Dengan langkah tergesa-gesa Athaya berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit, ia menembus kerumunan perawat yang sedang berkerumbul. Ardhan hanya mengikuti langkah Athaya dari arah belakang. Mata Athaya sudah memanas, air matanya bahkan sudah menetes sedari tadi. Bekali-kali ia menyeka air matanya, namun tangisnya tak kunjung berhenti. Jantungnya seketika berhenti, ketika garis lurus telah terbentuk di mesin pendeteksi jantung, lutut gadis itu melemas, ia terduduk dilantai, matanya menatap lurus kearah depan. Ardhan menghentikan langkahnya, leher Athaya rasanya tercekat, ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Dengan langkah pelan, Ardhan memeluk adiknya itu dari belakang, untuk menabahkan Athaya, Athaya menumpahkan seluruh tangisnya di d**a bidang milik Ardhan. Sorang

