbongkar juga.
Sebelum hal yang tak di inginkan terjadi, dia harus mempersiapkan segalanya untuk mencegah masalah yang akan merugikan dirinya. Menatap ke arah Lidya yang masih malas-malasan di sampingnya dengan tubuh toplesnya. Bayu semakin yakin jika bersama Lidya, hidupnya akan lebih indah dan berwarna. Oleh karena itu, sebelum semua terbongkar dia harus bisa meyakinkan Viona untuk mau memberikan sebagian kekayaan keluarganya kepada dirinya. Sebagai modal untuk hidup bersama kekasih hatinya saat ini.
Kembali melihat pesan yang dia kirim kepada Viona, yang ternyata masih centang satu. Membuat hatinya sedikit merasa tak tenang.
Me :
21 : 17
[Sayang, besok jalan yuk. Sebagai permintaan maafku karena nggak bisa nemenin kamu hari ini.]
Dan hingga beberapa menit kemudian pesan yang dia kirim itu pun masih saja centang satu. Tak mau membuat Lidya tak nyaman, Bayu memilih meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas dan menyusul Lidya ke kamar mandi. Keduanya menghabiskan waktu di ruangan berukuran 4×3 tersebut sampai 2 jam. Entah apa yang mereka lakukan disana. Yang jelas mereka keluar dengan rambut yang sama-sama basah dan perut yang demo minta di isi.
***
Di kediaman Ersa, ke empat penghuni rumah besar itu tampak tengah menikmati acara televisi yang menayangkan kisah rumah tangga yang penuh dengan konflik. Sinetron yang sudah satu tahun ini tayang namun belum bisa di tebak bagaimana ending dari kisah itu.
"Ckk ... jadi istri tuh yang tegas, kalau suami salah yang di tegur kalau pergi marahin balik," protes Dio yang mulai emosi melihat pemeran utama wanita yang selalu mengalah saat di sakiti.
"Dek, kamu bisa diem nggak sih? Heran deh, dari tadi protes mulu."
"Gimana nggak protes, Kak. Masa di cewek bisanya nangis doang, nggak ada adegan saling jambak atau lempar piring gelas gitu."
"Lu kira film aksi!" Cibir Viona yang juga gregetan dengan tingkah Dio.
"Kalau nggak ada aksinya ya kurang keren lah, Mbak. Apalagi kalau cerita tentang rumah tangga yang ada pelakornya, seharusnya si cewek itu yang tegas kalau perlu di lawan. Pelakor bisa sok cantik, tapi kita harus bisa main cantik. Ya kan kak?" Terang Dio menatap ke arah kakaknya.
"Hmm ... iya juga sih," jawab Diana yang sependapat dengan Dio.
Bukan hanya pendapatnya yang sama. Tapi Diana juga tahu maksud dari ucapan adiknya itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah cara halus untuk menyadarkan Viona agar bisa melawan siapa pun yang berusaha menjatuhkan dirinya.
Sama halnya dengan Viona, gadis itu diam-diam merasa salut dengan pemikiran Dio. Cowok tengil yang usianya masih di bawah batas dewasa tapi cara berpikirnya selalu realistis dan masuk akal. Kalau bukan karena gengsi dan ego yang masih tinggi sebab pertemuan mereka yang kurang baik, Viona pasti akan bertepuk tangan untuk Dio.
"Serah lu bocil," cetus Viona.
"Ckk ... aku gede kali, Mbak. Udah bisa bikin bocil," sewot Dio yang merasa tak terima dengan julukan Viona.
"Serah."
Tak mau membuat suasana semakin panas, Viona memilih untuk pergi dari tempat tersebut. Berjalan ke arah dapyr untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkas kemudian membawanya ke pintu samping, tepatnya di taman belakang dekat dapur. Dan semua gerakannya tak lepas dari pandangan ketiga orang yang masih berada di ruangan tengah.
Saling tatap sejenak, sampai akhirnya dua dari ketiga orang tersebut kompak mengalihkan pendangannya ke satu orang yang berbeda jenis. Menatap wajah tampan itu dengan seksama sampai pemiliknya merasa risih.
"Kenapa sih? Ada yang salah sama ucapanku?" tanya Dio.
Diana dan bi Yaya pun menggeleng kompak.
"Lalu?"
Kedua wanita berbeda usia itu saling pandang sejenak kemudian kembali menatap ke arah Dio.
"Kamu beneran suka sama Viona?"
"Hah?!"
Mendengar pertanyaan dari sang kakak membuat Dio terkejut. Dia bingung mau jawab apa, karena apa yang dia rasakan saat ini belum bisa dia jelaskan dan dia simpulkan. Yang jelas, dia tidak suka dengan penghianatan yang di alami oleh Viona dan juga dia ingin Viona bisa lepas dari pria tak mempunyai harga diri seperti Bayu.
"Dek!"
"I—iya?"
"Jawab!"
"Hmm ... "