"abang beneran pergi dari rumah? Kok bisa sih? Apa ada masalah? Pasti gara-gara Zella, ka?"
Ravendra terkekeh kecil mendengar pertanyaan beruntun dari adiknya ini. Lalu, lelaki itu mengusap punggung Grizella dengan lembut dan menjawab satu persatu pertanyaannya. Agar adiknya ini tidak penasaran lagi.
"Iya, Abang beneran pergi."
"Kok bisa? Ya bisa lah, Abang kan mau sama kamu terus!" Kekeh Ravendra membuat Grizella ikut terkekeh, gadis itu segera memukul pelan lengan Ravendra.
"Kok Abang dipukul sih?" Ravendra meringis seraya memegangi lengannya.
"Zella seneng, Zella kira Abang marah," gadis itu menunduk dengan tatapan sedih.
"Mana mungkin Abang marah sama kamu? Abang nggak pernah marah, apalagi benci. Abang sayang sama Zella," perkataan itu membuat Grizella mendongak dan menatap lekat mata Ravendra yang tengah tersenyum menatapnya.
Gadis itu menghambur kedalam pelukannya. "Makasih Abang. Zella nggak sendiri lagi!"
"Sebelumnya Zella bingung, mau cerita ke siapa kalo Zella punya masalah? Tapi kali ini Zella punya Abang, Zella nggak bakal bingung lagi," celotehan Grizella mampu membuat Ravendra merasa bersalah.
"Maafin Abang," lelaki itu mengetatkan pelukannya, seolah ia tak mau kehilangan Grizella untuk yang kesekian kalinya.
Dalam hatinya, ia bersumpah, tak akan meninggalkan adiknya ini. Sudah cukup Grizella menderita, ia tak akan membiarkannya menderita lagi.
"Kita lupain masalah-masalah sebelumnya, Kita harus hidup bahagia, kita mulai dari awal lagi, ya?
Grizella melepaskan pelukannya, selama beberapa detik ia terdiam menatap Ravendra, lalu ia mengangguk menyetujui ucapan Ravendra.
Ia sudah cape menderita, ia ingin hidup kembali seperti dulu. Kali ini ia akan belajar untuk menjadi orang yang bodoamat, ia tak perduli orang lain mau berbicara buruk tentangnya, ia sama sekali tidak akan pernah memperdulikannya.
"Anak pintar," ucap Ravendra mengusap lembut kepala Grizella.
Grizella terkekeh, ia kembali memeluk tubuh tegap milik kakak laki-lakinya itu.
"Zella kangen," bisiknya.
Ravendra menatap Grizella sendu, tangan lelaki itu mengusap punggung Grizella, membuat sang empu keenakan dan mulai memejamkan kedua matanya.
'maafin Abang."
***
Gama mondar-mandir memegang ponsel, tatapan lelaki itu terpancar ekspresi khawatir. Sudah dua jam ia berdiri di depan pintu, tapi sepertinya, gadisnya itu tidak pernah kembali. Perasaannya tak enak, ia tak mau Grizella meninggalkannya, ia sudah nyaman dengan perempuan itu.
"Aduh Zell, Lo kemana sih?" Gama sedari tadi menelpon Grizella tapi ponselnya itu sama sekali tidak aktif.
Hal itu membuat Gama semakin frustasi.
Lelaki itu mengacak rambutnya, ia duduk di sofa, sesekali ia menatap kearah pintu, siapa tau Grizella pulang. Tapi, satu jam ia menunggu kedatangannya, Grizella sama sekali tak pulang. Bahkan hari sudah berganti dengan malam.
Lelaki itu sudah mengirim pesan beberapa kali kepada Grizella, tapi hasilnya nihil, tak ada balasan apapun dari gadisnya.
"Zella, gue mohon pulang," bisik lelaki itu.
Sepertinya tuhan mengabulkan permohonannya, buktinya, kini seorang perempuan sudah berada di depan pintu. Hal itu membuat Gama menoleh dan segera berdiri.
"Ngapain, Gam?" Grizella yang kebingungan melihat ekspresi wajah Gama.
Bukannya menjawab, lelaki itu bergegas menghambur kedalam pelukannya.
Grizella diam tak bergeming, kedua tangannya bergetar. Kedua matanya membulat dengan mulut yang menganga sedikit.
Ia masih bingung dengan kejadian ini.
"Lo kenapa?" Gama memepetkan tubuhnya dengan tubuh Grizella. Baru beberapa jam di tinggal oleh gadisnya, tapi rasa rindu sudah membuat ia frustasi.
"Diam, gue lagi marah. Gua cuma pengen meluk Lo," ucapan Gama membuat ia bungkam.
Gama marah? Siapa yang sudah membuat lelaki itu marah? Berani sekali orang itu. Aish, jika sudah ketemu dengan orang yang sudah membuat lelakinya marah, ia akan menghajarnya dengan habis. Pikir Grizella.
Grizella mengusap punggung tegap Gama. Ia memberi kehangatan kepada lelaki itu, membuat Gama semakin mengeratkan pelukannya.
Beberapa menit kemudian, Gama melepaskan pelukannya, lelaki itu membalikkan tubuhnya membelakangi Grizella, membuat gadis itu menatapnya dengan bingung.
Lelaki itu mengusap air matanya yang tiba-tiba saja turun. Aduh, ia malu sekali jika Grizella melihat bahwa ia tengah menangis.
Grizella berjalan kehadapan Gama.
"Lo nangis?"
Gama memalingkan wajahnya, tak mau melihat Grizella yang tengah memasang ekspresi menyebalkan. Sepertinya sebentar lagi gadis itu akan mengejeknya. Ah, ia jadi malu.
"Nggak, apaan nangis!" Grizella terkekeh, gadis itu menarik lengan Gama untuk dibawa kearah sofa.
"Coba cerita sama gue," ucap Grizella setelah ia duduk di samping Gama.
"Gak mau!" ketus Gama membuat Grizella kembali terkekeh keras.
"Kenapa hayoh? Kangen, ya?"
Gama tak menjawab, lelaki itu mendelik kesal kearah Grizella yang tengah terkekeh.
"Beneran kangen?" tanya Grizella tak percaya.
"Apasih, Zell!"
"Seharusnya gue yang nanya, Lo dari mana aja? Lo gak liat ini udah jam berapa? Anak perempuan nggak baik pulang malam," cerocos Gama tak henti-hentinya.
"Oh gara-gara itu," Grizella manggut-manggut. Gadis itu menyenderkan punggungnya ke sandaran Sofa. Ia memejamkan matanya, menikmati angin malam yang berasal dari jendela.
Gama mendekat kearah tubuh Grizella, lelaki itu menatap lekat wajah cantik Grizella dari dekat. Ia tertegun dengan wajah polos Grizella, wajahnya tak pernah bosan untuk ia lihat sepanjang hari.
"Ngapain Lo?" Grizella menjauhkan kepalanya dari wajah Gama. Berhadapan dengan Gama membuat hatinya tak karuan apalagi di tatap sedekat ini, sudah di pastikan bahwa kedua pipinya pasti sudah memerah.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" Ucapan Gama membuat Grizella tertegun. Ia menatap Gama tanpa ekspresi. Apa lelaki ini tengah bercanda? Gurauannya sangat tidak lucu!
"Haha apaan sih becanda nya," Grizella tertawa garing, mencairkan suasana yang menurutnya canggung.
"Gue serius, Zell!"
Grizella menghentikan tawanya. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap Lamat wajah Gama.
"Apa?" Bisiknya tak percaya.
"Lo serius?"
Gama mengangguk cepat.
"Iya, gue serius!
"Gue sayang sama Lo, gue cinta sama Lo! Gue nggak mau kehilangan Lo, Zell. Bahkan Lo pergi sebentar aja gue udah kangen, gue nggak bisa," Grizella mengedipkan matanya beberapa kali. Ia tercengang mendengar penuturan dari Gama.
"Gue mau Lo jadi pacar gue, gue mau Lo jadi milik gue!"
"Gue nggak suka di tolak, jadi pilihannya, Ayo pacaran, atau Iya!"
Gama menggenggam tangan Grizella, lelaki itu berharap Grizella menerimanya.
Sejenak gadis itu terdiam, ia mengembangkan senyumnya lalu menjawab, "iya!"
"Iya, dan ayo pacaran," Gama menatap Grizella dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak akan pernah menyangka jika Grizella akan menerimanya. Ini sebuah keberuntungan.
"Makasih," Gama memeluk kembali tubuh Grizella, dan di sambut hangat oleh sang pemilik tubuh.
"Gue janji nggak bakal ngecewain Lo, gue bakal jadi pelindung Lo, gue bakal jadi penyalur rasa sayang gue ke Lo!"
Grizella menenggelamkan kepalanya di curuk leher Gama, ia menikmati tubuh hangat dari lelaki yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya.
Semoga saja, keputusannya menjadi kekasih Gama tidak salah. Dan semoga, Gama selalu menepati janjinya.
"Gue nggak butuh janji, Gam."
"Iya gue tau! Gue bakal buktiin!"
Senyuman manis dari keduanya membuktikan bahwa mereka saat ini tengah berbahagia, rasa lega sekaligus bahagia menghangatkan hati Grizella.
Untuk saat ini, ia menjadi perempuan paling bahagia. Di cintai oleh seseorang yang ia cintai, dan di sayangi oleh seseorang yang paling berharga.
Ravendra dan Gama, saat ini kedua lelaki itu sudah menjadi belahan hidupnya, ia rela mati hanya demi mereka berdua. Sebut saja ia alay, tapi memang itu kenyataannya, ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Ia tau, Gama lelaki baik. Ia takkan membuatnya kecewa, ia yakin, Gama tidak akan pernah membuat ia kecewa, maupun sakit hati.
Ia sudah mempercayai Gama.