Memang sudah kodratnya manusia itu mengeluh dan merasa tidak puas, anggap saja itu wajar.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Tak terasa ini sudah minggu ketiga di bulan Agustus yang artinya hari ini adalah hari pertama semester 3 Devon masuk kuliah. Jadwal kuliahnya hari ini dimulai pukul 2 siang. Waktu yang termasuk dalam kadar bahaya yang tinggi. Meski pun Devon sudah pernah mengenyam bangku sekolah selama 12 tahun serta pendidikan sarjana, tetap saja untuk pendidikan magisternya saat ini kegiatannya sama saja.
Belajar adalah hal yang membosankan, jika ada orang yang mengatakan belajar adalah hal yang paling menyenangkan atau lebih parahnya menjadikan belajar sebagai hobi itu mustahil. Oh, tidak! Masih ada sebagian kecil orang yang menginginkan itu, mungkin 1:1000 orang. Rasio perbandingan yang lumayan kecil dan Devon tidak ingin mendaftarkan diri masuk ke dalamnya.
Fix, mereka masuk golongan psikopat! Hanya bercanda. Entahlah namun Devon masih sibuk menerka-nerka ketika melihat seseorang yang begitu ambisius dalam belajar, mengusahakan apapun demi meraih nilai tertinggi meski melakukannya dengan cara terburuk sekali pun. Dirinya butuh penjelasan yang logis apa gunanya nilai yang tinggi, bahkan itu hanya sekadar kisaran angka.
Namun Devon tidak bercanda saat menyatakan bahwa dirinya tidak ingin mendaftarkan diri masuk ke dalam golongan orang seperti itu. Faktanya hanya beberapa persen saja dari teori yang ia pelajari yang dapat diimplementasikan secara nyata.
Devon menarik tuas rem tangannya. Matanya melirik sekilas ke arah pergelangan tangannya, masih ada waktu 20 menit lagi sebelum kelas dimulai. Ruang kelas yang akan Devon tempati, tepat berada di depan parkiran ini.
Gedung E5, ruang 210.
Tidak ada niatan sama sekali yang melintas di otak Devon untuk datang lebih awal atau menjadi murid teladan dalam kelas. Kebiasaannya yang selalu meninggalkan jam makan siang membuatnya datang terlalu awal.
Drtt!
Satu notifikasi dari Clara kembali mengunjungi ponselnya. Benar, dalam beberapa waktu yang dekat ini nama Clara terlampau hobi muncul dalam ponsel Devon. Isinya sama membincangkan masalah kerja sama ... dan beberapa pesan yang bisa dibilang mencakup masalah pribadi—di luar pekerjaan. Demi kesejahteraan dan keberlangsungan pekerjaannya aman, Devon memilih hanya merespon pesan Clara yang isinya masih bersangkutan dengan masalah pekerjaan, selebihnya Devon abaikan.
Devon melemparkan ponselnya asal ke dashboard seusai mengetikkan balasan untuk Clara. Mengecek ulang angka yang ditunjuk oleh jarum jam tangannya, hanya berkurang 2 menit dan Devon masih nyaman duduk santai dengan dibelit seat belt.
"Kenapa harus lulus tepat waktu kalau bisa lulus di waktu yang tepat?" gumam Devon ketika melihat 2 orang mahasiswa berbeda jenis sedang berargumen di seberang jalan.
Devon menopangkan dagunya di atas stir mobil sembari memejamkan mata. "Masuknya aja susah, kenapa harus keluar cepet-cepet? Sayang, dong. Nikmatin prosesnya kan enak, dude. Yang penting inget waktu, make it easy aja sih, sebenernya."
Devon bangkit dari posisinya, menyugar rambutnya ke belakang, lalu meraih botol tumblr berisi air mineral. Nyatanya menunggu dan membunuh waktu benar-benar pekerjaan yang membosankan.
"Ini mau nunggu berapa menit lagi, sih?" Sudah berulang kali sejak Devon memarkirkan mobilnya, bola mata Devon seolah-olah tidak ingin berhenti melirik ke arah pergelangan tangannya.
Dengungan nyamuk yang biasanya berisik pun tidak ingin mengganggu Devon saat ini. Padahal saat ini Devon ingin sekali meladeni hal sepele dalam bentuk apapun untuk membunuh waktu. Namun tidak ada satu pun pekerjaan sepele yang ingin mengakhirinya, kecuali bengong.
Devon mengambil lagi ponselnya yang teronggok di dashboard, mungkin membuka sosial media mampu menemaninya hingga waktunya masuk kelas tiba.
Ah, sebelumnya Devon memastikan jika dirinya tidak bermain dalam akun utamanya. Beruntung sekali dirinya tidak lagi masuk akun lambe-lambean lagi setelah 2 hari yang lalu tidak sengaja meninggalkan jejak di salah satu postingan orang.
@obvilliqn_
Aman bagi Devon untuk menggunakan akun itu, dirinya tidak harus susah payah bersembunyi dari 2 juta orang pengikut. Jemarinya bergerak menelusuri akun yang tidak pernah bosan dia lihat selama dua hari terakhir ini.
Entahlah hanya dengan melihat pemilik akun itu, mood Devon langsung membaik seketika itu juga. Positif vibes yang orang ini coba berikan benar-benar mengena. Meski pun jumlah pengikut-pengikutnya kurang dari seribu orang, tetapi konten yang diberikan benar-benar tersaji secara apik dan terkesan natural. Jujur, Devon harus berterima kasih kepada Cia karena sudah menemukan akun ini.
"Gila, sih. Ini keren banget," pujinya.
Tak segan untuk meninggalkan jejak, Devon memberikan komentar dan likes dalam beberapa postingan yang terakhir diunggah di akun itu. "Gue yakin dia bikin ini lama, jadi enggak ada salahnya buat kasih apresiasi."
Bahkan Devon tidak bosan memutar ulang video yang sama. "Sayang aja orang-orang belum lihat akun ini. Keren, bertalenta!"
Tawa Devon terdengar setelah beberapa menit memandangi ponselnya tanpa jeda. "Unik!"
Devon masih tidak habis pikir, di saat jempol Cia yang dengan sengaja memberi likes satu per satu random dalam postingan orang lain, keesokan harinya Devon dapat melihat degan jelas namanya disebut-sebut dalam beberapa akun gosip.
Devon Anderson, anak tunggal dari William Anderson ... lihat selengkapnya.
Memang apa salahnya memberi apresiasi terhadap sesama? Ya ... meski saat itu bukan Devon yang melakukannya secara langsung. Hei, Devon juga manusia, sama-sama makan nasi dan butuh tidur. Sebegitu berefekkah satu like darinya?
Oh, tidak. Itu semua pertanyaan Devon terpatahkan oleh satu pemilik akun i********: ini, nyatanya ponsel Devon aman dari deringan-deringan yang mengganggu.
"Jangan songong deh, Dev. Itu tandanya lo enggak seterkenal itu, buktinya si cewek ini biasa aja tuh pas dapet notif dari lo." Otak Devon sama sekali tidak membiarkan untuk sedikit menyombongkan diri.
"Berarti cewek ini beda dari cewek-cewek yang lain," final Devon, "mungkin bisa dipertimbangkan buat dikasih endorse."
Semua rasa senang dan bahagia bercampur aduk memenuhi rongga d**a Devon. Hingga tak sengaja matanya melihat satu kejanggalan secara sekilas. Pukul 02:03 pm, Devon melewatkan waktu 3 menit untuk masuk kelas.
"s**t!"
Devon membuka kaitan seat beltnya secara serampangan, meraih iPad miliknya yang berada di jok belakang, dan melakukan apapun secara terburu-buru. "Kenapa bisa lupa, sih?"
Yang tadinya malas datang terlalu awal, kini malah marah-marah karena terlambat. 20 menit waktu yang cukup singkat, rupanya. Devon tidak menyesal, karena ia melewatkan waktunya dengan senang hati. Setidaknya 20 menit yang lalu adalah waktu yang menyenangkan baginya, meski Devon harus menanggung konsekuensi setelahnya.
"Nama, Teresa. Motto hidup, kalau bisa yang lain kenapa harus aku? Wah, enggak bener lo, Re. Auto kena omel si kakak pembimbing lagi lo."
Gadis yang Devon dengar bernama Teresa itu menjambak lawan bicaranya. "Lah, masih mending gue. Lo? Nama, Audy. Hobi, keluar rumah enggak mandi. Aib banget, Hyung."
Devon dapat melihat dengan jelas bahwa gerombolan manusia-manusia di depannya ini adalah seorang mahasiswa baru. Dari topik obrolannya, cara berpakaian yang cenderung hitam-putih khas dresscode ospek, dan barang bawaan yang mereka bawa.
Alih-alih memikirkan bagaimana nasib kelasnya, Devon malah sibuk mengomentari orang tak dikenal di depannya ini.
Devon melirik sekilas jam tangannya kembali, pukul 02:11 pm. "Sial! Kenapa waktunya jadi cepet banget, perasaan tadi lama banget pas nunggu."
Devon mengembuskan napas lelah. Barisan para mahasiswa baru di depannya ini berjalan amat lambat dan ... argh. Lihatlah! Seolah membuat portal panjang, mereka semua menghalangi jalan Devon.
Beginilah nasib Devon saat hari pertama masuk kuliah di semester 3 ini. Bertemu dengan sekerumun mahasiswa baru yang memilih berjalan memenuhi lebar jalan, bukannya berbaris rapi 2 shaf.
"Eh tapi gue sebel tahu sama kating yang sok ngasih nyari-nyari kesalahan gitu. Berasa bener aja jadi orang."
Samar-samar Devon mendengar selentingan-selentingan gibahan. Bukannya mempercepat langkah kaki, mereka malah menikmati bergunjing saat berjalan. "Gue lama-lama juga sebel," batin Devon.
Devon sudah tidak berani mengecek jam secara berulang lagi, hormon adrenalinnya sudah terpacu. Padahal gedung E5 sudah di depan matanya, tinggal 7 meter lagi. Namun itu semua terasa sulit dijangkau, ditambah waktu yang seakan tidak ingin berhenti bergerak barang sejenak, malah bertambah semakin cepat.
Tidak ada celah sedikit pun untuk menyerobot. Ketika Devon bergerak ke kiri, mereka mengambil jalur kiri, begitu pun sebaliknya. Jalan Devon benar-benar diblokade. Tiada hari tanpa kesialan bagi Devon.
Karena sudah tidak sabar, Devon memberanikan diri, menyerobot jalan lewat sisi sayap kanan dari sekerumunan rombongan itu.
"Ya gitu. Gue tuh—"
Brak.
Salah satu orang dari mahasiswa baru itu memotong jalan dan menabrak lengan Devon. Sebendel kertas yang dibawa gadis itu terjatuh berceceran dan botol minum yang belum ditutup, isinya membanjiri lengan Devon.
"Yah ... maaf, Om." Tangan gadis itu terangkat menutupi mulutnya yang melongo akibat terkejut. Memungut kertas yang dibawanya tadi, membolak-balikkan setiap sisinya. "Syukurlah, aman."
Devon melirik lengan kemejanya yang basah. "Gue yang enggak aman."
Gadis itu sontak mengobrak-abrik ranselnya mencari sesuatu di dalam sana. Bukan selembar tisu yang disodorkan untuk Devon, melainkan sapu tangan berwana biru dongker.
"Maaf ya, Om. Enggak sengaja hehehe." Gadis itu mengacungkan 2 jarinya membentuk huruf V. "Peace."
Tidak ingin dilihat layaknya drama dalam film India, Devon mengangguk dan menghela napas sebelum pergi. Tidak tahu ide dari mana, tangan usil Devon juga ikut serta membawa saputangan itu pergi. []