Kabur dari Perjodohan
“Mommy!” teriak seorang bocah lelaki berusia lima tahun.
Bocah itu menghambur ke pelukan wanita yang baru saja turun dari mobil.
“Zayn, Mommy membawakan burger kesukaanmu. Yuk, kita makan berdua di dalam,” tunjuk April memperlihatkan bungkusan berwarna cokelat di tangannya.
April hendak mengajak Zayn ke kamar, tetapi mendadak sebuah suara bariton memanggilnya dari belakang.
“April, kamu sudah pulang dari kantor? Ayo, ikut Papa ke ruang kerja sebentar,” tandas Tuan Dario.
“Pa, aku baru saja akan menyuapi Zayn,” sanggah April. Pasalnya, ia sudah tahu topik apa yang hendak dibicarakan oleh sang ayah.
Tuan Dario segera berteriak memanggil asisten rumah tangganya supaya mengambil alih tugas untuk mengurus Zayn.
“Leha, bawa Zayn ke ruang makan dan suapi dia!” titah Tuan Dario.
“Baik, Tuan.”
Mau tak mau, April menyerahkan burger yang dia beli ke tangan Leha. Dengan malas, April mengikuti langkah lebar Tuan Dario. Begitu sampai di ruang kerjanya, Tuan Dario menutup pintu lantas menyuruh April untuk duduk.
“Siang tadi Papa sudah bertemu dengan Tuan Handika Raharja. Kami sepakat melakukan kerja sama bisnis sekaligus mengatur perjodohanmu dengan putranya yang bernama….”
“Stop, Pa! Sudah berulang kali kukatakan bahwa aku nggak mau dijodohkan. Aku belum berminat sama sekali untuk menikah,” tandas April dengan tangan bersedekap di d**a.
Kali ini, pria yang rambutnya telah beruban itu nampak tersulut emosi. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke wajah April.
“Lalu apa maumu? Menjadi wartawan majalah yang tidak jelas masa depannya, lalu berpura-pura menjadi ibunya Zayn. Kau pikir akan ada laki-laki yang meminangmu saat Zayn memanggilmu “Mommy”. Seharusnya kau bersyukur karena Papa menjodohkanmu dengan pewaris Mega Media Corp. Dia pria muda yang tampan dan pekerja keras,” tukas Tuan Dario.
“Aku nggak mau menikah, Pa, titik. Daripada Papa sibuk menjodohkan aku, lebih baik Papa cari tahu siapa pria b******k yang sudah menghamili Kak Yuna enam tahun lalu. Laki-laki itu harus mendapat hukuman setimpal karena membuat Kak Yuna melahirkan dalam penderitaan, sampai dia menghembuskan napas terakhir.”
Mendengar ucapan menohok dari putri bungsunya, Tuan Dario membuang napas kasar. Ia pun mengubah strategi dengan cara yang lebih halus untuk membujuk April.
“April, tragedi yang dialami Yuna sudah lama berlalu. Kita tidak perlu mengungkitnya lagi, karena itu hanya akan membuka aib keluarga kita. Sekarang kamu adalah satu-satunya putri Papa, jadi Papa mohon menikahlah dengan anaknya Tuan Handika demi kemajuan perusahaan kita. Cobalah dulu untuk bertemu dengan keluarga Raharja besok Sabtu. Kita akan makan malam bersama dengan mereka di Hotel Favor Five.”
“Nanti akan kupikirkan, Pa. Aku capek, mau istirahat dulu,” jawab April lantas beranjak dari kursi. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, Tuan Dario kembali berbicara dengan penuh penekanan.
“April, kali ini jika kamu tidak menuruti keinginan Papa, lebih baik kamu tinggalkan rumah ini.”
Mendengar ancaman sang ayah, April mengepalkan kedua tangannya. Tekadnya semakin kuat untuk mencoba hidup mandiri. Sebenarnya April sangat berharap agar sang ayah bisa melepaskan sisi egoisnya. Namun hingga detik ini, Tuan Dario tidak pernah berubah. Ia tidak pernah berusaha mencari keadilan untuk Yuna, bahkan dia selalu bersikap dingin terhadap Zayn, cucu kandungnya sendiri.
April sudah bertekad bahwa dia tidak akan mau dinikahkan dengan Jonathan Raharja. Apalagi ia sering mendengar selentingan bahwa putra pemilik Mega Media itu suka bergonta ganti pacar layaknya mengganti pakaian. Bisa jadi pria itu menderita penyakit menular akibat sering berganti pasangan. Sungguh, April merasa ngeri bila bersuamikan pria seperti itu.
Sambil menahan rasa sedih bercampur kesal, April masuk ke kamarnya. Yang pertama kali dilakukannya adalah mengambil ponsel, lalu menghubungi Stella, sahabatnya yang juga berprofesi sebagai wartawan.
“Stel, aku akan pergi dari rumah dan mengajak Zayn. Aku berencana pergi ke luar kota untuk menghindari perjodohan dengan pewaris keluarga Raharja. Tolong bantu aku mencari pekerjaan,” pinta April.
“Hah, kau benar-benar akan pergi? Ke kota mana?” tanya Stella.
“Rencananya ke Jogja. Di sana biaya hidupnya nggak mahal. Selain itu ada Mbok Sumi, mantan pengasuhku semasa kecil dulu. Aku yakin Mbok Sumi bisa menjaga Zayn selama aku bekerja.”
“Hah, kok kebetulan banget ya. Aku punya info lowongan di Jogja, tapi aku nggak yakin kamu mau menerimanya. Selain hampir bangkrut, kantor itu adalah milik Mega Media. Itu artinya kamu akan bekerja di perusahaan keluarga Raharja," tanya Stella ragu.
"Aku pasti mau, Stel. Bos besar mana sempat mengurusi karyawan level rendah di kantor cabang. Mereka nggak akan tahu kalau aku adalah putrinya Dario Ardinata. Katakan apa pekerjaan itu?" tanya April antusias.
"Mega Media punya satu cabang majalah yang hampir bangkrut di Jogja, tetapi sampai sekarang masih dipertahankan karena itu warisan dari pendirinya, Tuan Tanujaya. Sekarang HRD Mega Media sedang mencari wartawan dan fotografer baru untuk memperbaiki keadaan. Apa kamu bersedia ditempatkan di sana?" tanya Stella.
"Aku bersedia. Kapan aku bisa ikut wawancara?" tanya April antusias.
“Nggak usah wawancara dan tes segala, langsung saja berangkat ke Jogja. Lusa aku akan menyusulmu karena aku yang ditugaskan oleh Pak Sigit untuk melakukan seleksi. Nama majalahnya adalah Cinta Budaya. Nanti akan kukirimkan profil majalah itu dan alamat lengkapnya lewat email.”
“Oke, makasih banyak ya, Stel. Kamu memang sahabat terbaikku. Cium sayang dariku untukmu,” ujar April bahagia.
“Dih, jangan cium-cium segala, nanti kesucianku ternoda. Kabari aku secepatnya kalau kamu sudah sampai di Jogja,” jawab Stella.
April mengakhiri percakapannya di telepon, lalu bergegas mengambil koper. Ia akan membereskan barang-barangnya dulu, baru kemudian mengemasi baju milik Zayn. April tidak akan pernah meninggalkan keponakannya itu, karena Yuna sudah memberinya amanah untuk menjadi ibu pengganti bagi Zayn.
‘Kak, maafkan aku karena harus membawa Zayn pergi. Doakan aku supaya bisa merawat Zayn dengan baik. Aku juga akan berjuang untuk menemukan penjahat yang sudah menghamili Kakak,’ gumam April sambil mengusap foto Yuna.
***
“Kepala miringkan sedikit ke kanan, pundak agak turun ke bawah, seperti ini Cantik. Tunjukkan sisi sensualmu,” ujar sang fotografer sambil membenahi pose modelnya.
Fotografer itu melebarkan posisi kaki sang model, hingga bagian paha berbulu putih terekspos sempurna di depan kamera. Tanpa kesulitan yang berarti, sang fotografer mengambil foto dari berbagai arah untuk mencari angle yang terbaik.
“Meong,” celoteh sang model.
“Ah, kau pintar sekali, Cantik. Sesi pemotretanmu sudah selesai,” ucap Raskal mengelus punggung kucing anggora berwarna putih tersebut.
Seorang wanita bergaun hitam maju ke depan, lalu menggendong kucingnya yang menjadi foto model itu.
“Terima kasih, Raskal, kamu sudah membuat Cantik merasa nyaman. Lain kali aku yang akan minta difoto olehmu,” ucap wanita muda itu menyentuh lengan Raskal.
“Oke, aku tunggu, Sil,” jawab Raskal datar.
Perempuan bernama Sisil itu memang selalu berusaha menggodanya, tetapi Raskal enggan untuk menanggapi. Bagi Raskal, ia lebih tertantang bila harus mengejar wanita daripada dikejar.
Selepas Sisil pergi, Raskal bergegas membereskan peralatannya. Namun, ia melonjak kaget saat pundaknya ditepuk dengan keras oleh seseorang.
“Tuan, kenapa masih di sini? Satu jam lagi Anda harus menghadiri makan malam dengan calon istri Anda. Kalau Anda tidak berangkat, Tuan Besar akan menendang saya dari perusahaan,” keluh pria berkaca mata itu dengan napas ngos-ngosan.
“Kalau ditendang ya tinggal masuk gawang, Lang,” jawab Raskal dengan enteng. Ia menyimpan kameranya lalu mematikan lampu-lampu yang masih menerangi studio.
“Jangan begitu, Tuan, saya masih butuh gaji untuk modal nikah. Beda dengan Anda yang tinggal ongkang-ongkang kaki, jepret sana jepret sini, karena mewarisi harta yang tidak bakalan habis tujuh turunan,” omel Gilang.
Raskal menyeringai saat mendengar ocehan asistennya yang cerewet melebihi emak-emak.
“Kurang kalau cuma tujuh turunan. Sekalian tambahin tujuh tanjakan, tujuh tikungan, tujuh belokan, dan tujuh samudera.”
“Asalkan jangan tujuh istri, nanti pusing sendiri bagi giliran,” seloroh Gilang sebal.
Melihat wajah asistennya yang kusut seperti baju belum disetrika, Raskal akhirnya mengalah. Ia segera masuk ke dalam ruang pribadinya, lalu mengganti kaosnya dengan kemeja berwarna biru tua. Tak lupa ia menyemprotkan parfum beraroma maskulin ke seluruh tubuh. Sebagai sentuhan akhir, lelaki muda itu menggunakan gel khusus untuk menata rambutnya yang bergelombang. Lengkaplah sudah ketampanan seorang Raskal Januari Raharja yang paripurna.
“Hey, kenapa malah bengong? Katanya aku harus berangkat sekarang,” tanya Raskal menjetikkan jari di depan wajah Gilang.
“Kalau begini Anda kelihatan lebih ganteng dari Tuan Jonathan.”
“Kamu jatuh cinta padaku ya? Sorry, Lang, aku ini masih pria normal.”
“Amit-amit, mana mungkin saya jatuh cinta dengan lelaki. Itu namanya jeruk makan jeruk,” gerutu Gilang bergidik.
Raskal masuk ke mobilnya sambil berdesah panjang. Sebenarnya, ia sangat kesal dengan perjodohan sepihak yang dibuat oleh sang ayah. Namun karena ayahnya mengancam akan mencoret namanya dari surat wasiat, terpaksa Raskal setuju untuk diperkenalkan dengan putri dari seorang pengusaha properti.
“Kenapa bukan Bang Nathan saja yang dijodohkan, padahal dia sudah siap menikah,” ucap Raskal.
“Tuan Jonathan sudah punya Nona Zavia. Kalau Anda belum jelas pacarnya siapa, makanya Anda yang dijodohkan.”
“Ck, kakakku itu punya sederet wanita dalam hidupnya, bukan hanya Zavia. Harusnya dia yang disuruh menikah supaya berhenti menjadi petualang cinta,” bantah Raskal.
Gilang mengedikkan bahu sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya. Sambil mengobrol tak tentu arah, mereka akhirnya sampai di hotel Favor Five.
“Saya tunggu di lobi saja, Tuan. Nanti kalau sudah selesai, telepon saya,” ujar Gilang.
Raskal mengacungkan jempolnya, lalu buru-buru masuk ke restoran di lantai satu. Merasa dirinya sudah terlambat sepuluh menit, lelaki itu mempercepat langkahnya menuju meja yang dipesan oleh sang ayah. Namun Raskal keheranan karena hanya ada dua orang lelaki paruh baya yang duduk menantinya.
“Pa, maaf aku telat,” ujar Raskal menghampiri Tuan Handika.
“Perkenalkan ini teman sekaligus rekan bisnis Papa, Tuan Dario,” jawab Tuan Handika dengan wajah masam.
Sambil berjabat tangan, bola mata Raskal bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan wanita yang akan dijodohkan dengannya. Namun, ia tidak melihat penampakan wanita tersebut sama sekali.
“Raskal, Om datang ke sini untuk minta maaf kepadamu,” ucap Tuan Dario membuka pembicaraan.
“Maaf untuk apa, Om?” tanya Raskal belum mengerti.
“Soal perjodohan kamu dan April terpaksa harus ditunda dulu, karena…dia pergi tanpa pamit. Om tidak tahu dia ada di mana sekarang,” jawab Tuan Dario dengan suara parau.
Kelopak mata Raskal langsung melebar. Ia tidak menyangka wanita bernama April itu sampai kabur dari rumah hanya karena enggan dijodohkan dengannya. Harga dirinya yang selalu lebih tinggi dari bintang-bintang di langit, mendadak terjun bebas sampai ke dasar laut.
“Ya sudah, Om, nggak apa-apa. Mungkin kami nggak berjodoh,” sahut Raskal berusaha santai.
Padahal hati Raskal kini tengah bergemuruh hebat. Ia bersumpah akan menemukan wanita itu, lalu membuatnya bertekuk lutut di telapak kakinya. Wanita itu layak diberi pelajaran karena berani mempermalukan seorang Raskal Januari.