PART 8 KEHANGATAN?

1086 Kata
Akhirnya Grizella dan Gama keluar dari tempat pengap itu. Menurut gadis itu, sangat mudah membuat Reno dan lainnya tertidur pulas. Caranya dengan menyanyikan salah satu lagu anak kecil yang sering ia nyanyikan bersama kedua kakaknya, dulu. Membayangkan kembali saat malam kemarin membuat Grizella terkekeh kecil. Sangat lucu ketua geng itu. Gama terengah-engah menatap sekitar, laki-laki itu membungkuk, dengan kedua tangan yang memegang lututnya. "Lo sebenernya ada masalah apasih?" Grizella mulai mengintimidasi Gama. Keduanya saling bertatapan, membuat Grizella langsung membuang muka. "Cepet jawab!" Gadis itu salah tingkah, sehingga tak sabar menunggu jawaban dan penjelasan dari Gama. "Mereka musuh gue," balasnya. "Apa?" Grizella kembali menatap Gama, merasa tak percaya dengan apa yang Gama bicarakan. "Em," Gama mengangguk polos. "Sorry, udah buat Lo masuk kedalam masalah gue," lanjut Gama dengan rasa bersalahnya. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal dan menatap Grizella dengan cengiran andalannya. Grizella mendengus, ia menatap ke sekeliling. Lagi-lagi ia berada di taman kota, "gue nggak mau lama-lama disini, bisa-bisa gue kena s**l lagi," gumam gadis itu yang masih bisa didengar, dan berjalan meninggalkan Gama. "Oh iya, Lo pulang bareng gue aja. Rumah kita kan sebelahan" Grizella menghentikan langkahnya. Ia mendengus, menatap langit cerah di siang hari. Lalu, gadis itu melanjutkan kembali langkahnya. Dan berkata, "Nggak usah, gue udah nggak tinggal disana lagi," balas Grizella. Kening Gama mengerut, laki-laki lantas berlari menyusul Grizella. Mau bagaimana pun ia berhutang Budi kepada Grizella. "Trus Lo tinggal dimana?" Pertanyaannya bagai angin lalu yang diabaikan oleh Grizella. Gama menghentikan langkah Grizella dengan mencekal tangannya. Ia menatap manik mata gadis itu dengan lekat, "Lo nggak usah tau gue tinggal dimana. Lagian kita nggak bakal ketemu lagi," segera Grizella melepaskan tangannya dari Gama. Ia berniat untuk melanjutkan langkahnya, Namun "Kalo gitu, ikut gue," tanpa menunggu jawaban dari sang empu, Gama menarik tangan Grizella secara lembut. Membuat Grizella mau tak mau harus mengikutinya karena merasakan perlakukan Gama yang tak pantas ia tolak. "Lo mau bawa gue kemana sih?" Kesal Grizella yang sedari tadi mereka berjalan seperti orang linglung yang tak tau arah jalan. "Udah, tenang aja, bentar lagi nyampe kok," ucap Gama. Laki-laki itu masih saja menggenggam tangan Grizella, tak ada niat untuk melepaskannya. Grizella menatap tangannya yang di genggam, ia tak pernah merasakan kehangatan seperti ini, ia nyaman diperlakukan seperti ini. Lantas ia menatap Gama dari belakang, ia mengembangkan senyum kecil. Mereka terus berjalan, sampai lupa bahwa Gama sempat membawa motor tapi tak tahu dimana ia menyimpannya. "Gue lupa, gue kan bawa motor," langkahnya terhenti, ia membalik dan menatap Grizella. Grizella melepaskan tangannya, ia menatap Gama kesal, kedua tangannya menyilang di depan d**a. "Lo sengaja kan, pura-pura lupa biar gue jalan?" Kedua mata Grizella memicing. Gama menggeleng cepat, dengan kedua tangan yang melambai diudara. "Nggak, suer. Kalo sekarang gue ambil motor, pasti jauh lagi. Dan juga, gue lupa dimana naruh motornya, hehe," untung saja Grizella menahan diri agar tidak menampol laki-laki yang menyebalkan ini. Jika di pikir-pikir, kemarin-kemarin pas di bus Gama berlaga seperti laki-laki so cool. Kenapa hari ini laki-laki itu sangat banyak berbicara dan juga cerewet? Tanpa menjawab, Grizella bergegas meninggalkan Gama. Gama tau, Grizella memilih untuk berjalan ketimbang ia mengambil motornya yang entah dimana. Setengah jam kemudian, Grizella menatap horor Gama. "Lo yang bener Aja, matanya sebentar!" ketus gadis itu lalu duduk lesehan. Gama ikut duduk, "ya, Lo sih bawel." "Gue kalo sama Lo s**l mulu heran," bersyukur Gama banyak bicara, Karena dengan hal itu, Grizella bisa meredakan sedikit kesedihannya. Gama melotot tak percaya. "Maksud Lo gue pembawa s**l, gitu?" Grizella hanya memutar bola matanya lelah, terlalu malas menjawab pertanyaan yang tidak penting itu. "Gue lapar, Gama!" Padahal baru beberapa kali ia bertemu dengannya, tapi mereka terlalu cepat akrab. Gama mendengus, ia juga lapar tapi uangnya kan ada di dalam motor. Mau beli, tak punya uang. Ia hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal. Eits, ia hampir lupa dengan posisinya sekarang. Lalu, ia berdiri seraya menarik tangan Grizella yang membuatnya ikut berdiri. "Kita udah sampe, bego." Ujar Gama dan membawa masuk Grizella kedalam apartemennya. Membawa Grizella ke apartment nya Membuat semua penghuni gedung itu menatap kearahnya. Grizella menautkan alisnya, apa yang mereka lihat? Dirinya atau Gama? Atau Gama yang membawa perempuan ke apartemennya? Saat mereka masuk kedalam lift, seorang wanita ikut masuk dan melirik sinis kearah Grizella. Grizella semakin bingung, mengapa perlakukan pegawai disini seperti tak suka melihat Gama membawa seorang perempuan? Apa mereka menyukai laki-laki itu? "Em, Gam. Gue tadi pagi bikin Cake, Lo incip dikit ya?" Wanita itu menyodorkan kue yang bisa dibilang kecil dengan ukurannya. Gama hanya melirik sekilas, wanita itu berada di tengah-tengah Gama dan Grizella hal itu membuat Gama mendengus tak suka. Lantas, laki-laki berparas tampan itu mencekal tangan Grizella dan menariknya mendekat kearahnya sehingga tubuh gadis itu bertabrakan dengan d**a bidang Gama. Tangan Gama melingkar di pinggang ramping Grizella, membuat gadis itu tidak bisa berkutik sedikit pun. Ia menatap Lamat wajah Gama yang terlihat cuek, jika cuek seperti ini ketampanan Gama bisa melebihi Gama menyebalkan. Wanita di sebelahnya menatap tajam kearah Grizella. Saat pintu lift terbuka wanita itu bergegas menarik kakinya keluar, perasaannya begitu kesal melihat perlakuan Gama yang tidak pernah ia terima sebelumnya kepada perempuan lain. Gama selalu mengabaikannya, mau bagaimana pun usahanya, Gama tak pernah meliriknya sama sekali, hati laki-laki itu dingin. Setelah kepergian wanita gatal tadi, Gama masih saja memeluk pinggang Grizella. Sedari tadi gadis itu tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah tampan milik laki-laki yang tengah memeluknya itu. Ia sedikit terpesona dengan ketampanannya, tapi ia juga disadarkan oleh sikap laki-laki itu yang selalu membuatnya naik darah. Grizella berusaha melepaskan pelukannya. Namun, Gama justru mempererat pelukannya terhadap pinggang Grizella. Rasanya kakinya saat ini ingin lepas dari tempatnya. bagaimana tidak, sedari Gama menariknya dan memeluknya tadi, ia terus berjinjit membuat kakinya sangat pegal dan mulai kesemutan. "Gam, sakit," sontak saja perkataan Grizella berhasil membuat Gama menoleh. Wajah laki-laki itu menunjukkan ekspresi khawatir. Lalu ia melepaskan pelukannya, "apa yang sakit?" Grizella sedikit terharu karena perlakuan Gama yang amat lembut. "Kaki gue kesemutan," lantas, Gama berjongkok, menarik kaki Grizella dan menaruhnya diatas paha, laki-laki itu mulai memijit pelan kakinya. "Eh?" Grizella terkejut melihat perlakuan Gama yang terus saja membuat hatinya tak karuan. "Udah mendingan?" tanya Gama mendongak untuk melihat wajah cantik Grizella. Sebelum menjawab gadis itu tersenyum tipis. "Udah nggak sakit kok," lalu ia menarik kakinya kembali dan membersihkan celanan Gama yang sedikit kotor. Setelah pintu lift terbuka, Gama menggandeng lengan Grizella dan keluar dari lift. Grizella menatap tangannya, ada rasa hangat yang menjalar kehatinya dan ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Karna perlakuan Gama yang tidak pernah ia terima dari siapapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN