ATHAYA 7

845 Kata
Athaya mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja kantin, sembari menunggu Azka yang akan datang kepadanya dengan ice cream vanilla kesukaanya. Gadis itu sesekali melirik arloji di tanganya. "Athaya!" Athaya mendongak mendapati Angela, Anisa dan Andine dihadapanya. Athaya menaikkan sebelah alisnya kearah mereka bertiga,"Kenapa?" "Lo beneran pacaran ya sama Azka?" Athaya menggigit bibir bawahnya sembari memutar bola matanya sejenak,"Enggak." "Tapi Azka bilang begitu ke semua murid,"timpal Anisa. Athaya mengangguk,"Iya gue tau." "Berarti lo beneran pacaran dong,"Sambung Angela. Athaya menaghembuskan napasnya kasar, gadis itu memijit pelipisnya lelah. Entah ini pantas disebut dengan hubungan pacaran yang indah atau tidak, Athaya sendiri saja tidak tau dia kenapa saat ini. "Gue enggak pernah jawab kalau gue mau jadi pacar Azka,"jawab Athaya. "Dia aja yang asal mengklaim anak orang,"lanjut Athaya lagi. "Nasib kita sama dong, berarti lo kena karma kakak lo,"sahut Andine yang sudah duduk dihadapan Athaya. Athaya mencibir,"Ye sembarangan, siapa yang kena karma? Ardhan aja yang kampret." "Au ah, pusing gue ngadapin kakak lo, playboy banget deh Tha, gue hampir tiap hari di teror sama pacar nya dia, entar pas tua dia malah kayak eyang gersang,"celoteh Andine panjang lebar. "Eyang subur kampret,"protes Anisa. "Ngapain lo cerita ke gue? Gue udah nyuruh lo buat mutusin bang Ardhan, tapi lo aja yang enggak mau, sok sokan tegar padahal tiap malem nangis meluk guling karena diselingkuhin,"sindir Athaya sehingga Andine memanyunkan bibirnya. "Enggak juga dijelasin detail nying." Athaya hanya mengut-mangut, ia tau Andine pasti dibuat sakit hati mulu sama kembaran kampretnya itu, padahal Athaya selalu mengingatkan Ardhan kalau Andine itu temanya, tapi penyakit playboy-nya itu udah kelas akut, keturunan papanya Aldi, tapi Ardhan malah lebih parah dari Aldi, Athaya sampai angkat tangan kalau disuruh ngehitung berapa mantan Ardhan. Disisi lain, Azka tengah melenggang santai di depan gerbang. Laki-laki itu celingak-celinguk mencari satpam padipura. Terlihat jelaslah pak Nonono, satpam padipura yang sok ganas itu. Pak Nonono sudah menatap Azka dari kejauhan, laki-laki tua dengan badan kecil cungkring itu sedang menerka bahwa Azka adalah murid baru yang pernah ketauan bolos dengan Ardhan kemarin. Azka menyingsingkan lengan seragamnya yang panjang itu sejenak. Azka menyengir kearah satpam tersebut, untung kemarin Ardhan mengajari Azka trik jitu menggoda satpam, sehingga Azka akan bersikap tenang untuk menghadapi laki-laki yang sudah berdiri sembari berkacak pinggang dihadapanya itu. Dengan pelan Azka mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. "Kalau dikasih gratis, bakalan mau enggak ya?"ucap Azka sembari menatap sebungkus rokok tersebut. Mata pak Nonono langsung terarah dengan sebungkus rokok tersebut. Laki-laki tua tersebut langsung menggeleng,"Kamu pikir saya terpengaruh dengan sogokan kamu itu?" Azka menyengir kecil, lalu laki-laki itu mengeluarkan selembar uang seratus dari sakunya. "Hmm, buat makan siang kayaknya cukup deh." Mata pak Nonono langsung menatap uang tersebut. Di raihnya langsung rokok dan selembar uang seratus tersebut dari tangan Azka. "Jangan lama-lama." Azka mengacungkan jempolanya, laki-laki itu langsung berlari keluar gerbang. Laki-laki itu kemudian melemparkan pandangannya mencari toko yang Athaya maksud. Ternyata trik jitu dari Ardhan kemarin tidak sia-sia untuknya. Tatapan Azka jatuh dengan salah satu tokoh sebrang jalan, ia langsung berlari cepat ke toko tersebut. "Mbak ice cream vanilla dua,"ucap Azka dengan napasnya yang sudah tak teratur. Bukanya langsung mengambil pesanan Azka, wanita dihadapanya itu malah terbengong menatap Azka,"Subhanallah, ciptaan mana yang engaku dustakan?" Azka mengernyit,"Mbak gue mau mesan ice cream, bukan nyuruh mbak buat dzikir kayak gini." Wanita itu langsung menahan senyum malunya,"Eh, iya mas tunggu entar." Azka menggeleng pelan, keringatnya bahkan sudah bercucuran karena ia baru saja lari diterik mentari yang panas dan menusuk pori-pori kulit tersebut. "Berapa?"tanya Azka kepada wanita yang sudah menyodorkan ice cream tersebut kearah Azka. "Berapa aja mas mau." "Lah? Ini yang jualan siapa sih?" Azka menggelengkan kepalanya lalu memberi beberapa uang puluhan kepada wanita tersebut,"Lebihnya ambil aja." Azka langsung berlari keluar,"Orang ini pas kok,"decak wanita tersebut, tapi senyumnya tak luput dari Azka. Athaya menelungkupkan wajahnya, ia sangat bosan sekali menunggu, mana teman-temanya sudah pergi meninggalkan gadis itu. Athaya membayangkan jika Azka datang dengan membawa ice cream dihadapanya, apalagi suasana saat ini sangatlah panas. "Gue enggak telat kan?" Suara familiar tersebut membuat Athaya langsung mendongak,"Lah? Gimana lo bisa ngadapin pak satpam kecil yang ganas itu?" Azka duduk dihadapan Athaya sembari menyeka keringatnya, laki-laki itu mengibaskan bajunya karena kegerahan. Athaya langsung mengambil tisu disakunya, lalu menghapus keringat yang sudah mengucur di wajah Azka. Azka yang menerima perlakuan tersebut hanya diam. "Gue tanya bukanya dijawab." Azka tersenyum lebar,"Enggak penting gue bisa keluar kayak gimana, yang terpenting adalah ini ice cream gue belinya pake perjuangan." Athaya mengangguk,"Iya, iya." Gadis itu lalu memakan ice cream yang Azka bawa tadi. Begitu juga dengan Azka. "Masih enggak napsu buat makan?" Athaya menyengir,"Enggak kok, ice cream ini pengembali mood gue, gue suka banget sama ice cream rasa vanilla." Azka tersenyum kecil,"Kalau pengembali mood gue sih simple, yaitu lo." Athaya terdiam sejenak, lalu memukul pelan lengan Azka,"Lo itu ya, suka banget ngebaperin orang." "Lo baper sama gue? awas entar lo terbang, baper gue kan bersayap." Athaya berdecak,"Kalau baper itu bersayap, maka patah hati adalah pelepahnya, berarti pada saat terbang gue juga harus siap sakit." Azka tertawa,"Kalau lo terbang, terus lo jatuh, lalu lo sakit, berarti pada saat itu gue harus jadi orang yang nyembuhin luka lo." "Ck serah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN