ATHAYA 8

876 Kata
Azka tengah menengadahkan kepalanya, menatap ke arah langit biru, laki-laki itu bersender dibalkon, dengan baju yang kancingnya sengaja dibuka, menampakan kaus putih di dalamnya. Azka menghembuskan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya. Laki-laki itu kemudian tersenyum kecil ketika melihat wajah David yang tertekuk. Sedangkan Ardhan hanya mengulas senyumnya bersaman dengan Raffa yang sudah tertawa. David merengut,"Gue sebel banget tau enggak, dulunya makan seminum eh taunya nusuk." Ardhan menyentil rokoknya yang sudah masuk keselokan, lalu  laki-laki itu meninju pelan lengan David,"Zaman sekarang lo masih percaya yang namanya temen?" Raffa menggaruk kepalanya yang tak gatal, laki-laki itu sangat bingung, lantas dirinya dan yang lainya dianggap apa sama Ardhan? "Jadi lo anggap kita apa?"sungut Raffa tak terima. Ardhan merangkul Raffa dengan santai,"Gue enggak pernah nganggep kalian temen." "Zaman sekarang juga enggak ada yang namanya temen, adanya cuma musuh yang nyamar jadi temen,"sambar Azka dengan senyuman kecilnya. "Apalah arti kita selama ini?"ucap David dan Raffa dramatis, Azka ingin tertawa rasanya ketika melihat ekspressi sok dramatis keduanya. Ardhan dan Azka saling bertatapan, tampaknya mereka sepemikiran, Ardhan dan Azka lalu merangkul kedua temanya itu. "Kita emang enggak pernah nganggep kalian temen,"Azka berujar. Ardhan kemudian tersenyum lebar,"Karena dari awalnya lo semua udah bukan temen gue, tapi bagian dari keluarga gue, dan keluarga enggak pernah bohong sama yang namanya perasaan apalagi rasa sayang." Menjalin pertemanan bukanlah hal yang mudah, karena memang pada dasarnya musuh terbesarmu adalah berasal dari orang terdekatmu, lebih ke notabene seorang teman. Begitu juga dengan yang mereka berempat rasakan, awalnya mereka menjalin pertemanan berlima, semakan, seminum, seranjang waktu tidur, bolos bareng, tapi sekarang mereka malah berempat, karena salah satu dari mereka berhianat. Azka lalu mengusap wajahnya kasar, diliriknya arloji yang sudah melingkar manis ditanganya. "Anjir! Jam pulang bro, Gue harus nganterin Atha gue pulang, ntar mama Abel marah lagi kalau anak gadisnya hilang." Azka langsung berlari menjauh meninggalkan teman-temanya yang masih nokrong dibelakang sekolah. Ardhan lalu ikut berdiri,"Hari ini jadwal gue pulang sama Andine, gue duluan." Kini giliran Ardhan yang pergi, David dan Raffa saling bertautan alis,"Kayaknya gue harus pulang duluan." David mendengus,"Nasib jomblo ya Raf." Keduanya lalu saling bergandengan tangan meninggalkan markas andalan mereka untuk merokok atau sekedar bersantai memecahkan kebosanan dan kekalutan. Azka berlari menusuri ujung koridor, lalu naik ketangga atas, setelah sampai diatasnya laki-laki itu berjalan terengah-rengah. Beginilah, nasib punya kelas lantai atas dan paling sudut, butuh extra chapter untuk menuju kesana. Laki-laki itu lalu mengambil tasnya diatas meja, kemudian berlari kembali kebawah menuju parkiran. Semua murid padipura menatap Azka dengan kening yang mengkerut, orang mah gini ada hal yang mengherankan dikit langsung dah dikepoin, terus digosipin, lalu di fitnah, manusia. Azka lalu mengambil motornya, kemudian melajukanya ke gerbang sekolah. Tampak seorang gadis dengan rambut sebahunya itu tengah berdiri sembari menunduk memandangi sepatu ketsnya. "Yuk pulang,"ajak Azka bersamaan dengan deruan motor ninjanya yang membisingkan itu. Athaya mendongak, mendapati wajah tampan Azka, dengan hidung mancungnya dan bibirnya yang merah itu Azka tersenyum simpul,"Perlu gue bantuin buat naik?" Gadis itu melongos, Athaya berdecak pelan, lalu gadis itu naik keatas motor ninja merah Azka yang cukup tinggi itu dengan bantuan pundak Azka yang kekar, Azka tersenyum dibalik helmnya. Azka kemudian memberikan helm kepada gadis itu, agar Athaya memakainya. Athaya menarik nafasnya panjang,"Gue kira lo pulang duluan." Azka melajukan motornya ke jalanan, laki-laki itu sesekali menatap wajah cantik milik Athaya melalui spion motornya. "Gue enggak pulang, mana mungin gue ninggalin orang yang enggak pantes buat ditinggalin." Perkataan Azka membuat kedua pipi Athaya bersemu merah, Azka tau itu karena Azka selalu memperhatikan wajah Athaya melalui spoin motornya. Athaya menahan senyum yang akan mengembang itu, gadis itu kemudian memukul pelan pundak Akza,"Lo gombanl terus, gue kok kesal. Azka kemudian meraih tangan Athaya, lalu melingkarkanya dipinggangnya. Azka tersenyum lebar, sedangkan Athaya langsung melototkan matanya, Athaya ingin menarik tanganya dari pinggang Azka tapi genggaman Akza membuat tanganya tertahan. "Azka lepasin deh!" "Buat apa? Salah ya kalau pacar megangin tangan pacar? Begini aja lo udah salting luan." "Azka,"desis Athaya namun Azka tak peduli. Ia tetap bersikeras dengan pendirianya, apa salahnya menggenggam tangan pacar? "Gue takut lo jatuh Atha, mending diem deh, banyak omong gue nikahin sekarang entar lo." Athaya seketika membungkam, ia harus merelakan tanganya disentuh oleh tangan dingin Azka, laki-laki yang menurutnya gila itu, memberontak pun percuma karena Azka sangat eras kepala sama seperti Ardhan, kali ini Athaya kepikiran akan kata-kata Andine, yaitu karma dari Ardhan. "Kan cantik kalau diem, burung gereja itu cantik kalau diem." Athaya langsung memasang wajah merah padamnya. Baru saja Athaya memilih untuk membiarkan suasana damai menyelimuti keduanya, tapi Azka menghancurkan segalanya. "Gue enggak suka diomong kayak begitu." Athaya memasang wajah cemberutnya, Azka mencebik,"Baper amat sih." Azka lalu tersenyum manis, laki-laki itu menautkan jarinya di tangan Athaya. "Lo tetap cantik dan bakalan tetap jadi yang tercantik." Azka kemudian memberhentikan motornya dipekarangan rumah milik Athaya. Athaya langsung melepaskan genggaman Azka, kemudian meloncat turun dari motor Azka. "Thanks for tebengan." Azka berdehem,"Malam nanti lo ada acara?" Athaya berpikir sejenak, lalu gadis itu mengangguk,"Seinget gue sih ada acara makan malam bareng keluarga." "Oh, gue padahal pengen ngajakin lo makan malam bareng keluarga gue, karena malam ini keluarga gue juga ada acara makan malam,"Azka berujar seraya memasang wajah kekecewaanya. kemudian laki-laki itu mengangguk kecil,"Enggak papa deh, lain kali bisa kan?"tanyanya. Gadis itu melipatkan kedua tanganya didadanya, lalu menaikkan sebelah alisnya kearah Azka. "Gue enggak janji."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN