Bab 3 Zigras

1202 Kata
Bab 3 Zigras Sekumpulan preman yang telah mengaku kalah bersedia menjadi pengikut Zildan dan Samuel. Mereka menjadi anak buah Zildan dengan di bawah pimpinan Samuel sebagai tangan kanan Zildan. Saat itu juga Zildan membentuk sebuah genk bernama Zigras, genk ini bergerak di sektor s*****a gelap dan n*****a. Mereka bukan sembarangan mengedarkan dan menjual barang-barang tersebut, ada syarat dan kriteria sendiri apakah pembeli layak membeli barang dari Zigras. Perkembangan Zigras sangat pesat belum ada tiga bulan sudah mengalami keuntungan milyaran rupiah, hal ini membuat Zildan tersenyum puas. Usaha Zildan sebenarnya hanya kedok untuk memancing bandar kelas kakap yang di kejarnya hingga tanah Indonesia, usaha yang dibangun selama tiga bulan tidak sia-sia. "Bos, lawan mulai ada pergerakan," ucap Samuel. "Bagus, pancing terus dengan s*****a keluaran terbaru dari pabrik kita yang di Swis!" balas Zildan. Samuel mengangguk mulai mengerti taktik yang di jalankan Zildan, ternyata selama ini hanya pancingan saja. Penggagalan disetiap penyelundupan lawan, Zildanlah pelakunya. "Jadi begini polanya ya, Bos. Aku mulai mengerti sekarang," kata Samuel. "Jangan kamu pikir aku meracuni negaraku sendiri, Sam. Aku datang ke Indonesia mempunyai tujuan yang lebih penting dari semua ini. Ini hanya kamuflase dari tujuan awalku," jelas Zildan. Samuel perlahan mengerti alur yang dijalankan Zildan, untuk mendukungnya, Samuel melatih semua anggota dalam hal taktik perang dan cara bertahan bila suatu saat nanti ada yang tertangkap. Semua anggota Zigras sangat bersemangat melakukan latihan ini. Samuel mempercayai dua anggota Zigras yang bernama Ali dan Rian, mereka berdualah yang selalu ada di markas. "Bang, ini ada pergerakan di daerah pelabuhan perak. Sepertinya kapal asing memasuki teritorial laut hindia," jelas Ali yang berada di depan monitor canggih pada Samuel yang ada di sebelahnya. Samuel yang mendengar laporan itu segera berdiri dan mendekati monitor di hadapan Ali, dilihatnya dengan seksama logo pada badan kapal tersebut. "Ali, perbesar logo di ujung kapal itu. Tentukan koordinat yang pasti, baru kamu perbesar dua sampai tiga kali!" ucap Samuel. "Baik, Bang," kata Ali, segera tangannya bergerak di tut-tut keyboard laptopnya. Tiba-tiba Ali berteriak, "yes! Yes! Dapat," lanjutnya sambil lonjak kegirangan. Samuel yang melihat Ali geleng-geleng kepala, maklum Ali baru mengenal alat canggih setelah bergabung bersama Zigras. Samuel pandai membaca keahlian yang terpendam di masing-masing anak buahnya. Jumlah anak buahnya tidak banyak hanya lima orang tapi cukup memadai kekuatannya dalam segala bidang. "Bang, ini sketsa mobil rancangan terbaruku dengan performa yang lebih canggih dari sebelumnya," ucap Adit bagian bengkel. Samuel menerima sketsa Adit, mempelajari dan mengamati gambar yang ada di depannya. Kemudian dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Zildan. "Zil, kamu tolong segera ke markas. Ini Adit sudah menyelesaikan sketsa yang kamu inginkan!" "Secepat itu, gila juga ya kemampuannya. Baik, tunggu! aku akan segera ke sana." Panggilan di matikan Samuel secara sepihak, kemudian kembali ngobrol dengan Adit. "Dit, kira-kira butuh berapa hari untuk merakit sebuah mobil agar bisa sesuai sketsamu ini?" tanya Samuel. "Jika bahan dan alatnya komplit, Bang, mungkin sebulan sudah selesai perakitan alat ini dalam mobil. Tapi ...," jelas Adit. "Ada apa, Dit. Apa masih ada kendala?" tanya Samuel. "Saya tidak bisa merangkainya sendirian, Bang," ucap Adit dengan kepala menunduk takut akan pandangan Samuel. Melihat tingkah Adit, Samuel tertawa terpingkal-pingkal hingga pintu ruangan itu dibuka dari luar dan muncullah sosok Zildan. Zildan masuk langsung melempar pisau lipatnya ke arah Samuel yang suara tawanya terdengar sampai garasi. Meskipun Samuel tertawa tapi gesekan angin dan gerakan pisau yang melayang dapat dirasakannya, hingga pisau itu dapat di tangkapnya sebelum menyentuh pipinya. Adit yang di depannya terjengkit mundur dua langkah, matanya masih melotot dengan bibir terbuka melihat adegan di depannya. "Bang, hebat sekali kamu bisa menangkap pisau yang di lempar Abang Zildan dengan kecepatan kilat. Ajari aku yaa?" pinta Adit dengam suara lirih. "Ha ha ha .... Kalau sekedar pisau lipat aku masih bisa, tapi jangan minta adu jotos tangan kosong dan s*****a api bila dengan Abang kita satu ini, Dit," jelas Samuel. "Sudah belum ngobrolnya? Tadi katanya sketsa yang aku inginkan sudah jadi, mana lihat?" kata Zildan. Mendengar ucapan Zildan, Adit menyerahkan sketsanya dengan tangan gemetar. "Ini, Bang. Diteliti dulu, apakah sudah sesuai dengan inginnya Abang?" kata Adit. Zildan menerima sketsa tersebut, dilihat dan ditelitinya gambar itu. Dia tersenyum tipis, "kapan kamu bisa mulai proyek ini, Dit?" "Abang, cocok? Tidak ada yang kurang?" "Lanjutkan, aku senang dengan sketsamu. Itu mobil pertama untuk bahan percobaan dari sketsamu itu?" ucap Zildan. "Ini kan, mobil kesayangan, Abang?" kata Adit sambil tangannya mengelus body mobil yang masih mulus dengan warna merah metalik . "Iya, pakai saja mobil itu. Karena mobil itu aku sediakan untuk percobaan," jelas Zildan. "Untuk bahannya semua akan siap dalam dua hari, nanti akan ada barang datang dari Swiss. Tunggu saja!" lanjut Zildan. **** Sementara di rumah bangunan lama rumah Notoprawiryo, Risa telah menyelesaikan latihan jurus yang terlukis di dinding rahasia milik ayahnya, Laksmana. Kini Risa memasuki ruang selanjutnya, yaitu ruang s*****a. Dalam ruangan itu terdapat berbagai macam s*****a yang belum Risa kuasai, tibs-tiba kujangnya bergerak sendiri mencari wadahnya. Risa mengikuti gerakan kujang itu yang berhenti di tumpukan barang rongsok. Ada seberkas cahaya yang keluar dari tumpukan tersebut, kujang yang melayang di udara turun dengan kecepatan cahaya dan masuk ke dalam wadahnya hingga menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. "Di sini rupanya wadahmu berada, mari kembalilah padaku kujang emas!" Seakan kujang itu memiliki telinga, dia melayang mendekati Rini. Kemudian berhenti di telapak tangan Rini yang terbuka seperti tidur dan menghilang begitu telapak tangan Rini tertutup. "Bagus, pintar, sekarang kita belajar memadukan gerakan silat dengan pedang. Bantu aku ta kujang emas," Ucap Risa dengan kujang itu. Kembali Risa menekuni seni beladiri pedang yang ada dalam ruangan itu. Berpegang pada panduan buku tulisan tangan ayahnya. Sudah dua minggu Risa berada dalam ruangan itu, jika ingin makan dan minum telah tersedia dalam kulkas berukuran besar. Risa merasa bosan untuk belajar, kakinya melangkah lebih dalam lagi. Dia berhenti pada pintu yang berbeda dari lainnya, dibukanya pintu itu. Saat terbuka lebar mata Risa melotot dan bibirnya berkata, "sungguh indah dan canggih ruangan ini, bisa terhubung dengan dunia luar." Srjauh mata memandang, tampak hamparan tanah luas di tumbuhi rumput hijau dan bunga aneka warna dengan kolam buatan dan air mancur. Perlahan kaki Risa melangkah mendekati kolam itu. Terdapat ikan yang banyak hampir mengisi penuh kolam itu, Risa yang sangat menyukai daging ikan segera nengambil jaring yang tersedia di samping kolam. "Aneh seperti ada orang yang merawat semua ini, hingga terlihat rapi dan terawat," gumam Risa. "Mari, masuklah dalam jaringku. Aku ingin sekali memakan dagingmu yang tampak lezat bila di bakar" ucao Risa saat jaringnya menyentuh air kolam. Sungguh ajaib, ikan-ikan itu berebut untuk masuk jaring Risa, seakan mereka mengerti ucapan manusia. Enam ekor ikan telah terjaring, Risa tersenyum. "Kalian sangat pintar rupanya, maafkan aku jika membakarmu buat menu makan siangku," kata Risa. Risa segera menyiapkan alat bakar seadanya, karena kakek tidak menyiapkan alat bakar moderen jadi Risa mencari kayu kering yabg ada di sekitar hutan buatan itu. Di kumpulkanbya kayu kering di tumpuk sebusanya dan dinyalakan api dengan cara lama. Risa merasa bingung dan takjub akan kemampuan dirinya yang telah berkembang dengan pesat, dia bisa membuat api tanpa kesulitan hanya dengan menggesek dua tusuk kondenya. "Kau seakan punya telinga dan hati, tiap yang aku ucap kamu mampu melakukan. Terimakasih tusuk konde," setelah berkata Risa kembali menyelipkan tusuk konde itu pada rambutnya yang berguna sebagai penjepit rambut hitam panjangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN