PART 20 BUKAN ORANG ASING!

1010 Kata
Sore harinya, Grizella hanya ingin bermalas-malasan di apartemen. Entah kenapa, hari ini ia sangat malas untuk keluar, bahkan membersihkan apartemen saja ia sangat malas. Gama menghela nafasnya kasar, saat ini mereka berada di ruang tamu, dengan berbagai macam cemilan yang tertera di meja, dan jangan lupakan jika mereka kini tengah menonton film horor. Itu permintaan Grizella, gadis itu tiba-tiba ingin menonton film yang menantang. Daritadi Grizella menjerit ketakutan kala hantu yang berada di layar kaca tersebut terpampang jelas, hal itu membuat Gama menatap Grizella jengah. Padahal dia sendiri yang meminta untuk menonton film horor, tapi kenapa ia juga yang ketakutan? "Matiin ya?" Ia tak tega melihat wajah ketakutan Grizella. Tapi ia juga sangat menikmati wajah lucu milik Grizella ketika tengah ketakutan. "No!" Bantah Grizella menatap tajam kearah Gama. Gama menurut, lelaki itu memilih merebahkan dirinya di atas karpet. Grizella mendengus, ia ikut rebahan di samping Gama. Gadis itu mengangkat sebelah lengan Gama untuk menjadikannya temeng persembunyian kala hantu tersebut menampakkan wajahnya. Gama geleng-geleng kepala. "Aaa, Gama s****n itu hantunya jelek amat kaya muka Lo!" Teriak Grizella menutup matanya menggunakan lengan Gama, Jantung gadis itu berpacu lebih cepat dari biasanya. Gama menyembunyikan ekspresi kesalnya. "Muka ganteng gini di samain sama hantu jelek," bisik lelaki itu. Grizella mengabaikan ucapan Gama yang terdengar jelas di telinganya. Ia mengintip layar kaca tersebut dari balik lengan Gama. "Udah ya, matiin?" Gama merubah posisinya menjadi duduk, membuat lengannya tertarik oleh pergerakannya. Grizella menatap tajam kearah lelaki itu dan segera bersembunyi di balik punggung Gama. "Bentar lagi, Gam. Gue penasaran, kenapa dia bisa mati?" Gama hanya bisa bernafas kasar. Lelaki itu menatap kearah televisi, dimana tengah menampilkan adegan yang mengerikan, hal itu membuat Grizella kembali menjerit. Gama memejamkan matanya, seraya menghirup udara dan menghembuskannya secara kasar. Kedua telinganya sangat panas akibat Grizella yang selalu berteriak secara tiba-tiba. "Liat, Gam, liat! Ih anjir pantesan aja mukanya jelek," pekik Grizella memukul pundak Gama berulang kali. Lelaki itu hanya mengangguk dan menatap kearah televisi. "Gila banget tuh orang, masa nge bunuh manusia pake Palu, pantesan mukanya sampe ancur begitu," ujar Grizella seraya menarik tubuhnya dari belakang punggung Gama, film horornya sudah selesai membuat Gama bernafas lega. Ia mengusap kedua kupingnya yang memerah itu. Gama hanya diam, lelaki itu menatap Grizella dengan kesal. "Gama, pesen makanan sana gue laper," Grizella menyuruh Gama seraya menepuk-nepuk perutnya yang lapar itu. Gama mengangguk dan segera memesan makanan. Grizella tersenyum senang, lalu gadis itu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Ia menyalakannya, sudah lama sekali ia tak membuka ponselnya itu pasti banyak sekali notifikasi dari teman-temannya itu. Tuh kan, baru di nyalakan pun sudah terlihat jelas teman-temannya itu mencarinya, terbukti dengan layar ponsel yang menampilkan beberapa panggilan dan juga puluhan pesan. Lalu, gadis itu membuka chatnya dari Risha. Rishaku Online Gue baik-baik aja, Sha. Oh iya, maaf ya udah buat kalian khawatir. Bilangin juga ke papa Avin sama Mama Mala kalo gue baik-baik aja. Kalian nggak perlu khawatir, gue cuman mau nenangin diri aja. Nanti kalo gue udah tenang, gue bakal temuin Lo. _____ Gadis itu mengirimkan beberapa deret kalimat kepada Risha. Ia tak membaca semua pesan dari Risha, pasalnya perempuan itu mengirimkan pesan bukan hanya dua atau tiga kalimat, tapi ratusan, mungkin? Ia sangat malas membacanya. Grizella meletakkan kembali ponselnya dan menyantap makanan yang sudah di pesan oleh Gama. Lelaki itu sudah terlebih dahulu memakannya membuat Grizella menatapnya kesal. "Ngapain natap gue kaya gitu?" tanya Gama dengan mulut yang penuh dengan makanan. Grizella cukup aneh dengan sikap Gama, kadang lelaki itu memanggilnya dengan kata aku-kamu, tapi kadang juga pakai kata lo-gue, mood lelaki itu seperti perempuan, naik turun tidak jelas. Grizella menggelengkan kepalanya seraya memakan kentang goreng kesukaannya. "Lo nggak mau sekolah lagi?" tanya Gama tiba-tiba. Grizella menatap Gama sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab. "Nggak deh, gue mau nyari kerja aja. Nggak enak numpang di rumah orang," balasnya seraya terkekeh. Gama mendengus kesal, Grizella selalu saja menganggapnya sebagai orang lain, padahal status mereka sudah jelas, kan? "Gue udah bilang, gue bukan orang asing Zell!" sentak Gama tak suka. Reflek Grizella menjatuhkan kentang gorengnya yang berada di tangannya, ia menatap Gama dengan wajah sedih, baru kali ini lelaki itu membentaknya. Sebelumnya, lelaki itu mau semarah apapun ia tidak akan pernah membentaknya apalagi memarahinya. "Gam, kok Lo bentak gue?" Gumam Grizella meremas celananya. Gama menatap Grizella, sadar dengan nada bicaranya, lantas lelaki itu memeluk tubuh Grizella yang saat ini tengah menahan tangisnya, terbukti dengan cara bicaranya yang bergetar. "Maaf, aku nggak sengaja. " Ucap Gama membelai rambut Grizella. Grizella tak menjawab, perempuan itu membekam mulutnya sendiri, menahan suaranya yang ingin keluar bersamaan dengan tangisannya. "Aku kan udah pernah bilang, aku bukan orang asing, kamu bukan orang lain di hidup aku. Kamu pacar aku, Zell. apa kurang status kita sebagai pacar?" Grizella menggeleng. Gama tersenyum merasakan gelengan kepala dari Grizella. Ia mengelus rambut Grizella dengan penuh perasaan, sesekali lelaki itu mengecup kepala Grizella. "Kamu mau tinggal disini selamanya pun aku nggak masalah, malahan aku seneng, bisa ketemu setiap hari, liat wajah kamu tanpa bosan. Aku nyaman berada di samping kamu, Zell." Grizella menurunkan tangannya yang membekam mulutnya, perempuan itu semakin mengeratkan pelukannya dan mendengar ucapan Gama dengan seksama. "Jadi, kamu nggak boleh berpikir kalo aku orang lain, aku pacar kamu! Aku siap nafkahi kamu, meskipun status kita masih pacaran." Gama mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Grizella yang sudah basah akibat air mata, lelaki itu menghapusnya menggunakan jari jempolnya. Grizella menatap Gama, air matanya kembali turun. Bukan, itu bukan air mata kesedihan, tapi ia terharu mendengar ucapan Gama. Lelaki itu sangat tulus kepadanya, ia tak mungkin menyia-nyiakan lelaki setulus Gama. Grizella kembali menubruk d**a bidang Gama, kali ini tangisnya ia biarkan. Ia merasa bahagia memilik lelaki sebaik Gama, tuhan memang adil, karna mempertemukannya dengan Gama. Ia bersyukur sekali. "Maaf, Gam. Maaf kalo ucapan gue udah nyinggung perasaan Lo, gue nggak bermaksud," ucap Grizella. "Iya, sayang." "Sekarang, berhenti menangis," perintah Gama. "Nggak bisa," balas Grizella membuat alis Gama bertaut. "Kenapa?" "Susah." Gama terkekeh mendengarnya, ia segera mengeratkan pelukannya dari tubuh Grizella. Angin sore menerpa tubuh keduanya, tapi mereka berdua sama sekali tak kedinginan akibat tubuhnya saling berpelukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN