PART 18 APARTEMEN RAVENDRA

1060 Kata
08++++++ Online Ini Gama ya? Kenalin gue Amara dari kelas 12 MIPA 1. _________ "Siapa?" tanya Grizella kepada Gama yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Gama meletakkan ponselnya di atas meja, lalu lelaki itu menghendikkan bahunya tak tahu, "orang iseng." Grizella mangut-mangut, lalu gadis itu kembali mengeringkan rambut Gama menggunakan handuk kecil. "Oh iya, nanti malam gue ada urusan." Gama menghentikan kegiatan Grizella, lelaki itu menghadap kearah sang pacar dengan tatapan bingung. "Mau kemana?" tanya lelaki itu. "Kan udah bilang, ada urusan!" Grizella menepuk kepala Gama beberapa kali. "Iya, urusannya apa?" Saat ini kedua tangan lelaki itu sudah bertengger di pinggang Grizella. "Nggak boleh kepo!" balas Grizella seraya terkekeh. Gadis itu berjalan menjauhi Gama, membuat lelaki itu mencebikkan bibirnya kesal. Kemudian, ia berjalan mendekati Grizella yang sudah duduk di sofa seraya menonton televisi dengan ditemani oleh berbagai cemilan. "Urusan apa, Zell?" tanyanya lagi yang saat ini sudah duduk di samping Grizella. Grizella menoleh, tanpa menjawab gadis itu hanya mengusap kepala Gama dengan lembut, persis seperti memperlakukannya kepada seorang anak kecil. Gama kesal karena pertanyaannya sama sekali tidak di jawab. Lelaki itu menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang bersilang di d**a, bibir lelaki itu memanyun ke depan. Membuat Grizella dibuat gemas. "Ada urusan penting, nanti kalo udah selesai bakalan pulang kok!" Ucap Grizella meyakinkan Gama. "Kamu tau sendiri, aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu," Gama menurunkan tangannya, dan beralih memainkan ujung bajunya. "Cuman sebentar kok!" "Ya tetap aja aku nggak bisa." Grizella mendengus kesal. "Gama, kok Lo jadi gini sih? Dulu Lo nggak kaya gini loh, sekarang Lo kaya anak kecil tau gak!" Setelah mengatakan itu, Grizella pergi menuju kamarnya meninggalkan Gama yang menatapnya dengan kebingungan. "Loh, kok dia yang marah?" Gumam lelaki itu. Kemudian lelaki itu bergegas untuk membujuk Grizella agar tidak marah. "Sayang, bukain pintunya. Tadi aku becanda kok, kamu mau kemana aja juga boleh kok!" Tak ada sahutan dari dalam, hal itu membuat Gama semakin merasa bersalah. "Sayang," panggil Gama seraya mengetuk pintu berulang kali. Lalu, lelaki itu beralih kearah knop pintu, ia memutarnya dan sialnya ternyata pintunya tidak dikunci. Gama mengumpat dengan kesal, kenapa pintu ini tidak bisa bicara sih jika dirinya tidak dikunci? Pikir Gama bodoh. Lelaki itu memasuki kamar Grizella, bisa ia lihat sang gadis tengah berbaring di atas ranjang dengan kepala yang bersembunyi di bawah bantal. Gama duduk di sisi ranjang. "Sayang, Maafin aku, ya?" Cicitnya. Tak ada jawaban dari sang empu. "Kamu mau kemana aja juga boleh, terserah kamu," ucapan itu membuat Grizella menoleh kearahnya. Grizella enggan untuk membalas ucapan Gama, ia memilih menatap Gama yang saat ini tengah menunduk. "Sayanggg, jangan diemin aku!" Gama kesal karena tak ada balasan dari gadisnya, gadisnya itu malah diam sambil menatapnya, membuat ia jadi salah tingkah karena di tatap seintens itu. Grizella duduk, gadis itu lalu beranjak menunjuk sofa ruang tamu. Ia duduk dan diikuti oleh Gama. "Diem, Gam!" tegur Grizella yang saat ini sedang membuka Snack nya. "Maafin aku loh, kamu kok jadi pemarah sih?" Grizella kembali menatap kesal kearah Gama, ia menghela nafasnya dan menaruh kembali Snack nya. "Lo bilang gue pemarah?" tanya Grizella dengan nada tinggi. Gama gelagapan, ia mengutuk mulutnya yang asal bicara. Sudah lah kesal daritadi di tambah perkataan Gama yang membuat mood nya kembali hancur. "Nggak sayang," Gama meraih sebelah tangan Grizella, tapi belum juga mendarat di tangannya, Grizella sudah menepisnya dengan kasar. "Gue pergi dulu!" sentak Grizella dan pergi dari sana. Gama menatap kepergiannya dengan sedih, bagaimana jika Grizella tidak balik lagi? Bisa gawat ini, ia tidak bisa berjauhan dengan gadisnya. "Pulangnya jangan kemaleman," teriak Gama dari ambang pintu, yang di hiraukan oleh Grizella. Gama menghela nafasnya kasar, lalu lelaki itu menutup pintu dan masuk kedalam kamarnya. *** Grizella sampai di tempat tujuannya. Ia membuka pintu dan memasuki rumah yang bisa terbilang rapih itu. Pandangannya membawa ia berkeliling keseluruh penjuru ruangan. Sampai akhirnya, ia menemukan seseorang yang tengah sibuk dengan alat dapurnya. "Abang," panggil Grizella membuat sang Abang menoleh. "Loh, kirain nggak bakal kesini. Duduk dulu, Abang masakin makanan kesukaan kamu," Grizella menurut, gadis itu duduk di kursi makan, yang pandangannya langsung menuju kearah kegiatan Ravendra. Grizella tersenyum. "Oh iya, Abang nggak sekolah?" tanya Grizella. "Kamu juga nggak sekolah, kan?" tanya balik Ravendra membuat Grizella mendengus kesal. Abangnya ini seharusnya menjawab dulu lalu bertanya. "Orang Zella udah di keluarin," lirih gadis itu kesal. Grizella menatap Ravendra dengan sendu, dan menopang kepalanya menggunakan salah satu tangannya. "Mau sekolah lagi? Biar Abang daftarin," Grizella lantas menggeleng. "Nggak usah, kayanya Zella mau kerja aja." Ravendra berbalik, lelaki itu menaruh piring di atas meja. "Abang masih mampu mencukupi kamu, Zell." ucap Ravendra tak suka dengan niat Grizella yang ingin kerja. "Diumur kamu yang segitu, kamu harusnya sibuk main dengan teman-teman kamu, bukan malah sibuk bekerja. Biar Abang aja yang kerja," bibir Grizella berkedut, ia tak bisa menahan senyumannya. "Tapi Abang juga harus sekolah," balas Grizella seraya menyantap makanan yang telah di sajikan oleh Ravendra. Grizella menganggukkan kepalanya karena merasa makanannya benar-benar enak. Memang abangnya ini multitalenta, selalu bisa dengan apa aja. Jempol deh buat masakan abangnya itu. "Enak?" tanya Ravendra. Grizella mengangguk semangat. "Enak banget!" Ravendra terkekeh. "Kalo enak, makanan nya harus di habisin ya?" Grizella mengangguk kembali dengan senyuman yang menghiasi bibirnya membuat kedua matanya menyipit akibat senyumannya. "Abang udah dapat kerjaan," ucap Ravendra membalas ucapan Grizella yang sempat terjeda. Grizella menoleh. "Kerja apa? Dimana?" "Perusahaan orangtua temen Abang." Grizella hanya ber 'oh ria menanggapinya. Lalu gadis itu melanjutkan makannya sampai habis tak tersisa. "Pacar kamu nggak marah kamu keluar malam?" tanya Ravendra yang saat ini tengah membereskan piring bekas mereka. Grizella menghela nafas gusar. Gadis itu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, dan menatap langit-langit ruangan. "Tadi sempet marah." Grizella memang sudah menceritakan semua kejadian dari keluar rumah, sampai ia bertemu dengan Gama. Abangnya itu menangis terharu mendengar ceritanya, bagaimana bisa ada orang sebaik Gama? Bahkan mereka pun baru kenal beberapa waktu, tapi Gama sudah sangat baik kepada adiknya itu. Ia berhutang Budi kepada lelaki itu. "Wajar aja. Kamu sih, Udah Abang bilangin juga nggak usah kesini malam-malam, bahaya tau!" Grizella memutar bola matanya jengah, Ravendra dan Gama memang satu frekuensi sepertinya, hobi sekali mereka menceramahi nya. "Ya kan, kalo siang pasti Abang sibuk!" Ravendra hanya tersenyum menanggapi ucapan Grizella. Ah, rasanya ia sangat senang sekarang. Hanya satu orang saja bisa membuat hatinya nyaman dan lega. Tidak seperti kemarin-kemarin, meskipun banyak orang di sekelilingnya, tapi ia merasa sangat gelisah dan juga frustasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN