Makanan yang enak enggak ada tanding

3277 Kata
"Jadi lo mau muntah?"  Aku mengangguk dengan pandangan mengerat. Naomi menepuk keningnya sendiri, sementara Gia sudah kehilangan kekhawatiran. Maksudku, kini dia tengah memakiku sebagai gadis bodoh dan t***l, sekaligus memalukan. “Aduh, Ay, segitunya?” Bibirku mengerut rapat, masih enggak mengangkat suara. Bagaimana tidak, aku ingat betul caranya bicara, caranya tersenyum licik, dan caranya mengirim uang. “Baru ngebayangin bakal dimutilasi, udah separno itu.” Kakiku menekan lantai sekuat mungkin. Mutilasi bukan persoalan gampang. Ini soal nyawa, kenapa sekarang Gia jadi terlihat sangat santai? Sementara aku semakin panik karena tidak mampu menolak. “Si ibunya Bara Budiman nuduh lo hamil?” tanya Naomi, sia-sia, sebab dia sendiri menjadi saksi bagaimana Bu Arsha tadi repot memaksa Bara Budiman ke apotek untuk membeli test pack. Hasilnya tentu saja negatif. Aku bukan hamil. Namun, ini panik, takut dimutilasi oleh Bara Budiman. Tampangnya memang menggemaskan, seksi, dan menggoda sekali, tetapi juga sekaligus mengerikan. “Tapi jadi nikah, kan?” Mataku langsung menyorot penuh kengerian pada Naomi, sebelum meredup dan berganti dengan tatapan putus asa. “Menurut lo dia orang baik bukan, Mi?” “Kayanya sih ....” Naomi bergumam panjang dengan tangan di dagu. “Kayanya bukan deh. Pasti ada masalah sama dia gitu, Ay, sampai calon istrinya milih selingkuh. Coba deh, lo bayangin.” Aku mengerjapkan mata terkejut. Kenapa Naomi bicara semenakutkan itu? “Orang udah kaya, ganteng, mapan juga, tapi masih diselingkuhin. Pasti ada masalah dalam diri si laki-laki ini. Betul enggak?” Aku menggeleng-gelengkan kepala semakin frustasi, dan lantas mengingat dengan jelas bagaimana Bara Budiman itu membuatku tak bisa berkutik. Naomi benar, pasti ada masalah dalam dirinya. “Ih, Mimi, jangan gitu lho. Kasihan Ayna.” “Eh, bocil gak percayaan.” “Tapi kasihan. Kalau dia kabur beneran gimana coba.” “Ya udah punya duit kabur tinggal kabur.” Sialan banget. Aku meremas ponsel di atas paha. Bercanda yang mengerikan. Rumahku akan kembali, tetapi entah dengan nasibku. Mungkin selepas ini, aku jadi b***k Bara Budiman itu. Jangan-jangan dia pelaku pelecehan seksual, atau KDRT? Ough, tidak-tidak. Naomi menepuk punggungku beberapa kali dengan wajah meringis. “Sorry, enggak, Ay. Sumpah deh, kayanya Bara Budiman punya sifat sebudiman namanya. Ya nggak, Gi?” “Iya, benar. Zayn Malik aja kalah sama Bara.” Ih! Mana ada! Zayn Malik dibandingkan dengan Bara Budiman. Di tengah rasa cemas, aku ingin menangis sekaligus tertawa. “Cie, bentar lagi nikah,” Naomi malah menoel bahuku dengan jarinya. Ini aku lagi deg-degan banget lhooo. “Awas dimutilasi lho, Ay.” “Miii!” Aku dan Gia merengek bersamaan. Rasanya itu ya, mengerikan. Namun Naomi masih sempat bercanda. *** Sepagi kemarin, Naomi dan Gia betul-betul menyusulku untuk dibawa ke kediaman Bara Budiman. Aku tahu ini tanggung jawab, karena bagaimana pun, sebelumnya aku langsung berangkat ke bank untuk menebus sertifikat rumah. Pikiran untuk kabur bergelayut di kepala, tetapi aku tak kuasa. Selalu saja ada bisikan agar aku bertanggung jawab. Ini adalah hubungan mutualisme. Kalau Bara Budiman memang pelaku kejahatan—tapi mana mungkin! Pernikahan ini dihadiri keluarga besarnya yang sama sekali tidak kukenal. Pun, beberapa temannya juga hadir. Mana ada orang jahat mau menikah dengan cara begitu? Sepanjang acara berlangsung perasaanku hanya diisi dengan rasa gelisah. Kenapa tiba-tiba menikah? Bagaimana bisa? Aku tidak mengenalnya. Seharusnya aku merasakan haru biru di sini, tetapi sama sekali tidak. Pernikahan paling tidak berkesan dan mengerikan. Spekulasi tentang Bara Budiman mencuat, memenuhi kepalaku, membuatku selalu menjaga jarak meski kami tengah duduk di pelaminan. Memang acaranya dihadiri cukup banyak orang, tetapi dalam hitungan pernikahan, orang-orang di sini terlalu sedikit. Maksudku, hanya keluarganya dan teman-temannya. Bagaimana kalau mereka semua memang penjahat? Ough astaga, Ayna Larasati yang t***l! Bagaimana bisa mengirim CV untuk menikah tanpa memikirkan lain-lainnya?! Rasanya aku mau menangis malam ini. Sejak tadi, paling tidak Naomi dan Gia ada di sini. Namun mereka sudah pulang satu jam lalu. Dan kini, apa yang kulakukan? Duduk di sebelah Bara Budiman dengan perasaan paling waspada. Gejolak dalam perutku berulah sejak kemarin, tetapi tidak sampai muntah. Hanya sesekali, aku merasa tidak sanggup bernapas. Seolah akan mati. “Baik-baik saja?” “Y-ya?” Aku menoleh terkejut, lalu bergeser berusaha menjauhinya. Seringainya muncul begitu mengerikan, lalu dia bergeser mendekatiku. Ya Tuhan, tolong bilang bahwa malam ini aku akan selamat. “Baik-baik saja?” Dia mengulang pertanyaan dengan badan condong padaku. “Atau ... mau ke kamar?” Ka-kamar? Maksudku, apa kita akan satu kamar? Satu ruangan? Satu ranjang dan satu selimut? Desakan kuat dari mataku menguat, ingin menangis. “Mau ke kamar dulu?” “Y-ya?” “Jangan gugup,” katanya lebih kalem dengan badan kembali tegap. “Nggak akan sakit.” A-apa yang sakit? Memangnya aku bakal dibuat mati rasa? Atau ... dia sejenis orang yang suka menyiksa istri di malam pertama? s**t, kenapa mengerikan sekali. Naomi dan Gia kenapa tega meninggalkan aku sendirian di sini? Kalau aku butuh bantuan, bagaimana Gia bisa menelepon papanya. “Menangislah,” katanya lebih pelan, dan melanjutkan dengan begitu santai, “nanti kamu nggak punya lagi kesempatan untuk nangis.” Ough .... Aku akan selamat kan, malam ini? Atau aku akan mati di hari pertama jadi istrinya? Atau aku akan disiksa sedemikian rupa?! Wahai Bapak Bara Budiman, aku yakin akan jadi arwah penasaran jika malam ini mati di tanganmu, dan hidupmu tidak akan tenang. Bermenit-menit kulalui dengan deru napas tak normal dan keringat dingin. Pandanganku semakin horor saat dia berdiri dan mengulurkan tangan padaku, dan pikiran buruk langsung menyeruak lebih banyak. Ini konyol, aku tahu. Ayna Larasati bukan gadis yang akan punya pikiran seburuk ini. Akan tetapi manusia bisa kalap karena nafsu. Bagaimana kalau setelah tubuhku dipotong, lalu dikubur di bawah lantai rumahnya? Atau dimasukkan ke koper dan dijadikan daging santapan hewan karnivora? Gejolak dalam perutku meningkat. “Jalan atau saya gendong?” Aku menggeleng kuat. Ya Tuhan, banyak orang. Tidak akan ada apa-apa, Ayna. Tidak akan. Selepas memberanikan diri untuk berdiri, dia berjalan di sampingku. “Wajahnya dibuat biasa saja nggak bisa? Kalau kamu nggak bahagia, paling tidak jangan tunjukkan kamu sangat tertekan.” Alisku mengerut dengan napas sesak. Aku memang tertekan, wahai Bara Budiman, seandainya kamu butuh informasi itu. “Saya makan kamu kalau masih begitu.” Napasku kian sesak dengan desakan air mata yang kuat. Ya Tuhan, dia sudah kaya, jangan jadikan dia kanibal. Dia pasti mampu membeli makanan enak di restoran mahal, atau membayar koki termahal di dunia. Dagingku pasti pahit, yang setiap hari harus berkeringat karena pekerjaan. Lagipula— “Mau ke mana?” Aku tersentak ke belakang. “P-pulang.” “Pulang ke mana?” “Ke—” Tidak tahu. Aku harus pulang ke mana ini .... “Saya nggak lupa bilang kalau rumahmu sekarang adalah di rumah saya, kan?” Aku terpaku, sama sekali tak mampu bergerak. Terlebih, saat dia menyeringai menyeramkan. “Saya siap santap kamu.” Tubuhku yang kaku semakin kaku serupa besi saat tangannya menyentuh pipiku, menelusuri sampai ke leher dan berhenti pundak. “Nggak sabar.” Oh tidak .... “Nikmat ....” Semuanya meluap bersama dengan desakan air mata yang meluncur turun dan suara tangisanku. “Ayna?” Aku tidak siap, apa pun yang akan dia lakukan, aku tidak siap. “Jangan nangis, saya bercanda.” Kakiku berubah seperti jelly saat dia menarik tanganku cepat-cepat. Kami melewati beberapa orang, yang agaknya sadar kami masih pengantin baru. Bukannya menolongku, mereka malah tersenyum dan ada yang berucap menjijikkan. “Sabar, Mas. Istrinya takut. Jangan sampai salah lubang.” Aku jadi berpikir semakin keras, sebenarnya apa yang akan dia lakukan pertama kali? Kenapa harus lewat lubang, dan kenapa harus salah lubang. Ada berapa lubang? Naomi dan Gia harus bertanggung jawab soal ini. Dia berhenti di salah satu mobil, mendorongku masuk. Keinginan kaburku sama sekali tidak terealisasi karena langkahnya begitu cepat sampai sudah duduk di sebelahku. “Siap-siap ya ....” Berada dalam ruangan sesempit ini membuatku kehilangan ruang gerak. Apa aku lawan saja dia di dalam sini supaya kami kecelakaan dan mati bersama-sama? Tidak, Ayna. Sama saja kamu yang membunuh orang lain. Argh, bisa-bisanya aku mengirim lamaran menjadi pengantin penggantinya. *** “Naomi.” Jari-jariku teremas kuat begitu panggilan terhubung dengan Naomi. “Oy, kenapa lo? Belum diapa-apain, kan?” Aku menggeleng keras. Semua riasan kepala memang sudah lepas. Aku juga sudah mandi, sudah ganti dengan pakaian tidur yang normal. “Mi, gue takut.” Mataku terus menatap pintu kamar itu lekat-lekat, dan berharap Bara Budiman itu memutuskan tidur di kamar lain. “Kenapa lagi, sih?” “Tadi ada yang bilang,” ucapku tercicit karena mendengar suara derap langkah menaiki tangga. “Salah lubang, gitu, Mi.” Kutelan ludah. Ya Tuhan, jangan bilang Bara Budiman berniat masuk kamar ini. “Salah lubang?” “Iya, Mi. Gue takut, memang orang bisa melakukan kejahatan apa dengan lubang? Lubang apa yang mau dipakai?” Napasku tercekat saat handle pintu berputar diikuti suara decitan tak enak. Ya, pintu itu aku kunci sejak tadi. Sebagai perlindungan diri, paling tidak aku tidak boleh pasrah begitu saja. “Ayna? Belum selesai mandi?” Oh, suaranya wanita. Artinya bukan Bara Budiman. Napasku agak kendur, dan perlahan berjalan dengan ponsel masih di telinga. “Ay, serius nggak tau?” Dari dalam ponsel suara Naomi terdengar jenaka. “Ayna?” “Y-ya,” sahutku cepat. Kunci kuputar sampai berbunyi tanda bahwa sudah terbuka. Lalu kutarik pintu, dan wanita itu adalah Bu Arsha. Senyumnya lembut, pun tatapannya yang sangat keibuan. “Butuh sesuatu enggak?” Otakku berpikir keras, butuh apa yang dimaksud oleh beliau, sampai beliau sendiri yang mengatakannya: “Kalau butuh sesuatu, minta sama Bara atau ke kamar Mama ya. Nggak usah sungkan.” Oh, aku mengangguk kaku dengan otak kosong, linglung. “Ya sudah, istirahat dulu.” Pundakku diusap lembut, dan Bu Arsha pamit pergi setelah itu. Sementara rasanya aku ingin mati saat melihat sekelebat bayangan Bara Budiman di lantai satu. Punggung Bu Arsha yang semakin jauh membuat suasana semakin mencekam. “Ay? Masih sadar, kan?” “Mi ....” “Kenapa lo?” “Gue takut mati.” Mataku begitu awas saat melihatnya lagi dari dapur. Segelas air minum dan sebuah gunting. Melihat benda itu, napasku langsung tercekat. Gelas ataupun gunting sama-sama bisa digunakan untuk menghabisi seseorang. “Takut kenapa?” Bibirku sudah terkatup dan tidak sanggup lagi menjawab Naomi. Mungkin hanya lima langkah lagi, dia akan sampai di hadapanku, dan sebuah kesialan berkali-kali lipat saat kakiku begitu terpaku di tempat. Tidak bisa bergerak sedikit saja. “Ay—” “M-mau apa?” tanyaku tergagap, memotong kalimatnya. “Ya mau tidur.” Tidur kenapa harus membawa gunting? “Oh, gunting?” Dia mengangkat tangan kirinya. “Saya mau melakukan sesuatu.” “Se-sesuatu?” Dia bergumam santai. “Apa?!” Seringainya muncul lagi padaku, serupa serigala yang siap menyantap kancil saat tengah sangat kelaparan. “Mau tahu sekali?” Aku mengerjap dengan jantung yang serasa semakin bertalu, lalu mengangguk kaku. “Masuklah, kamu akan tahu.” Oh, kepalaku menggeleng dengan cepat dengan kaki melangkah ke samping. Paling tidak, Ayna, jatuh dari tangga jauh lebih baik daripada harus mati di tangan Bara Budiman. “Ayna,” sebutnya dengan nada cukup panjang, menghadirkan hawa meremang dan membuat bulu kuduku berdiri. “Ayo masuk.” Dia melanjutkan lagi. “P-pak.” “Ya? Kenapa?” Oh, tidak-tidak. Dia memang sangat mengerikan. “Katakan.” “S-saya enggak enak.” Matanya menyipit, begitu pula dengan alisnya yang mengerut hampir menyatu. “Bapak pasti menyesal.” “Oh, ya? Kenapa saya harus menyesal?” Karena ... karena ... karena apa aku juga tidak tahu. Ah, karena arwahku akan terus mengganggunya sepanjang dia hidup. Namun, belum sempat aku mengatakan apa pun, tiba-tiba tubuhnya sudah berada begitu dekat dengan tubuhku. Seluruh kulit tubuhku terasa dingin, dan gejolak dalam perutku kembali berulah. “Jangan bilang kamu mau muntah lagi.” Namun, tekanan ini terlalu kuat. “Ayna.” “S-saya nggak akan enak. Bapak harus percaya.” Aku melanjutkan setelah dia tersenyum miring. “Makanan saya semuanya enggak enak. Daripada daging saya, lebih enak makanan di restoran.” “Maksudnya kamu mau saya ajak makan ke restoran?” Aku menggeleng cepat. “D-daging saya, pasti pahit.” “Oh,” gumamnya lalu manggut-manggut dengan tangan kiri mengusap dagu, membuat gunting itu teracung mengerikan padaku. “Saya suka yang pahit,” ucapnya tanpa beban, tetapi sangat berhasil untuk membuat sekujur tubuhku mati rasa. “Saya biasa memakan daging pahit.” M-maksudnya? “Gunting ini,” dia mengusap gunting itu seperti mengusap pisau yang berwarna perak dan mengilat, “akan sangat berguna malam ini.” Dan aku, tak tahu. Perasaan ingin menjatuhkan diri ke tangga menguap, tetapi kakiku tak mampu bergerak. Jangankan kaki, mulutku pun tak sanggup terbuka. Ayna, berteriaklah agar Bu Arsha dan suaminya terbangun untuk menolongmu. Namun, bagaimana kalau bukannya menolong mereka malah melakukannya bersama-sama? t***l, sinting. Satu keluarga pasti sama! “Saya merasa seperti ....” Ough, astaga. “Nggak sabar untuk mengisap darah.” “Kanibal.” “Tentu saja!” Aku tersentak mundur sampai mencapai ujung tangga hingga tubuhku berdesir. Namun, tak sempat terjatuh karena tangannya yang membawa gunting dengan cepat meraih pinggangku. Jarak yang terlalu dekat memang tidak baik. Sampai wajahnya, yang kali ini begitu bersih tanpa bulu-bulu di sekitar rahang, serupa wajah vampir pucat yang haus darah. “Kamu mau mati?” Desakan dari seluruh tubuhku meningkat drastis. Kali ini, sebelum isi perut yang menuntut dikeluarkan, air mataku lebih dulu merebak dan keluar dengan cepat. Dia menarikku cepat dan melepaskannya. “Kamu ini.” “Saya belum mau mati,” balasku dengan suara tercicit diselingi isak tangis. “Saya belum lulus. Saya masih muda, belum punya banyak uang.” Sedikit pun, aku enggan menatapnya. Namun, kenapa dia diam saja? Beberapa detik kemudian kepalaku terangkat dan berhadapan tepat di depannya. Sontak aku tersedu lagi. Ketidakmampuan untuk berdiri tegak membuat tubuhku luruh ke lantai. “Hidup saya nggak sehat, pasti Bapak rugi kalau mutilasi saya. Nggak akan ada yang mau beli organ saya yang sudah penyakitan. Nggak ada untungnya membunuh manusia nggak berguna seperti saya.” Kini dia yang mendesah panjang. Gelasnya dipindah ke tangan kiri, dan tangan kanannya terulur padaku. “Ayo masuk.” “Bapak,” aku menatap tangannya, lalu wajahnya, dan terus bergantian seperti itu sampai tangisku pecah lebih keras. “Saya memang tidak mau mutilasi kamu, Ayna,” katanya dengan suara rendah, yang sedikit banyak membuatku lega tetapi belum percaya. “Saya cuma ... mau itu.” Itu apa? Mungkin membunuh dengan cara lain? “Itu, pokoknya bukan apa yang ada di pikiran kamu sekarang.” “Apa?” “Itu ....” Dia mendesah lagi. “Memakan kamu,” dia menatapku begitu rendah, atau putus asa, aku tidak bisa memastikan ekspresinya. “Tapi bukan daging kamu. Ini memakan yang tidak membunuh.” Mataku mengerjap kebingungan. “Makan yang ... sama-sama mengenakkan. yang colok-mencolok.” Seketika aku tersedak lagi mendengarnya. Apakah ini berhubungan dengan lubang dan gunting? “Kamu belum paham ya? Kelihatannya cukup pintar tapi ternyata enggak. Hubungan badan. Seks. Buat anak. Making love. Apa saya harus menggunakan kata seperti itu?” O-oh. Kini, wajahnya kembali menyeringai lebar. “Itu makanan yang enak nggak ada tanding. Makanan restoran pun, kalah.” “Saya belum siap!” kataku, kembali berdesakan dengan air mata. “Bapaaak. Please... beri saya waktu sampai lulus.” Wajahnya betul-betul berubah. Perubahan dari seringai menyeramkan ke keruh dan bengong. Harap-harap cemas aku menunggu, meremasi jari dengan isak tangis yang tidak mau berhenti. “Jangan lupa,” ucapnya, terdengar sebal dan mengancam. “Saya sudah bayar.” Kutelan ludah paksa sebelum memberanikan diri mengajukan penawaran. “Saya kembalikan uangnya. Maksudnya, sisanya.” Aku mengerjap mendapati tangannya meraih tanganku. “S-saya nggak butuh uangnya.” “Tapi saya butuh kamu.” Y-ya, mungkin itu semacam kebutuhan. Namun, tidak sekarang. Maksudku— “Pak!” Dia kembali lagi menjadi mengerikan dengan menarikku ke kamar. “Jangan hamili saya dulu, saya nggak siap.” Kupaksa kaki agar tetap di luar kamar. Dia tidak akan melakukan itu di sini. Kalau nekat, orang tuanya keluar, kami akan malu. Dia pasti masih waras— atau tidak waras? argh! “Saya belum siap ngurus anak sebelum lulus kuliah.” “Makanya segera selesaikan! Kuliahmu saja terlantar. Skripsi belum garap. Kamu kira berapa lama bakal selesai semua itu?!” Tanganku dilepaskan bersama dengan bentakannya. Ya Tuhan, baru malam pertama saja dia sudah sekasar itu. Badanku kembali luruh ke lantai. Dia mana tahu apa yang sudah aku alami. Dia tidak tahu aku melakukan ini dengan kenekatan maksimal, sebagai bentuk usaha terakhirku. Dia kaya dan hidup nyaman, tidak merasakan hidup sendirian, mencari kerja ke sana-sini sampai mengabaikan kuliah. “Kamu ini, cengeng.” Kuseka air mata demi bisa menatapnya. “Bapak nggak tau rasanya jadi yatim piatu. Saya harus cari uang buat hidup dan biayai kuliah saya sendiri. Saya nggak bisa andalkan orang lain. Bapak nggak pernah ngerasain nggak makan sehari cuma biar kuliah saya tetap terbayar.” “Sudah ya, Ay,” katanya lebih pelan. “Kamu bisa tidur nyenyak malam ini. Jangan takut. Saya tidak akan apa-apakan kamu.” Kususut cairan dalam hidung dan mendongakkan kepala. Kenapa perubahannya sangat cepat? beberapa detik lalu dia marah sekali, dan sekarang dia lembut sekali. “Malam besok?” tuntutku. Aku tahu ini tidak tahu diri, tetapi ada yang membuat dadaku selalu sesak saat seorang lelaki menindihku. “Nggak usah takut. Cepat bangun, atau saya paksa lagi.” Aku menggeleng dan berdiri dengan cepat. Meski kaki masih gemetar, tetapi aku berhasil menubruk tubuhnya sampai hampir terjengkang. “Tidurlah,” katanya dengan gelengan kepala. Gelas diletakkan di meja dan gunting ke laci. “Guntingnya memang di sini, tadi saya pakai. Ini saya kembalikan.” Oh, aku berharap dia jujur soal itu. “Ayo, segera tidur.” “Bapak nggak tidur di sini, kan?” Dia langsung menoleh dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun, aku yakin dia sedang protes dengan pertanyaan itu. “Saya nggak bisa tidur selama Pak Bara di sini. Atau saya tidur saja di kamar lain.” Dia mendesah panjang dan berat. “Pak ....” Mataku mengamatinya yang bergerak ke pintu, menutupnya dari dalam, sekaligus menguncinya. “Pak.” “Saya perkosa kalau kamu bicara lebih banyak lagi.” “Bapak memang mengerikan.” “Saya memang mengerikan. Mau tebak seberapa mengerikannya saya?” Aku menggeleng dengan mata melebar. Dia kembali menuju kasur, tanpa beban sama sekali langsung merebahkan diri di pinggiran. “Tidur atau saya perkosa betulan?” Tidak ada yang sudi menerima tawaran untuk diperkosa. “Ayna.” “Janji?” “Tidur.” “Janji dulu nggak akan pegang sekecil apa pun bagian tubuh saya.” Dia mendesah lagi, agaknya sebagai usaha mengendalikan diri agar tidak kesal. “Tidur.” “Bapak nggak mau janji?” “Tidur, Ayna, jadi anak penurut.” Aku jadi teringat kata-katanya, dia senang dengan orang yang penurut. “Besok saya perkosa kamu. Sekarang enggak. Saya nggak punya tenaga cukup untuk itu.” Oh, sial sekali Bara Budiman! “Sudah merasa tenang?” Tidak akan ada orang yang tenang dengan kalimat semengerikan itu. “Segera, tidur atau ....” Secepat kilat aku beranjak dari posisi tadi, memutari ranjang. Jadi apa sejak malam ini aku akan berbagi ranjang dengan Bara Budiman? Bagaimana kalau dia berbohong, dan meraba seluruh badanku saat aku tidur? Ough, sebuah bayangan menjijikkan melintas, membuatku bergidik ngeri. “Kamu harus dipaksa, ya?” “Enggak,” sahutku panjang. Kutarik guling di atas bantal dan meletakkan di tengah ranjang. Tatapannya yang tajam menyorotku. Sebelum ketakutan, aku langsung merebahkan diri di pinggiran ranjang. Sangat pinggir, bahkan jika aku bergerak sedikit saja pasti akan jatuh ke lantai. Baiklah, jatuh ke lantai saat tidur lebih baik daripada bersinggung fisik dengan Bara Budiman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN