43

1047 Kata

“Dari tadi kok diem aja sih sayang,  ngelamun lagi, ayo cepet di makan,  habiskan makannya," Roi menyentuh jari Zee perlahan. Zee tersenyum dan melanjutkan makannya. "Melamunkan apa sayang?" tanya Roi lagi. Zee menggeleng perlahan. "Aku ngerasa bersyukur banget Roi kebahagiaan akhirnya datang pada papa,  aku bukannya nggak mikir mama,  tapi sejak awal sebenarnya papa juga tak kalah menderita, makanya pas proses pernikahan papa nangis terus aku ngerti gimana perasaannya dia,  bahagianya dia, aku jadi kangen papa Roi," rengek Zee. "Heys kangen papa,  sekarang tuh dua orang lagi bikinan adik buat kamu," Roi mencoba mengalihkan pembicaraan agar Zee tidak selalu terbawa perasaannya. "Ih ngaco deh kamu,  mesti gitu, nggak lah aku nggak mau adik, masa aku lahiran udah gitu mama lahiran ju

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN