“Ay.”
Serentak aku mundur, menyebabkan gelas yang kupegang berderak di meja. Astaga ... Bapak Bara yang sangat budiman, tidak bisa ya jangan buat aku kaget? Sudah tahu aku deg-degan kalau dekat sama dia, belum lagi semalam dia ... ergh, sialan banget.
“Biasa saja dong. Saya suami kamu. Kamu lihat saya seperti saya ini maling lho.”
Maling statusku. Sebentar lagi pasti maling badanku juga. sekarang aku paham lubang apa yang dimaksud orang itu. Pagi tadi, aku membuka pesan dari Naomi berupa pernyataan betapa bodohnya aku. Naomi masih mendengarnya dengan baik semua pembicaraanku dengan Bara Budiman tadi malam.
Lubang itu, lubang buat skidipapap, Ay. Kagak bakal dimutilasi, percaya gue deh!
Begitu isi pesannya. Kemarin aku bodoh banget. Mau menikah, tapi aku sama sekali tidak memikirkan bahwa setelah menikah antara suami dan istri pasti skidipapap.
S k i d i p a p a p.
Aku sampai mau menangis dan tadi malam aku memang sudah menangis seperti orang sinting. Rumahku berhasil kembali, tetapi sekarang nasibku tergadaikan di tangan Pak Bara yang sangat budiman ini.
“Pak—mau apa?” tanyaku terdesak.
“Menurut kamu mau apa?” Dia mengerikan dan licik. Kuraih benda apa pun di meja, tatapi tidak ada apa-apa selain gelas ini. “Pagi-pagi ada yang bangun selain saya lho, Ay.”
“A-apa?” tanyaku bingung. Pak Bara senyum miring. Mengerikan sekali. “Ba-bapak mau saya buatkan sarapan? Atau ... jangan mendekat!”
“Saya harus mendekat.”
“Saya lempar gelas ke kepala Bapak ya!”
“Kamu mau KDRT di hari kedua jadi istri?”
Tentu saja, ya! Iya kalau dia berani menyentuh kulitku sedikit saja.
“Saya sudah bayar badan kamu ya, Ay.”
Akan tetapi itu kan—argh! Badanku langsung lemas. Tidak baik, jangan, Ay. Jangan lakukan apa pun. Ayna ... sudah sah kalau mau skidipapap. Jangan takut. Sudah halal!
“Pak ...” rengekku tertahan. Aku meremas meja, badan meluruh ke lantai. Ya ampun, tidak tahu apa yang membuat aku takut menyerahkan diri ke Pak Bara. Aku cuma merasa takut dan terancam.
“Jangan sentuh saya,” kataku tercicit. Sialnya, lelaki itu malah tertawa di hadapanku. Semalam dia mengancam mau perkosa aku. Itu pasti bohong. Mana ada orang mau perkosa tetapi bilang dulu.
“Kamu menghilangkan nafsu saya,” katanya setelah berhenti tertawa. “Padahal enak lho, Ay. Pasti belum pernah, kan?”
Oh, tentu saja.
“Ayo bangun. Jangan begitu,” katanya mengulurkan tangan. Segera kusembunyikan tangan ke belakang tubuh. “Atau ....” Sialan. Sekali licik tetap licik! “Kamu mau saya serang di bawah meja?”
“m***m!” sengitku keras. Pak Bara justru ikut menunduk dan berjongkok di hadapanku. Seketika aku gelagapan. Ough ... jangan main-main di bawah meja, Ayna! Itu mengurangi kebebasan gerakmu!
“Di meja makan juga sensasinya oke sih. Mumpung masih pagi, saya libur ngajar hari ini.”
“Pak Bara ....” Aku tidak bisa lagi bergerak.
“Apa Ayna ....”
Ya ampun! Seksi sih, suaranya masih berat dan memukau. Namun itu adalah jenis seksi yang mengerikan banget.
“Saya buka baju dulu—”
Kupejamkan mata erat-erat. Lelaki ini kurang ajar banget!
“Atau saya bukain punya kamu dulu?”
Aku menggeleng kuat. Siapa pun di rumah ini, tolong selamatkan akuuu!
“Kulitmu halus banget ya, Ay.”
“Pak Baraaa! Jangan sentuh akuuu!”
Dan yang kudengar selanjutnya adalah tawanya menggelegar. Mataku terbuka sedikit. Melihat Pak Bara yang sudah berdiri lagi, aku langsung beringsut dari bawah meja, menjauh darinya. Kuusap air mata di sudut mata dengan tangan. Percayalah, belum pernah aku bertemu lelaki semenyebalkan dia.
“Padahal belum saya sentuh,” katanya mengerling. Aku terbatuk, sial. “Sudah teriak. Belum tahu kalau saya sentuh betulan.”
“p*****l!”
“Kamu bukan anak kecil.”
“Tapi Pak Bara orang tua.”
“Begini juga kamu mau saya nikahi.”
Ya kan ... demi uang! Argh! Kalau tidak memikirkan rumah peninggalan ayah dan ibu, aku juga tidak akan mau menikah dengan sembarang lelaki seperti orang sinting begini.
***
“Bar, Mama Papa pulang lebih cepat. Jagain Ayna. Kalau butuh apa-apa bilang ke Bara ya, Ay.”
Aku mengangguk gugup. Jadi ... akan berdua saja di rumah dengan Pak Bara? Ough ... bagaimana nasibku setelah ini?!
“Nggak puasa pertamaan di sini aja, Ma?”
“Enggak. Obatnya Mama ketinggal di rumah.”
“Hati-hati di rumah,” kata Pak Bara lembut. “Kalau ada apa-apa langsung kabarin.”
Papa baru keluar kamar, sudah siap dengan kopernya. Aku ikut berdiri, mengantar Mama dan Papa ke luar.
“Baik-baik ya, Ay,” pesan Mama. Aku tersenyum, tidak janji. Kalau Pak Bara tidak baik, aku juga tidak akan baik.
Tak lama mobil yang dikendarai Papa dan Mama Pak Bara meluncur pergi. Tersisa aku dan Pak Bara yang sangat budiman ini. Sontak aku keluar, ke teras, sementara Pak Bara masih bertahan di pintu. Saat kutatap, senyumnya jahil.
Ya ampun ... aku serius bilang kalau Pak Bara kehilangan senyum saat interview itu—senyum berwibawanya.
“Apa, Ay?”
“Eng ... nggak!” jawabku cepat. “Panas ya, Pak. Aku mau keluar dulu boleh nggak?”
“Ya nggak boleh, sih.”
Errr. “Ya ya udah, aku di sini saja deh.”
“Mau guling-guling di halaman?”
Ya enggak dooong! Ah, susah sekali. Katanya dosen teknik. Di bayanganku, dosen teknik ya berwibawa, pokoknya tidak seperti Pak Bara yang sangat budiman ini.
“Ayo masuk. Saya beri tahu sesuatu.”
“Apa?” tanyaku horor.
Pak Bara menatapku sebal. “Rumah, Ayna. Bukan apa yang ada di kepala kamu sekarang.”
O-oh. Aku kan jadi lega mendengarnya. “Nggak bohong, kan?” tanyaku tak yakin.
“Saya kelihatan bohong?”
Tidak. Terdengar serius.
“Masuk.”
Baiklah. Aku masuk setelah Pak Bara beberapa langkah ke dalam. Kututup pintu pelan-pelan, lalu berjalan dengan jarak dua sampai tiga meter di belakang Pak Bara. Dia naik tangga, mau ke kamar. Kamar? Kamar?! OMG ...! Mau apa dia bawa aku ke ruangan itu?!
Barangkali menyadari aku yang tidak lagi berjalan, Pak Bara menoleh. “Apa?” tanyanya. Aku menggeleng kuat. “Pikiran kamu nggak bisa ya, bersih sebentar?”
Pikiranku bersih, hanya karena Pak Bara aku jadi sering berpikir kotor.
“Ayna ....”
“Jangan panggil begitu!” desakku tak suka. Kesannya itu seolah aku akan dimangsa singa.
“Saya akan terkam kamu.”
Ough ... bahkan dengan suara Pak Bara yang datar pun, aku dibuat merinding.
“Dan bawa kamu ke kamar.”
Kuputar bola mata. Sial banget. Hidup berdua dengan manusia seperti ini, aku pasti cepat mati.
“Setelah saya bayar status dan tubuh kamu.”
Aku menegang. Jangan bilang—
“Seharusnya sejak itu saya dapat hak saya.”
Sekarang kepalaku pening memutar satu kata secara berulang. Hak hak hak hak.
“Dan saya siap TERKAM KAMU!”
“b******k!”
“Aynaaa.”
Aku berhasil loncat turun dari tiga anak tangga, tetapi Pak Bara tidak. Dia kena sikut dan terdorong ke belakang, mengantuk pada tangga. Kepalanya ... ya Tuhan.
“Bapak!” seruku panik.
“Ayna ... tolong saya,” katanya memelas.
Aku kelabakan. Langsung lari ke tangga dan membantu Pak Bara berdiri. Tidak Ayna ... jangan biarkan Pak Bara mati sebelum waktunya. Hartanya belum beralih padaku, dan paling tidak buat kematian Pak Bara normal.
Otak sialan. Ini bukan soal harta! Soal nyawa manusia!
“Sakit sekali, Ayna.” Aku menatap Pak Bara panik. “Bawa saya ke kamar.”
“Gimana?!”
“Bantu saya ke kamar, Ayna ....”
Bu-bukan. Maksudku, bagaimana caranya aku membawa dia ke kamar. Namun belum terjawab, Pak Bara sudah menarik tanganku, membuat badanku yang kaku menunduk. Tangannya melingkari leher, dan aku langsung paham apa yang harus aku lakukan.
Kubaringkan Pak Bara di kasur. Matanya terpejam, meringis kesakitan. Aku jadi ikutan meringis.
“Pak ...” sebutku panjang. “Jangan buat aku panik.”
“Saya sakit, Ayna.”
“Ta-tapi kan, tadi cuma gitu. Masa sih sakit banget?”
“Ayna ....”
Ya ampun, apa keterlaluan ya. Aku menatap Pak Bara tak tega, tetapi takut juga. “Bapak,” sebutku lagi semakin panik. “Bapak jangan gitu dong.” Kuberanikan diri untuk duduk di pinggiran kasur.
“Pak Bara,” cicitku ketakutan. Please ... aku akan menangis sekencang mungkin kalau sampai Pak Bara mati betulan. Ya Tuhan, Gusti Allah ... jangan buat aku jadi janda sekarang.
Akan tetapi, tanganku yang menyentuh kepala Pak Bara dipegang. Sontak air mataku berhenti menetes dan mataku melotot lebar. Sedetik saja, badanku sudah dilempar, digulingkan dan ditindih. Seringai liciknya muncul, mengerikan dan menyebalkan.
“Saya sudah bayar,” katanya membuatku menelan ludah. “Saya nikmati lima ratus jutanya siang ini.”
Engh ... nooo! “Bapak,” cicitku disertai air mata yang langsung berdesakan mau keluar.
“Lezat sekali ya, Ay.” Bahkan hanya dengan melihat bibirnya dibasahi, aku sudah merinding sampai kaki. “Saya makan kamu.”
“Enggak mauuu.”
“Angr ....” Badannya terangkat, tetapi badanku masih tekunci oleh tangannya. Pak Bara menyeringai lagi dan ....
“Aaa haaa ...!” Aku berteriak sekeras mungkin saat Pak Bara akan menggigit leherku seperti vampir.
Badanku betul-betul ditindih. Namun bukan diperkosa, tetapi hanya ditindih badan Pak Bara yang besar. Suara tawanya mengerikan, tetapi membuatku lega setengah hidup. Meski kini wajahku susah bernapas di bawah dadanya, aku lebih lega.
“Ayna ... Ayna, gimana saya bisa tegang kalau kamu kaya gini.”
Mataku mengerjap berkali-kali sampai dia beranjak dari atas tubuhku. Kata Naomi sifatnya pasti sebudiman namanya, mana buktinya? Dia lebih seperti om-om m***m yang senang mengincar anak gadis. Argh!