PART 19 NYAMAN...

1173 Kata
Grizella membuka pintu apartemen milik Gama, perempuan itu menghela nafasnya ketika melihat Gama yang tengah berbaring di sofa ruang tamu. Kemudian ia mendekat. Ia menatap Lamat wajah damai Gama yang tengah tertidur pulas. Senyuman manis terukir di sudut bibirnya, sebelah tangan gadis itu terangkat untuk membelai rambut Gama. Merasakan usapan lembut dari kepalanya, lantas Gama membuka matanya, ia terkejut mendapati Grizella yang tengah tersenyum kearahnya. Lelaki itu duduk seraya memanyunkan bibirnya. "Lama banget sih!" ujar Gama. Grizella menarik tangannya dari kepala Gama, ia duduk di sebelah lelaki itu. "Maaf, kenapa tidur disini?" tanya Grizella sembari menatap Gama. Gama mendengus. "Nungguin kamu." Grizella terkekeh kecil. "Yaudah Lo pindah ke kamar, lanjutin tidurnya," ucap perempuan itu. Gama mengangguk lalu lelaki itu beranjak dan berjalan menuju kamarnya. Grizella menatap punggung tegap milik Gama sampai menghilang dari balik pintu. Ia mendengus kesal, lalu pergi menuju kamarnya. *** "Gimana? Udah Lo chat?" tanya Naira. Amara mengangguk lemah, perempuan itu sejenak menyuruput minumannya lalu menjawab pertanyaan Naira. "Udah gue chat tapi nggak dibales." "Dibaca?" tanya Najwa penasaran. Lagi-lagi Amara mengangguk. Kedua temannya menghela nafas, padahal menurut mereka Amara memang cantik, tapi ya meskipun lebih cantik Grizella. Banyak lelaki juga yang berusaha mendekati Amara, tapi perempuan itu selalu memilih laki-laki yang masuk kedalam kriterianya. Amara memang pemilih. Saat ini mereka bertiga berada di cafe dekat taman kota, mengingat hari ini adalah hari Sabtu. "Bagaimana pun caranya gue harus dapetin dia!" Keukeuh Amara seraya menekan-nekan sendok kearah piring. Naira mengangguk setuju. "Gue setuju." "Tapi katanya, dia udah punya pacar," ucap Najwa menyadarkan niat Amara. Najwa itu sebenarnya baik, tapi ia juga setia, makanya dia selalu setia kepada Amara. Ia tak mau membuat temannya itu kecewa dan menjauhinya. Dulu waktu SMP, ia tak mempunyai teman, malahan ia sering di-bully habis-habisan oleh teman sekolahnya itu. Tapi waktu Amara datang ke kehidupannya, Amara mengubah semuanya, kini Najwa bukan lagi perempuan lemah seperti dulu. Dulu memang Amara itu murid pindahan sewaktu SMP. Najwa adalah orang pertama yang menjadi temannya di SMP nya dulu. Kalo Naira, jangan tanya, perempuan itu juga berteman baik dengannya saat kecil. Naira teman kecil Amara, tapi se waktu SMP ia pindah ke luar kota, dan SMA ia pindah kembali ke kota asalnya. Meskipun Naira teman kecilnya, tapi perempuan itu sama sekali tidak mengetahui kehidupan Amara. Amara bener-bener menutup kehidupannya dari temannya itu. "Lo lupa siapa gue?" Naira terkekeh mendengar pertanyaan Amara, mereka berdua sangat tau sikap Amara. Jika ia tidak bisa memilikinya, maka jangan harap orang lain bisa memilikinya. Itulah yang selalu di ucapkan Amara. "Haha gue tau, gue tau." Ucap Naira. "Pokoknya, kalian harus bantuin gue! Jika berhasil, kalian bebas minta apa aja dari gue." Senyuman indah terukir dikedua sudut Naira dan juga Najwa. Kedua perempuan itu saling melirik, lalu mengangguk. *** Risha uring-uringan di dalam kamarnya, sudah dua hari ia menghubungi Grizella tapi nomornya itu sama sekali tidak aktif. Bahkan, sudah puluhan pesan ia kirimkan, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada balasan sama sekali. Risha khawatir dengan temannya itu, malahan kedua orangtuanya selalu menanyakan keberadaan Grizella. Apalagi Mala, wanita itu selalu menanyakannya setiap satu jam sekali dengan pertanyaan yang sama. "Apa ada kabar dari Grizella?" Sampai-sampai perempuan itu bosan mendengar pertanyaan mamanya itu. Ia sudah menghubungi Abel dan juga Shaga, tapi kedua temannya itu sama sekali tidak mengetahui keberadaan Grizella. Risha semakin khawatir dibuatnya. Ia takut jika terjadi sesuatu kepada temannya itu, mengingat perlakuan orangtua Grizella kepada anaknya sendiri membuat amarahnya kembali mendidih. Bahkan, ia yang notabenenya bukan siapa-siapanya, ia sangat sakit hati mendengar nya. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua temannya itu. Apa mungkin mereka tidak mempunyai akal sehat? "Gimana, Sha?" tanya Avin yang saat ini berada di ambang pintu. Risha menoleh, perempuan itu menggeleng lemah. Avin menghela nafasnya kasar, "yaudah kamu yang sabar aja. Grizella pasti bisa jaga diri," ucap pria itu menenangkan Risha. Risha mengangguk, membuat Avin pergi dari kamarnya. "Zell, Lo nggak kasian liat orangtua gue? Mereka peduli sama lo, bahkan mereka lebih sayang sama Lo daripada gue," bisik Risha menahan tangisnya, perempuan itu menatap ponselnya yang terpampang wajahnya bersama dengan Grizella. "Gue harap Lo baik-baik aja." *** Grizella mendengus sebal, hari sudah sangat siang tapi Gama belum juga keluar dari kamarnya. Apa mungkin lelaki itu masih tertidur? Lantas, perempuan itu mengetuk pintu kamar Gama berulang kali, berharap sang pemilik kamar segera membuka pintunya. "Gama, buka!" teriak Grizella keras. Sama sekali tidak ada sahutan dari dalam, membuat kesabaran Grizella yang setipis tisu dibagi dua itu habis. Ia menggedor-gedor pintunya menggunakan kakinya. "Gama bangun! Udah siang masih aja tidur!" Ini aneh, tidak seperti biasanya Gama seperti ini. Apa mungkin lelaki itu pingsan? Aduh, semakin khawatir dirinya. Dengan raut wajah yang tengah kepanikan, Grizella mencari kunci kamarnya sendiri, siapa tau kuncinya cocok. "s****n Lo Gama." Perempuan itu mengumpat. Setelah berhasil menemukan kuncinya, ia memasukannya kedalam lubang pintu dan memutarnya membuat pintu itu berhasil terbuka. Grizella menghela nafas lega, ia masuk kedalam kamar Gama yang rapih itu. Lalu pandangannya menuju kearah lelaki yang tengah tertidur di atas ranjang, dengan tubuh atasnya yang polos, tidak menggunakan pakaian apapun. Grizella meneguk ludahnya dengan kasar, melihat bentuk kotak-kotak yang berada di perut Gama membuat ia berkeringat dingin. "G-gam bangun," s**l, kenapa ia mendadak gugup? Grizella memalingkan wajahnya kearah lain, tapi sebelah tangannya berusaha menepuk pipi Gama. Gama hanya berdehem dan membalikkan badannya menjadi membelakangi Grizella. Grizella sedikit bernafas lega, tapi tak lama kala tangan kekar Gama menariknya dan memeluknya dengan erat, membuat tubuhnya dan tubuh Gama berdekatan tidak ada jarak sedikitpun. Grizella tertegun, ingin memberontak tapi tidak bisa, pelukan Gama terlalu erat untuk ia lepaskan. "Gam, lepasin!" Grizella menggoyahkan tubuhnya, berharap Gama segera terbangun dari alam bawah sadarnya. "Gama!" "Lima menit lagi, sayang." Ucap Gama tanpa membuka matanya. Lelaki itu malah menenggelamkan kepalanya dicuruk leher Grizella. Grizella terkekeh, merasa geli karena rambut Gama yang menyentuh lehernya. "Gam, geli." "Diem, Zell." ucap Gama dengan suara seraknya. Jantung Grizella berdetak tak karuan, bahkan hanya suara nya saja mampu membuat jantungnya tidak aman. "Bangun, Gam. Udah siang ish," kesal Grizella, Perempuan itu sesekali meniup rambut Gama yang menghalangi wajahnya. "Hm." Gama hanya berdehem. Setelah itu, lelaki tampan itu mengurai pelukannya, ia membuka matanya dan menatap lembut manik mata indah yang berada di depannya. Ia tersenyum dan dengan gerakan cepat mengecup ujung bibir Grizella. Dalam hati Grizella terpekik kaget, bibirnya keluh hanya untuk menjerit saja. Gama terkekeh, bukannya bangkit dari tidurnya, lelaki itu malah kembali tertidur dan menenggelamkan kepalanya di curuk leher Grizella. Kedua tangan Gama memeluk erat tubuh kurus Grizella. Sesekali lelaki itu mengelus lembut perut rata sang gadis. Grizella menahan ludahnya yang ingin tertelan, ia menatap ke bawah, tepatnya kearah tangan Gama yang kini sudah anteng di atas perutnya. "Gam, lepasin," bisiknya. "Hm?" "Kenapa harus dilepasin? Enakkan gini, nyaman." lanjut Gama membuat Grizella mengumpat kasar yang berarah kepada Gama. "Gue udah masak, takutnya keburu dingin dan nggak enak." Balas Grizella membuat Gama melepaskan pelukannya dan duduk menghadap kearah Grizella. "Oke, gue mandi dulu." Ucap Gama membuat Grizella bernafas lega. "Tapi setelah makan, kita kaya tadi lagi ya?" Grizella menatap kesal kearah Gama yang kini sudah memasuki kamar mandi. "GAMA s****n!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN