PART 4 HAMIL?

1116 Kata
Pagi-pagi sekali Grizella sudah berada di kelasnya, ia terdiam menatap kedepan. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Gadis itu tak menghiraukan ucapan-ucapan dari para temannya, apalagi Abel yang sedari tadi tak berhentinya berceloteh membuat Shaga dan juga Risha mulai bosan menanggapinya. "Tuh, kan gue bilang apa. Murid baru yang kemarin gue ceritain tuh cowo guys!" pekiknya kegirangan, dengan tak lupa selendang yang selalu dibawa kemana-mana ia gibaskan, membuat ujung selendangnya terkena mata Risha. "Anjir, sakit t***l," ujar Risha seraya mengucek matanya yang perih, lalu gadis itu menatap tajam kearah Abel yang hanya menampilkan cengiran kudanya. "Sorry, gue kegirangan," ucapnya. Shaga terkekeh, menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ada-ada aja tingkah temannya itu. Lalu pandangan laki-laki itu beralih kepada Grizella yang hanya diam. "Kamu kenapa?" tanyanya diiringi tepukkan di bahu Grizella. Grizella menoleh ia menggeleng. "Gue lagi bahagia," balasnya. Risha dan Abel yang mendengarnya segera mendekatkan diri kearah Grizella dan Shaga. "Tumben?" Risha angkat bicara. "Tapi dari wajahnya gue nggak ngerasa kalo Lo lagi bahagia," bingung Abel yang tak menemukan ekspresi bahagia di wajah temannya itu. Meskipun Abel sangat ceroboh, tapi gadis itu sangat teliti melihat ekspresi orang-orang kala tengah berbohong. Grizella mendengus, dan menatap Abel. Ia tau, sampai kapanpun ia tak akan bisa berbohong kepada teman-temannya itu. "Gue bahagia, tapi gue juga sedih," ucapnya seraya menatap satu persatu temannya. Nafasnya mengendus, "udah ahh nggak usah dibahas," sampai akhirnya gadis itu mengakhiri ucapannya. Ia tak mau membuat teman-temannya terbebani oleh masalahnya. Risha yang mengerti pun lantas mengelus punggung Grizella. Ia tersenyum lalu berucap, "apapun masalah Lo, Lo harus tetap semangat!" Abel dan Shaga mengangguk setuju. Membuat senyuman lebar terbit di bibir Grizella. Satu persatu siswa maupun siswi berdatangan, karna jam sudah menunjukkan pukul enam lewat lima puluh menit. *** Nampaknya, perempuan yang saat ini tengah mundar mandir di dalam kamar merasa gelisah. Sebelah tangannya memainkan bibirnya, sedangkan sebelah tangannya lagi memegang benda berukuran panjang yang terdapat dua garis merah ditengah-tengah. Bisa kalian tebak benda apa yang ia pegang? Yap, testpack! Amara terlihat panik sekaligus cemas, pasalnya sedari tadi ia mundar mandir tak jelas di kamarnya, bahkan gadis itu tidak masuk sekolah. Perasaannya campur aduk, ia takut kedua orangtuanya akan marah jika mereka tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Padahal ia dan kekasihnya selalu bermain menggunakan pengaman, kenapa hal ini bisa terjadi? Amara buru-buru menyimpan benda tersebut didalam laci kala pintu kamarnya terbuka dan menampilkan ibunya yang tengah tersenyum ramah. "Amara, kamu kenapa, nak? Kok nggak sekolah," tanya Mira mengelus Surai panjang anaknya itu. Amara menepis rasa gugupnya, ia tak melirik sang ibu yang tengah berbicara, "Amara nggak enak badan, Bund." Balasnya. Mira manggut-manggut. "Yaudah kamu istirahat, ya? Bunda mau keluar sebentar, ada urusan," Amara menatap sekilas ibunya, lantas ia mengangguk membuat Mira berlenggang dari kamar Amara. Ia bernafas lega. Lalu, Amara segera memikirkan cara agar kehamilannya tak diketahui oleh siapapun. Lama ia berpikir akhirnya ia menemukan ide yang menurutnya itu bukanlah ide buruk. *** Sedang asyik-asyiknya bercanda ria, dering telpon membuat mereka mengalihkan pandangannya. Grizella menatap ponselnya sebelum akhirnya ia mengangkatnya. Ketiga temannya, memperhatikan Grizella yang tengah bertelepon dengan seseorang di sebrang sana. Kening Grizella mengerut ketika telponnya telah dimatikan. Ia menatap teman-temannya. "ada masalah dirumah, kayanya gue harus pulang," Risha tau betul apa masalahnya, jika bukan berkaitan dengan keluarganya, lalu apalagi?" Setelah Grizella pergi, Abel menatap Risha dengan wajah kebingungan. "Lo pasti tau sesuatu, kan?" Gadis itu tiba-tiba