PART 3 BAHAGIA?

1066 Kata
"sudah saya peringatkan, tidak usah membahas kejadian dulu di depan saya! Saya muak denganmu, saya tak pernah mempunyai anak seorang pembunuh!" bentak sang ibu membuat Grizella memejamkan matanya. Sebelah tangannya yang lolos menyentuh dadanya yang terasa sakit, mendengar ibunya berkata demikian, membuat hatinya sangat sakit. Grizella memberanikan diri menatap ibunya yang kedua matanya sudah mengalir air bagaikan sungai kecil. "Ibu Maafin Zella, kan?" tanya Grizella membuat Mira, ibunya mengalihkan pandangannya dan mendengus marah. "Sampai kapanpun, saya tidak akan memaafkan seorang pembunuh," setelah membuat Grizella sakit hati, Mira meninggalkannya seorang diri. Grizella melemaskan bahunya. Ia menangis tanpa suara, usahanya selalu gagal, orangtuanya sama sekali tak ada niatan untuk memaafkannya. "Aduh, enak banget tamparannya ya?" sahut suara perempuan dari arah pintu masuk. Grizella melirik dan mendapatkan Amara yang kini mengejeknya. Grizella berdiri dan bergegas menuju kamarnya tanpa memperdulikan sang kakak yang kini berjalan mendekatinya. "Tunggu dulu dong, gue kan belum selesai bicara," Amara menahan tangan Grizella saat gadis itu ingin menaiki tangga. Grizella menatap Amara tanpa ekspresi. Amara terkekeh, kedua tangannya bersedekap didepan d**a, punggung gadis itu ia senderkan di pembatas tangga. Menatap Grizella dengan benci. "Udah gue kasih tau, usaha Lo itu sia-sia. Bunda sama ayah nggak bakal maafin Lo," ujarnya seraya menatap kukunya yang diwarnai oleh cat kuku, sesekali menggigitnya. "Lo harusnya bantu gue, kak. Bukannya malah bikin Bunda sama Ayah tambah benci," Grizella menatap Amara dengan tatapan nanar. Sesekali gadis itu melirik pakaian yang dikenakan oleh kakaknya itu. "Seharusnya Lo yang dibenci sama mereka, mereka memangnya mau punya anak seperti Lo? Pakaian Lo aja udah kek j****y," Plak! "s****n Lo, ngatain gue j****y!" bentak Amara setelah menampar pipi Grizella. Grizella kembali memegangi sebelah pipinya, yang terasa sangat perih. Bahkan, sudut bibirnya sedikit mengeluarkan bercak darah. "Emangnya perkataan adikmu ini salah?" Grizella menatap Amara dengan menantang. Ia berani dengan kakaknya itu, menurutnya Amara hanya seekor tikus yang selalu berlindung di balik punggung Orangtuanya. "Gue nggak pernah anggap Lo sebagai adik gue! Gue anak bungsu, dan gue nggak punya adik. Apalagi seorang pembunuh," sekian kalinya perkataan pembunuh yang tertuju kepadanya ia dengar. Tak bisakah mereka tidak membahas tentang pembunuh? Ia terlalu sakit mendengarnya. "Gue tau kelemahan Lo," setelah mengatakan itu, Amara sebelum pergi menepuk pundak Grizella dua kali dan tersenyum miring. Grizella tak bergeming, menatap sang kakak yang berlenggang keluar rumah. Setelah sekian lama ia berdiam diri, gadis itu menggelengkan kepalanya dan bergegas melanjutkan langkahnya yang tertunda. Ia mengunci pintu kamarnya, dan bergegas menuju kamar mandi. Dibawah shower, ia merenung, membayangkan bagaimana jika dirinya yang menjadi Amara? Bukankah kehidupannya akan jauh lebih bahagia daripada saat ini? Tapi ia kembali di sadarkan oleh keadaan, dulu Amara lah yang berbuat kesalahan, tapi dirinya yang menanggungnya. Bukankah Amara terlalu k**i? Disini ia hanya korban, bukan pelaku. Nyatanya, pelaku utamanya adalah kakaknya, Amara. 3 menit gadis itu terdiam, sebelum akhirnya ia menyelesaikan ritual mandinya kala hawa dingin mulai menusuk kulitnya. Ia memakai pakaian tidurnya, perutnya saat ini meminta untuk diisi. Maka dari itu ia bergegas turun ke bawah dan Segera mengisi perutnya. Suara langkah kaki terdengar begitu jelas, Grizella menaruh sendok nya di sisi piring dan menatap seseorang yang baru saja datang. Tanpa mengucapkan kata apapun, seseorang itu mengambil piring dan ikut makan bersama Grizella. Grizella hanya terdiam, ia menunduk takut. Namun, helaan nafas keluar dari mulut seseorang itu. Lantas berkata, "makan." Grizella mendongak, ia tersenyum dan mengangguk. "Gimana sekolah Lo?" hampir saja ia tersedak oleh makanannya, tumben sekali laki-laki dihadapannya menanyakan tentangnya? Ia menatap kembali kakak pertamanya, sejenak ia terdiam dan tersenyum, lalu menjawab, "baik," tak bisa di pungkiri bahwa saat ini perasaan nya campur aduk. Antara senang dan juga sedih. Nampaknya Ravendra mengangguk dan menatap Grizella. "Abang udah maafin Zella?" tanyanya was-was. Ada sedikit rasa takut dihatinya, takut jika Ravendra hanya kasihan padanya. "Gue nggak pernah marah sama Lo," jawaban itu mampu membuat Grizella bungkam. Setitik harapan membuat hatinya menghangat. "Kejadian dulu?" tanya kembali Grizella. Saat ini ia hanya ingin fokus kepada kakaknya, ia biarkan saja makanan yang tersisa banyak di piringnya. Ravendra menghela nafas, "gue tau bukan salah Lo," senyuman yang tak pernah ia perlihatkan kepada siapapun selain keluarganya, itu bisa dilihat oleh Grizella. "Itu kejadian nggak sengaja, dan Lo nggak bersalah, cuman Ayah sama Bunda belum bisa menerima semuanya, Lo yang sabar aja," senyumannya semakin lebar. Grizella menitikkan air matanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, kini ia tak sendiri lagi. Ia benar-benar bahagia meskipun hanya kakaknya yang peduli kepadanya, sabar saja dan tunggu sebentar lagi. "Makasih, bang. Zella bener-bener bahagia," Ravendra terkekeh kecil, ia bergegas berdiri dan melangkah menuju Grizella. Laki-laki tampan itu mengelus punggung adiknya, membuat Grizella segera memeluk abangnya yang ia rindukan sejak dulu. Namun, perkataan dari seseorang menghentikan rasa rindu Grizella kepada Ravendra. "Lepasin Abang gue!" teriak Amara yang saat ini menatap Grizella dengan marah. Grizella menyerka air matanya, ia menatap balik Amara. "Dia juga Abang gue," balasnya. Ravendra hanya diam, ia menatap datar kearah Amara. Apalagi pakaiannya membuat ia enggan menatapnya. "Jam segini baru pulang?" Ravendra membuka suara, laki-laki itu bertanya kepada Amara yang kini berada di sampingnya. Tatapan gadis itu teralihkan kepada Ravendra. "Maaf, bang, tadi aku kebablasan," Ravendra hanya berdehem membuat Amara menatap tajam kearah Grizella. Namun, alih-alih takut, Grizella menatap Amara dengan tatapan mengejek. "Nggak usah tangan pembunuh Lo nyentuh Abang gue!" Ravendra yang mendengarnya tersulut emosi, ia menatap tajam kearah Amara. "Sekali lagi Lo bilang pembunuh gue aduin ke Ayah, kalo Lo pulang malam!" sentaknya membuat Amara beringsut ketakutan. Grizella menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, mengangkat dagunya dan menatap Amara seraya tersenyum kemenangan. Lantas ia menjulurkan lidahnya, mengejek. Kedua tangan Amara terkepal kuat, dan terangkat menjambak rambut Grizella membuat sang empu merintih kesakitan dan berusaha melepaskannya dari Amara. "b**o Lo, sakit, kan?" kekeh Amara memperkuat jambakannya. "Lepasin, Amara!" bentak Grizella kesakitan. "Makanya nggak usah nantang gue!" "Amara!" bentak Ravendra yang sadari tadi menatap kelakuan Amara. "Gue nggak pernah punya adik yang nggak tau sopan santun," serdik Ravendra yang saat ini mencengkram tangan Amara yang membuat jambakannya terlepas dari rambut Grizella. "Apasih, bang? Yang nggak punya sopan santun tuh dia, gue kakaknya, seharusnya dia harus sopan sama gue," Grizella terkekeh mendengarnya. Bukankah tadi siang ia di sadarkan olehnya, bahwa Amara sendiri yang tak menganggap adiknys? "Lo sendiri yang bilang, kalo gue bukan adik Lo," balas Grizella menohok. "Bang, Zella ke kamar dulu, ya?" Ravendra mengangguk dan tersenyum. Sebelum pergi, laki-laki itu mengelus kepala Grizella. Sungguh Grizella merindukan elusannya. Grizella tersenyum, ia bersyukur masih mempunyai abangnya, ia mempunyai tempat mengadu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN