Saat jam makan siang tiba, aku dan dua karyawanku makan bersama di ruang tengah yang kusulap menjadi ruang kerja tersebut. Kini perasaanku sudah mendingan, tak gundah seperti tadi pagi lagi. Kami bertiga menyantap nasi padang yang dipesan lewat marketplace. Dewi dan Arifin tampak senang dengan menu ayam panggang dan rendang daging yang kubelikan. Syukurlah, sampai hari ini aku masih bisa membahagiakan orang lain yang membutuhkan. Ketika kami hampir selesai bersantap siang, tiba-tiba Mas Wisnu datang dengan masih mengenakan pakaian kerja. Mukanya lesu dan terlihat begitu letih. Aku cepat-cepat berdiri untuk menyambut kedatangan pria itu. “Mas, tumben pulang siang-siang begini?” Aku semringah melihat dia yang tak biasanya mampir saat jam makan siang. Mas Wisnu hanya dapat tersenyum keci

