Azka menyeret kursi untuk mendekat kearah ranjang yang diatasnya terdapat seorang wanita sedang menutup matanya rapat. Bunyi mesin detak jantung mendominasi ruangan serbah putih itu, Azka menatap nanar kearah gadis dengan beberapa selang tertancap di alat pernapasannya. Azka mengarahkan tanganya untuk meraih tangan dingin milik gadis tersebut. Namanya Irfa lutfia, gadis cantik dengan wajah blesteran irlandia. Azka mengusap tangan dingin itu lembut, diarahkannya ke pipi kanannya dengan harapan gadis itu akan bangun karena adanya kehadiran Azka di dekatnya. Namun, secerca harapan tampaknya percuma. Dua bulan lamanya, namun Irfa masih tetap sama. Tidak ada perkembangan sedikitpun apalagi untuk kembali seperti sedia kala. "Gue pulang, dengan harapan yang mungkin selamanya bakal percuma

