PART 9 UNGKAPNYA

1202 Kata
Gama menatap datar kedepan, hal itu sama dengan Grizella. Niat hati ingin beristirahat karna terus berjalan dari pagi sampai siang yang berakhir mereka kelelahan. Tapi, kedatangan para teman-temannya membuat niat yang sudah di rencana dari tadi ia urungkan. Sebelum mereka sampai di apartemennya, para temannya itu sudah lebih dulu menghuninya. "Gam, gue laper." ucap Grizella yang berusaha mengabaikan suara-suara beton dari para teman Gama. Kebisingan itu membuat Gama kelelahan, ia cape sekali ingin tidur, tapi teman-teman sialannya menganggu waktunya. "Gue masakin ya, cantik?" Salah satu teman Gama menoel dagunya dengan genit. Sontak laki-laki itu mendapatkan tatapan tajam dari Gama. "Ah elahh, posesif amat mas nya," Ryan, laki-laki itu mendesah kesal. Gama memejamkan matanya sambil menghirup udara, lalu membuka kembali, dengan gerakan cepat ia melempar sebuah barang yang ada di mejanya. "Pergi kalian dari sini!" Musik yang sedari tadi mengalun dengan merdu seketika terhenti, semua mata tertuju kearahnya. Salah satu temannya mendekat, lalu menyerahkan remote control yang membuat musik itu menyala dan berhenti. "Pergi guys, pergi," ujar laki-laki yang baru saja menyerahkan remote control itu. Ia tak mau dirinya mendapati amukan dari Gama yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Mereka semua bergegas pergi untuk menghindari amukan Gama. Setelah kepergian mereka, Gama bernafas lega. Ia menatap Grizella yang kini menunduk lesu. "Gue masakin makanan kesukaan Lo," sempat Grizella ingin menanyakan sesuatu kepada Gama, tapi ia urungkan kala perutnya kembali berbunyi dan meminta diisi. Sepertinya ia akan bertanya setelah selesai makan. Tak lama, Gama kembali seraya membawa dua piring yang berisi nasi goreng. Ia menyerahkan satu piring kepada Grizella. Gadis itu dengan semangat menerimanya dan menyodok nasi goreng tersebut kedalam mulutnya. Keduanya hening, sama-sama menikmati makanannya. Sebelum akhirnya, Grizella melontarkan pertanyaan. "Lo tau darimana kalo gue suka banget sama nasi goreng?" Gama menyimpan piring yang sudah kosong itu keatas meja, tubuhnya menyamping menatap lekat Grizella. "Gue tau semua tentang Lo," Grizella memikirkan ucapan yang sebelumnya Reno bilang, apa benar jika selama ini Gama selalu mengikutinya? "Iya, bener yang Reno bilang, gue selalu ngikutin Lo," seolah tau arah pikiran Grizella kemana, sontak Gama yang mau tak mau harus jujur. Grizella meneguk air minumnya hingga tandas, tatapannya yang penuh dengan kebingungan itu menatap Gama penuh tanda tanya. "Kejadian di dalam bus, itu rencana Lo?" tanya Grizella. Gadis itu mencengkram erat gelas yang berada di genggamannya. Gama menggeleng, "itu awal ketertarikan gue," sahutnya. Grizella ber 'oh ria, lalu gadis itu menatap kedepan dimana televisi yang sedari tadi menyala dan mereka abaikan. "Lo, kenapa bisa pergi dari rumah?" Sejak tadi Gama tak mengalihkan sedikitpun pandangan dari Grizella. Hal itu membuat Grizella salah tingkah. Grizella hanya tersenyum, enggan untuk menjawab pertanyaan Gama. Menurutnya, masalah keluarga adalah masalah pribadi. Ia tak mau orang lain mengetahui masalahnya, ia hanya ingin menyelesaikannya dengan sendiri. Tak mau melibatkan orang lain, apalagi para temannya terutama Risha. Gama mendengus, ia merubah posisi tubuhnya jadi menghadap kearah Televisi. Keduanya sama-sama terdiam. "Lo boleh tinggal disini, untuk sementara waktu," setelah mengatakan itu, lelaki berparas sempurna itu berlenggang pergi menuju salah satu kamar. Grizella menatap kepergiannya, ia tersenyum tipis. Lalu, tubuhnya ia rebahkan diatas sofa. "Beberapa hari kedepan gue bakal cari bukti dan membongkar semua rahasia Amara, gue nggak mau menderita sendirian, lagian ini bukan salah gue," bisik gadis itu menatap langit-langit ruangan. Kedua tangannya memeluk erat bantal sofa yang berada di atas perutnya. Matanya memanas, ia tak ingin menangis untuk saat ini. Ia memilih untuk memejamkan mata. "Gue nggak tau masalah Lo apa, Zell. Tapi gue yakin, Lo perempuan kuat, lo bisa lewatin semuanya, gue ada disini, gue bakal jadi support system Lo," Gama mengintip Grizella dari celah-celah pintu kamarnya, sejujurnya ia sangat penasaran dengan masalah yang dihadapi oleh Grizella. Tapi ia juga tak mau mengganggu privasi perempuan itu. Ia akan menunggu agar Grizella bercerita dengan sendirinya. *** Lelaki tampan bak artis Korea ituu mendengus pelan, bau alkohol menyambut kedatangannya kala ia memasuki tempat itu. Tatapan lelaki itu tajam, seakan-akan ingin membunuh siapapun yang menatapnya. Ravendra melangkah ke salah satu kursi yang terdapat kedua temannya. Tak sedikit wanita yang menatapnya seolah mengajak untuk bermain. Tapi ia hiraukan. Kedatangannya ia kemari bukan tanpa tujuan, kedua temannya lah yang menyuruhnya. Ia sangat malas menginjakkan kakinya di tempat kotor seperti ini, selain malas untuk menatap wanita kurang belaian, ia juga malas menghirup bau alkohol yang menyengat di Indra penciumnya. Ia tak pernah merasakan panasnya air minum yang berada di atas meja ini, ia hanya meliriknya sekilas, enggan untuk meminumnya. Padahal, temannya menyediakan air biasa, tapi tetap saja ia tak mau mengambilnya. "To the point," celetuk Ravendra tak mau berlama-lama ditempat yang penuh dengan manusia itu. Tatapan lelaki itu menghunus mata yang sedari tadi menatapnya, membuat sang empu yang ditatap seperti itu bergegas beranjak dari sana. "Tenang, minum dulu, bro!" Ujar salah satu temannya, ia menyodorkan satu gelas kecil kepada Ravendra, Namun hanya di tatap oleh lelaki itu, tak kunjung diterima. Lelaki yang menyodorkan minuman itu menarik nafasnya dan menghembuskannya secara kasar. "Gue tadi ketemu Amara, dia nggak sekolah? Penampilannya nggak kaya biasanya, acak-acakan," Mondi, lelaki itu menyenderkan tubuhnya di kepala sofa tak lupa sebelah tangannya menggenggam segelas alkohol, dan juga sebelah lengan lelaki itu terdapat wanita yang bergelayut manja. "Ada masalah, lagi?" Teman yang satunya ikut bertanya. Mereka berdua sohib terdekat Ravendra, mereka sedikit tau masalah keluarganya, ingat! Hanya sedikit, tidak sepenuhnya. Ravendra terdiam sejenak, sikap dan perilaku Amara memang sangat aneh akhir-akhir ini, hal itu mengundang kecurigaannya. Amara yang terkenal cerita kini wanita itu tidak seperti biasanya, selalu murung dan berdiam diri dikamar. Bahkan, Rico dan Mira selalu membujuknya untuk turun dan berkumpul, tapi Amara selalu menolaknya dengan kasar, sekarang Amara lebih sensitif dan mudah marah. Mungkin ini hormon wanita hamil? "Hm," lelaki berhoodie abu-abu itu nampak berpikir. "Aneh," gumamnya. "Oh iya, Amara juga sering nongkrong dibelakang sekolah, gue liat dia selalu ada disana, nggak mungkin sendiri kan?" Belakang sekolah memang tempat sepi, dan juga tempat mereka nongkrong hanya saja terhalang oleh dinding yang menjulang tinggi. "Sejauh ini, sih, emang ada yang aneh dari sikap adek gue," akhirnya Ravendra angkat bicara. Kedua temannya segera mengusir para wanita kala perbincangan mulai serius. "Dan, juga," Lelaki itu menggantungkan ucapannya ketika ia mengingat sesuatu, matanya menyipit lalu tak lama kedua bola mata itu membulat sempurna bagaikan bola bakso. 'apa jangan-jangan dia yang hamil?' Pikiran Ravendra mulai tak stabil, lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Merasa heran dengan temannya, Mondi yang berada di sebelahnya menepuk pundaknya dengan keras. "Lo tau sesuatu?" Tak kunjung dijawab oleh lelaki yang kini nampak gelisah. Sedangkan orang yang saat ini menjadi perbincangan mereka tengah berjalan tak tentu arah. Kepala perempuan itu menunduk, dengan air mata yang terus berjatuhan dari kedua matanya hingga mengenai sepatu putihnya itu. Hari sudah mulai sore, ia tak ada niatan untuk pulang. Didepan Grizella ia merasa santai, tapi tidak dengan sekarang. Ia frustasi, ia tak tahu harus bagaimana. Mengingat kembali ucapan sang kekasih yang baru beberapa jam lontarkan, ia semakin takut dengan orangtuanya, mengingat bahwa ayahnya yang kejam dan tidak mengenal belas kasihan, meski terhadap anaknya sendiri. Amara mendongak, berusaha menghalau air matanya yang memaksa ingin turun kembali. Pikiran negatif mulai bersarang di otaknya, apa ia harus menuruti keinginan pacarnya? Mengugurkan anak yang tidak diinginkan ini? Lagipula jika anaknya lahir ia tak mau anaknya menjadi bahan ejekan orang-orang, yang lahir tanpa mempunyai ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN