Saat ini, bel istirahat sudah berbunyi dengan nyaring. Amara dan temannya berjalan menuju kantin dan bergegas mengisi perutnya yang sudah kelaparan.
Sedari tadi pagi, Amara seperti tidak ada gairah hidup. Tatapan perempuan itu kosong, seolah jiwanya sudah direnggut paksa.
Bahkan, teman-temannya pun heran melihat Amara yang tidak biasanya.
Akhir-akhir ini sikap Amara membuat temannya kebingungan. Apalagi permintaan aneh dari Amara membuat mereka curiga, apa mungkin Amara ngidam? Pikir mereka.
Karena, tempo hari lalu, Amara meminta kepada Najwa untuk membelikannya batagor dicampur dengan kopi. Ia tak masalah jika menuruti keinginan Amara dan membelikannya batagor. Tapi, melihat Amara mencampurnya dengan kopi membuat Najwa tak habis pikir dengan tindakan Amara. Apalagi Amara memakannya dengan lahap.
"Mar, Lo kenapa sih?" Bingung Naira.
Saat ini mereka sudah berada di kantin, Amara terdiam, enggan menjawab pertanyaan Naira.
"Mar, dimakan jangan di aduk terus!" tegur Najwa yang melihat makanan Amara yang malah di aduk-aduk.
"Lo kenapa sih?"
"Hm, akhir-akhir ini sikap Lo bikin kita bingung tau!"
"Apa jangan-jangan Lo hamil?" Bisik Naira membuat Amara meletakkan sendok nya dengan kasar. Perempuan itu menatap Naira dengan tajam.
"Apa? Gue hamil? Ngaco Lo!" Ucap Amara kasar.
Naira terkekeh.
"Biasa aja dong kalo nggak ngerasa mah."
Najwa mengusap bahu Naira.
"Udah, Nai. Amara kesel tuh," ucapnya seraya menunjuk Amara dengan gerakan mata.
"Iya deh sorry," ucap Naira mengalah.
Meskipun dihatinya curiga mengenai sikap dan keinginan aneh Amara, tapi perempuan itu segera menepisnya, ia tak mau berburuk sangka kepada temannya itu.
"Gue akhir-akhir ini nggak liat Ravin, dia pindah sekolah?" tanya Amara tanpa melihat kearah temannya.
"Loh, Lo belum tau?"
Amara menoleh kearah Naira, perempuan itu menaikan satu alisnya.
Naira menghela nafasnya, dan melanjutkan ucapannya. "Ravin udah pindah dari tiga hari yang lalu, gue pikir Lo udah tau. Bukannya Lo sama Ravin pacaran?"
"Apa? Pindah? Nggak, gue nggak tau!" Gertak Amara kesal.
"s****n!" Bisik perempuan itu.
"Dia yang mutusin hubungan sama gue, w******p gue di blok, i********: juga di blok."
"Lo ada masalah apa sama Ravin?" Tanya Najwa seraya memasukan kentang goreng milik Naira kedalam mulutnya.
"Nggak, hubungan gue sama dia baik-baik aja, tapi nggak tau kenapa dia tiba-tiba mutusin gue." Bohong Amara tanpa melihat kearah Najwa.
"Oh iya, hubungan Lo sama Grizella gimana? Masih tetap sama?" tanya Naira penasaran.
"Nggak usah bahas dia!" Ketus Amara mulai jengah dengan pembahasan yang mulai mengenai Grizella.
Ia tau, Naira dan juga Najwa penasaran dengan masalahnya. Tapi ia tak semudah itu memberi kepercayaan kepada orang lain, meskipun Naira dan Najwa sudah berteman baik dengannya, ia tak mau memberitahu masalahnya. Menurutnya, pertemanan bisa saja hancur, ia takut jika benar pertemanannya akan hancur bisa saja Najwa dan Naira membocorkan masalahnya.
Mereka hanya tau bahwa ia dan Grizella tidak pernah akur.
Naira terkekeh, Perempuan itu mengangguk dan mencomot kentang goreng miliknya.
"Lo tau dia siapa?" tanya Amara seraya menunjuk seorang lelaki dengan gerakan matanya.
Naira dan Najwa sontak menoleh.
"Bukannya dia anak baru itu, ya?" tanya Najwa.
Naira menganggukkan kepalanya.
"Hm, katanya sih namanya Gama."
"Kenapa? Lo suka sama dia?" tanya Naira membuat Amara tersenyum manis. Tanpa menjawab pun mereka berdua sudah tau jawabannya apa.
"Gilak Lo, belum lama putus udah ngincar cowok lagi." Naira menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Gue cantik, buat apa gue galmon sama cowok?" Dengan bangganya Amara berkata, ia tak memperdulikan janin yang ada di kandungannya.
Jika Ravin tak mau tanggung jawab, ia akan mencari ayah baru untuk bayinya.
'gue harus tidur sama cowo itu, dan nanti gue bilang bahwa gue sedang hamil anaknya. Dengan begitu, dia nggak bakal tau jika bayi ini bukan darah dagingnya, aaaaah pintarnya Lo Amara!'
"Bantu gue dapetin dia!"
***
Gama mendengus kesal melihat penghuni kantin yang menatap kearahnya. Pandangan mereka membuat ia risih, ini salah satu alasan ia malas untuk pergi ke kantin. Tapi, ketiga temannya itu memaksanya.
"Gue udah bilang, gue males kesini!" Ketus Gama menatap tajam Ryan, sang pelaku yang memaksanya.
Ryan menampilkan cengiran kudanya. "Kalo ada Lo, gue berasa artis dadakan."
"Heem, lagian Lo nggak bosen di taman belakang terus?" Leo mengangguk membenarkan perkataan Ryan. Memang jika istirahat Gama selalu berada di taman belakang, itu tempat paling sepi.
"Udah deh, gue mau balik lagi," ucap Gama kesal dan berniat untuk pergi dari kantin yang membuat ia panas dan pengap.
"Eits, nggak, Lo nggak boleh pergi! Kita belum makan," Ryan menahan Gama, membuat lelaki itu kembali duduk dan menatap kesal kepada Ryan.
"Yaudah cepet pesen!" Ketus Gama, lelaki itu lalu memainkan ponselnya.
Ryan menoleh kearah lelaki yang sedari tadi diam, "Ken, pesen sana."
Ken menoleh, lelaki itu menatap Ryan dan menunjuk dirinya sendiri, "gue?"
"Temen gue yang namanya Ken siapa?" Ucap Ryan memutar bola matanya malas.
"Noh, suruh aja si Leo. Ogah gue mah," balasnya membuat Leo yang sedari tadi memperhatikan perempuan-perempuan cantik pun menoleh.
"Nggak! Lo aja!"
"Gue traktir."
"Oke siap gue aja yang pesen!" pekik Ryan kala Gama menyahut, lelaki itu bergegas untuk memesan makanan.
"Mau aja yang gratisan tuh anak," cibir Ken.
"Tapi Lo juga suka kan?" tanya Leo.
Ken menoleh, "Kalo ada yang nawarin mah, ya gak masalah sih. Lumayan juga uang jajan gue aman." Ucap cowok itu seraya terkekeh geli.
Leo memukul kepala Ken dengan keras, membuat sang pemilik kepala mengaduh kesakitan.
"Sakit anjing!" Umpat Ken.
"Makanan datang!" Dengan girangnya Ryan menaruh nampan yang berisi makanan kedepan ketiga temannya itu.
Gama menyantap makanan yang di pesan oleh Ryan, lelaki itu menoleh kearah kiri ketika merasa dirinya di perhatikan oleh seseorang. Kemudian, pandangannya bertepatan dengan manik mata hitam yang tengah menatapnya.
Lelaki itu menaikan kedua alisnya, membuat seseorang itu menghampirinya.
"Em, sorry ganggu." Ucap seseorang itu ketika berhadapan dengan meja yang di tempati oleh Gama.
Keempatnya langsung menoleh.
"Eh, neng cantik mau ngapain kesini? Mau ikut gabung? Sini duduk," Ken mempersilahkan seseorang itu untuk duduk.
"Namanya siapa neng? Dari kelas mana?" Seseorang itu tersenyum seraya memperkenalkan dirinya.
"Em, gue Amara, dari kelas 12 MIPA 1."
"Oh Amara, namanya cantik kaya orangnya," Ryan cekikikan mendengar ucapannya sendiri.
"Makasih."
"Oh iya, Neng Amara udah makan? Mau Abang siapin?" Gama menatap tajam kearah Ken, lelaki itu sedari tadi sudah kesal, kini ia dibuat kesal kembali oleh kelakuan temannya yang minus akhlak itu.
"Gue udah makan, kalian aja lanjutin makannya. Apa gue ganggu kalian?" tanya Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Gama.
"Nggak! Kita sama sekali nggak ngerasa ke ganggu kok, iya kan?" ucap Leo membuat Ken dan juga Ryan mengangguk.
Amara hanya tersenyum menanggapinya.
"Gue pergi," ucap Gama seraya menaruh uang merah satu lembar di atas meja.
"Loh, dia mau kemana?" tanya Amara melihat Gama yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Ah, palingan juga ke taman belakang." Balas Ken.
Amara mengangguk, dan menyerahkan ponselnya.
"Oh iya, gue boleh minta no dia?"
"Buat apa?" tanya Leo seraya menaikan sebelah alisnya.
"Gue ada urusan sama dia," ucapnya, membuat Leo segera mencatat no Gama di ponsel milik Amara.
"Udah nih."
"Makasih ya! Kalo begitu gue pergi dulu, bye." Ucap Amara melambaikan tangan dan berjalan meninggalkan mereka.
"Kok Lo malah ngasih no Gama sih?" tanya Ken kesal.
"Lah, dia kan minta, ya gue kasih lah!"
Ken dan Ryan menghela nafas kesal, jika Gama tau Leo menyebarkan nomor nya tanpa sepengetahuan lelaki itu, bisa-bisa wajah tampan mereka lenyap dalam hitungan detik, dan di gantikan oleh wajah yang penuh dengan lebam. Ahh, memikirkannya saja membuat mereka bergidik ngeri.