mengintimidasi Risha. Shaga pun ikut menatap Risha. Risha berdehem, berusaha menetralkan rada gugupnya kala tatapan Abel membuat ia gugup setengah mati. Abel dan Shaga tidak tau masalah Grizella, menurut Grizella, hanya Risha lah yang ia percayai, karna gadis itu sudah berteman baik dengannya sejak SMP. "Sesuatu apa? Gue nggak tau apa-apa," jawab Risha. Abel memicingkan kedua matanya. Lalu ia menegakkan tubuhnya, Setelah ia melihat ekspresi wajah Risha, ia bernafas lega, karna Risha memang mengatakan yang sebenarnya. *** Setelah sampai dirumah, dengan perasaan tidak enak, Grizella memasuki rumahnya. Sedikit demi sedikit ia membuka perlahan pintunya. Prangggg Gelas yang baru saja terlempar oleh seseorang yang membuat gelas itu pecah, Grizella terkejut menatap seseorang yang tengah menatapnya dengan nafas yang terengah-engah. "Ada apa Ayah?" tanya Grizella takut. Sang ayah, Rico menggusur tubuh Grizella untuk mengikutinya kearah gudang. Perasaan Grizella kembali tidak enak, sebenarnya ada apa? Ia melihat sekilas Ravendra hanya melihatnya digusur oleh Rico, tak ada niatan untuk membantunya. "Ayah, Zella melakukan kesalahan apa lagi?" tanya gadis itu, suaranya pelan nyaris tak terdengar. Rico tak menjawab, pria paruh baya itu hanya melempar sebuah benda panjang ke hadapan Grizella. Grizella menatapnya dan meraihnya. Kening gadis itu bertautan, bingung, ibunya hamil? Atau siapa? "Bunda hamil lagi?" Rico berdecih tak suka. Sejak kejadian itu, Rico tak pernah menatap sama sekali kearah Grizella. Ia membenci tatapan gadis itu, ia benci Grizella. "Tidak usah berpura-pura, saya tau itu punya kamu," sontak Grizella melotot tak percaya. Bagaimana bisa benda panjang itu miliknya? Berdekatan dengan laki-laki saja ia tak pernah jika bukan dengan Shaga. "Itu bukan punya Zella, Ayah," lirihnya membuat Rico semakin berdecih tak suka. "Jika bukan punya kamu, lantas punya siapa? Kakakmu?" Grizella menatap sekitar, dan menemukan sang kakak yang tengah menatapnya seraya tersenyum mengejek. Kedua tangan gadis itu, ralat, kedua tangan wanita itu menyilang didepan d**a, dengan kaki yang ikut menyilang dan menyenderkan punggungnya di tembok. "Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Hanya kamu perempuan dirumah ini yang b***t!" bentak Rico, Grizella yang mendengarnya kembali menangis. Maksud kata b***t dari ayahnya apa? Ia tak mengerti. Grizella mendongak, dengan air mata yang mengalir, gadis itu meraih tangan ayahnya. "Ayah, tolong kali ini percaya sama Zella. Zella nggak pernah ngelakuin hal jijik seperti itu," Grizella berusaha menjelaskan, tapi ayahnya malah mendorong tubuhnya yang membuat ia tersungkur kelantai. "Sekalinya b***t, tetap aja b***t, mulai sekarang kamu bukan anggota keluarga kita lagi, kita udah Coret kamu dari daftar kartu keluarga," Grizella menangis, ia berusaha untuk meraih tangan ayahnya, namun nihil, ayahnya selalu menepisnya. "Mulai sekarang kamu keluar dari rumah ini!" setelah itu, Rico beranjak pergi. Grizella menatap sang ayah sendu, apalagi ini ya tuhan? Mengapa cobaan yang engkau berikan berturut-turut? Gadis itu menangis, memukul keras lantai yang tak bersalah. Kepalan tangan gadis itu berdarah tapi ia tak memperdulikannya. Amara hanya melihat tanpa sedikitpun mendekatinya. Ia puas, merasa puas karna hanya dirinya yang kini anak perempuan dirumahnya. Akhirnya ia berhasil menyingkirkan Grizella. Dari dulu, Amara memang sangat membenci Grizella bahkan dari sebelum kejadian itu menimpa keluarganya. Alasan gadis itu membencinya adalah, karna Grizella lebih cantik darinya dan juga lebih pintar darinya, orangtuanya selalu membangga-banggakan Grizella, dan hampir lupa dengan keberadaannya. Bahkan bukan itu saja, seluruh keluarganya memang selalu menomorsatukan Grizella dibandingkan dengannya. Grizella kebanggaan mereka. Tapi untuk saat ini, Grizella bukan apa-apa lagi bagi mereka. Kini terbalik, semua orang membencinya bahkan Grizella tak pernah mereka anggap keberadaannya. Hal itu membuat Amara puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN