Saya beli status kamu sekaligus badan kamu

2121 Kata
    “Jangan gugup!” Bahkan Gia jauh lebih gugup daripada aku. Hanya Naomi yang tampak lebih tenang. Naomi pula yang membantu aku persiapan selama dua jam ini. “Gue siap telepon papa kalau lo diapa-apain.” Oke ... punya teman anak polisi memang bisa sedikit diandalkan. Namun, bahkan aku belum tahu apa yang akan terjadi di sana. “Tapi kalau lo diapa-apain, please lo teriak ya, Ay.” “Mungkin aja ruangannya kedap suara,” timpal Naomi. Gia langsung mengerutkan alisnya, menatap Naomi tak suka. “Jangan boleh ditutup dong pintunya, Ay.” “Mungkin aja bakal banyak yang jaga di sana. Bukannya kita bisa bantu, malah kita ikutan jadi korban.” “Mimiii! Kenapa sih doanya jelek terus?!” Aku juga kesal. Naomi berpikir jauh, tetapi membuatku sampai merinding. Mobil yang dikendarai Naomi belok ke kiri. Berdasarkan google map, lokasi tujuan hanya tinggal beberapa meter lagi. Masih ada lima belas menit dari waktu yang ditetapkan. Tak lama, mobil Naomi berhenti di depan sebuah rumah. Besar, kelihatan mewah. Sekelas dengan rumah lain yang ada di daerah ini. “Coba lihat dong, Ay. Bener ini bukan?” “Benar.” Bahkan aku bisa mengingatnya dengan baik hanya dengan melihat gambar yang dikirim melalui email tadi. Mataku langsung terpaku pada sosok yang tengah berjalan ke arah mobil Naomi. Dia memakai jas, terlihat cukup dewasa—atau tua. Ini Bara Budiman? Lelaki setua ini yang sedang mencari pengantin pengganti? Ough, bibirku merapat dengan jantung bertalu. Ya Tuhan, kalau benar, aku pilih mati saja. Aku tidak rela menikah dengan lelaki setua ini. “Permisi.” Bibirku bungkam sementara Naomi membuka kaca mobilnya, membalas sapaan lelaki itu. “Apakah anda Ayna Larasati?” “Teman saya, di belakang, Ayna Larasati.” Naomi menunjukku. “Bapak Bara Budiman?” tanyanya langsung, mewakili pertanyaan terbesarku juga. “Bukan.” Aku tidak mampu menahan helaan napas lega saat mendengar jawabannya. Lelaki itu tersenyum hangat. “Saya pendamping Bara Budiman. Saudara bisa masuk dulu.” “Nggak usah!” sahutku cepat. Menyadari sudah setengah berteriak, aku menatap lelaki itu dengan rasa bersalah. “Maksud saya masih ada beberapa menit lagi. Saya bisa menunggu di mobil dulu.” “Bisa menunggu di dalam. Sambil minum teh sebentar.” “Saya menunggu di sini saja, Pak,” ujarku sopan. Pendamping Bara Budiman itu tersenyum, lalu mengangguk dan pergi. Kuhempaskan punggung ke kursi. Astaga ... seolah aku akan bertaruh nyawa di sini. Bagaimana tidak, 12 April itu hanya empat hari lagi. Artinya, jika aku sepakat untuk jadi pengantin pengganti Bara Budiman, aku akan menikah dalam empat hari lagi. Siapa yang sudi menikah dadakan? Aku sama sekali tidak mau seperti itu. “Tenang, Ay ... tenang. Nggak boleh gugup.” Gia mengusap pundakku. Namun, dia yang paling gampang gugup di antara kami bertiga. Wajahnya pasi sejak kedatangan lelaki tadi, dan baru mampu bersuara sekarang. “Kayanya enggak serem sih, seperti rumah biasanya.” Naomi melongok dari pintu mobil. Aku pun berharap apa yang dikatakan Naomi itu benar. Lagipula, di daerah seperti ini, seharusnya tidak ada penjahat yang mau melakukan tindakan kejahatan di sini. Bermenit-menit berlalu dengan cepat. Pendamping Bara Budiman datang lagi, kali ini aku tidak menolak. Gia sampai menahan tanganku sambil berbicara hal-hal menakutkan. Kakiku, jangan ditanya lagi, sudah gemetar dan dingin semenjak meninggalkan mobil. Rumah bercat abu-abu, besar dan mewah itu semakin dekat semakin menakutkan. “Tidak perlu gugup. Interview-nya nggak akan sulit,” kata Pendamping Bara Budiman. Aku tersenyum, tak enak. Bukan itu yang membuatku sampai gemetar. Pintu dibuka dan aku langsung dihadapkan dengan seorang wanita yang sudah duduk anggun di sofa. “Istri saya, juga pendamping Bara Budiman.” Aku mengangguk. Duduk di depan sepasang suami istri untuk interview menjadi calon istri Bara Budiman ternyata agak menegangkan. Ralat, sangat menegangkan. “Perkenalan dulu, Mbak Ayna. Saya Galih, istri saya Arsha. Kami sudah cukup lama mengenal Bara Budiman, dan kali ini ditunjuk sebagai pendamping Bara Budiman. Selanjutnya, Mbak Ayna silakan perkenalkan diri dulu.” Aku gugup. Namun sebisa mungkin mengeluarkan suara normal. “Saya Ayna Larasati, mahasiswi Pendidikan Ekonomi semester delapan.” Aku terdiam, bingung bagaimana harus memperkenalkan diri lebih jauh. “Baik. Kami sudah baca formulir yang dikirim oleh Mbak Ayna. Bisa diceritakan latar belakang keluarganya?” Aku mengangguk. “Ibu saya Larasati, meninggal dunia dua tahun lalu. Saya anak tunggal, dan setelah ibu saya meninggal, saya merawat ayah saya. Namun Ayah saya berpulang tidak lama kemudian.” “Jadi sekarang sendirian?” tanya Bu Arsha. Aku menggeleng. “Sekarang saya tinggal bersama paman dan bibi.” Dan pertanyaan lain mulai diajukan. Lebih mendalam daripada lamaran kerja. Semakin lama aku semakin rileks. Paling tidak, Bu Arsha dan Pak Galih tidak begitu menyeramkan. “Mbak Ayna tau kenapa Bara harus mencari pengantin pengganti?” Aku menggeleng jujur. Tidak tahu, dan sejak tadi pertanyaan ini mengganggu perasaanku. “Ada kesalahan—” “Nggak usah, Pa.” Sontak aku menoleh dan mendapati lelaki berperawakan tinggi turun dari tangga. Matanya bersirobok denganku. Tajam dan dalam. Bulu di sekitar rahangnya membuat dia terlihat lebih dewasa dan agak menyeramkan. “Biar saya sendiri yang bilang.” Aku menelan ludah, lalu kembali menatap Pak Galih dan Bu Arsha. Jadi ... ini Bara Budiman? “Belum juga kami tanya apakah Ayna setuju melanjutkan rencana ini atau mau mundur.” “Biar saya yang tanya.” Suaranya berat, dan aku berani bertaruh suara paling berat, seksi dan memikat yang pernah aku dengar adalah suaranya. Suara penyanyi pun kalah dengannya. s**t! Ayna, apa yang sudah kamu pikirkan?! “Papa dan mama bisa ke belakang dulu,” katanya pelan tetapi dalam. Jantungku berdegub semakin kencang, kaki kembali lemas dan napasku agak memburu berat. Jadi, Pak Galih dan Bu Arsha, pendamping Bara Budiman itu adalah orangnya tuanya sendiri? “Bara nggak akan berbuat macam-macam. Saya akan ke belakang, tetapi nggak akan melepas pengawasan. Ayna ... jangan gugup?” Aku menatap Pak Galih dengan senyuman paksa. Ya Tuhan, aku sedang bertaruh status gadis di sini, bagaimana mungkin untuk tidak gugup? “Ayna minum dulu,” kata Bu Arsha lembut. Aku mengangguk, meminum sedikit air di gelas. Melihat sepasang suami istri itu pergi, jantungku seolah mau rontok ke perut. Bara Budiman duduk di hadapanku, tenang dan tegap. Tatapannya masih menyorot tajam dan dalam, menatap berkas-berkas yang kukirim melalui email dan sudah dicetak. “Jadi bagaimana?” Bagaimana apanya? Sekian detik berlalu, Bara Budiman tidak mengatakan apa pun. “Maksud Bapak bagaimana?” tanyaku sesopan mungkin. “Bagaimana? Masih tertarik menikah dengan saya atau tidak?” Kupejamkan mata. Masih, agak tertarik saat mengingat uang yang dijanjikan. Namun tidak tertarik saat ingat bahwa menikah bukan persoalan ringan. “Saya gagal menikah karena calon istri saya sebelumnya kabur.” “Kabur?” beoku tak percaya. Bara Budiman mengangguk. “Bapak bercanda?” “Ayna ....” Ough, kenapa harus menyebut namaku dengan cara begitu? “Saya kelihatan sedang berbohong?” Aku tidak tahu bagaimana orang dikatakan berbohong dan tidak berbohong mood tanpa bukti. “Calon istri saya punya selingkuhan, dan karena tidak mau menikah dengan saya, dia kabur bersama selingkuhannya. Terdengar masuk akal?” Waw. Hebat. Lelaki semacam ini masih diselingkuhi, artinya ada yang tidak beres. “Apa yang membuat kamu tidak percaya?” “Itu mustahil,” bisikku pelan sekali. “Selingkuh itu mustahil?” Oh, dia dengar. Aku tersenyum paksa. Bukan seperti itu maksudnya. “Itu tidak pernah mustahil. Jadi bagaimana?” Bagaimana menikahnya? Aku baru tahu namanya dan alasan kenapa dia batal menikah, aku butuh alasan lain. “Saya lupa,” katanya dan menunduk, merogoh kolong meja dan mengeluarkan kertas. “Data diri saya. Kamu bisa pelajari dulu.” Kuterima formulirnya. Di bagian atas, sudah tertulis dengan huruf besar nama dan profesinya. Mataku melebar, dan seketika kuletakkan kertas ke meja. “Bapak dosen?” bisikku pelan. Di mana aku kuliah, di sana dia mengajar. “Ada yang salah dengan dosen?” “Tidak.” Sama sekali tidak. Itu keren. Hanya saja aku enggan berhubungan dengan dosen yang satu kampus denganku. “Kalau begitu itu tidak jadi masalah.” “Jadi,” sambarku cepat. “Ada masalah apa?” Aku meremas jari. Ya ampun, Ayna .... Tentu saja tidak ada masalah dengan dosen. “Saya dosen saintek, di Fakultas Teknik. Kemungkinan saya dan kamu tidak akan bertemu di kelas.” “Oh.” Aku mengangguk, mengambil lagi kertasnya. “Tapi bagaimana kalau bertemu di luar kelas?” “Apa salahnya?” “Ti–dak ada.” Kulihat dia menyandar ke kursi santai sekali. “Boleh saya tau alasan kenapa kamu mendaftar?” Alasan ... tentu karena uang. “Tidak ada alasan.” Dan senyumnya langsung timbul. Senyum yang sedikit mengerikan. “Bagaimana kalau saya tidak percaya?” Dia agak licik, aku menebak begitu. “Mustahil kamu mau menikah dengan orang tak dikenal tanpa alasan.” Ya ... itu baru mustahil. “Katakan alasannya.” Kalau aku jujur, maka pasti aku terlihat seperti wanita matre yang menjijikkan. “Karena saya tertarik.” “Katakan dengan jujur.” “Saya tertarik untuk daftar.” Dia semakin tersenyum lebar. “Katakan sejujurnya.” Aku kelihatan berbohong atau dia yang bisa membaca pikiran orang? “Akan lebih masuk akal,” katanya memberi jeda beberapa detik, “jika kamu punya alasan yang kuat. Tidak ada orang yang mau menikah dadakan dengan orang tidak dikenal. Paham?” Aku menelan ludah. Dia benar. Dengan aku mengatakan tertarik, ingin mendaftar, itu justru serupa kekonyolan mendekati kebodohan. “Saya butuh uang,” ucapku setelah menarik napas panjang. “Saya tinggal bersama paman dan bibi beberapa bulan ini, dan saya baru tahu satu minggu lalu bahwa sertifikat rumah saya digadaikan ke bank. Saya harus menebusnya.” “Berapa banyak?” Cukup banyak. Makanya aku nekat ikut ini. “Agak percuma ya,” katanya membingungkan. “Setelah menikah, saya tidak berharap tinggal di tempat selain rumah saya, dan istri saya juga harus tinggal bersama saya. Jadi buat apa kamu tebus rumah itu?” Tentu saja harus. Itu rumah warisan bapak dan ibu. Aku harus menjaganya dengan baik. “Nggak masalah. Saya senang kamu punya alasan logis semacam itu.” Napasku memburu lega beberapa detik, sebelum menyadari bahwa ada desakan kuat di dalam perut karena dia bilang senang. Artinya— “Kirimkan nominal uangnya pada saya. Hadiah menjadi istri saya tetap utuh, dan akan saya bayarkan tebusan bank-nya.” Ini baru menggiurkan banget. Namun di saat seperti ini aku ingat kata-kata Gia dan Naomi. Bagaimana kalau aku hanya jadi calon korban mutilasi? “Ayna ... jangan berpikir macam-macam.” Kuteguk ludah. Bara Budiman tahu aku memikirkan apa?! “Bapak mengerikan.” “Banyak yang bilang begitu,” katanya tanpa beban. “Tapi saya memperlakukan keluarga saya dengan baik.” Semoga saja dia jujur. “Kecuali yang bandel dan menentang saya.” Sial. Aku sedikit kurang berbakat dalam menuruti perintah seseorang. “Kembali ke topik. Saya bayar kamu. Kirim nomor rekening dan nominal totalnya.” “Ya,” sahutku serupa cicitan tikus terjepit. Dia menyerahkan bolpoin dan menyuruhku menuliskan nominal di kertas. “Tanda tangan.” Kuikuti maunya. Ini artinya persetujuan? Kenapa mengerikan? Tanganku sampai gemetar dan bolpoin langsung lepas usai kububuhkan tanda tangan. “Jangan tegang.” Bagaimana bisa aku tidak tegang?! Dia ambil ponselnya dengan cara paling elegan sekaligus mengerikan. Kurang dari satu menit, dia letakkan ponsel dan ganti ponselku yang berbunyi. “Buka,” katanya menyuruh. Jadi apa yang—oh, transferan uang. Kukedipkan mata berkali-kali saat membaca nominal yang tertera. Ini tidak salah? Atau mataku mulai kabur? Setelah mengulang sebanyak lima kali dan hasilnya masih sama, langsung kulempar ponsel ke pinggiran sofa. Bara Budiman betul-betul mengerikan. Sangat mengerikan. “Saya batal saja, Pak,” ucapku ciut. Bara Budiman justru tersenyum lebar. “Sudah tanda tangan, sudah dapat uangnya. Mau batal?” Dugaanku tidak salah. Dia licik, banget. “Saya beli statusmu,” katanya masih dengan senyum paling sialan itu. “Sekaligus badanmu.” Seandainya aku bisa lari, aku pasti lari. Gia tidak salah. Ini mengerikan. Bagaimana kalau ini betul-betul sayembara untuk dimutilasi? Napasku sesak dengan gejolak di dalam perut yang tak terkendali. Dalam beberapa detik saja, seolah isi lambungku meluap ingin keluar. Mataku melebar, mungkin sekaligus memerah karena rasanya menyengat panas. “Ke kamar mandi. Cepat masuk!” serunya terlihat panik sembari berjalan cepat. Aku menyusulnya lebih cepat. Dia menunjuk pintu kamar mandi. Begitu masuk, segera aku keluarkan semua yang mendesak keluar. Ya Tuhan, mutilasi itu artinya akan dipotong-potong, kan? Lalu buat apa? Dia membayarku sebegitu mahal, tetapi dia juga bisa menjual organ dalamku dan mendapatkan uang yang jauh lebih banyak. “Bara, dia hamil?” Dari dalam kamar mandi aku masih mampu mendengar pertanyaan bernada panik itu. Beberapa saat kemudian Bu Arsha masuk dan menatapku begitu panik. “Jujur, kamu hamil?” Aku menggeleng-gelengkan kepala, mataku semakin panas dan cairannya terasa mengalir ke pipi. Tidak. Ini bukan hamil ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN