BAB 15| Terperosok Dalam

1631 Kata
Uwu adalah kenginanku. Risih ketika ada orang yang berusaha mendekatiku adalah aku. · • -- ٠ ✤ ٠ -- • · Devon memandang ponselnya yang terus-menerus bergetar. Bukan karena notif i********: seperti yang lalu, melainkan notif pesan dari Clara. Salah Devon sendiri memang, tidak memberi Clara nomor kerja yang biasa dihandle oleh Tito tetapi malah memberi nomor pribadinya sendiri. Masih dalam batas wajar ... mungkin. Devon sendiri juga bingung mengartikannya apa. Wajarkah seorang rekan kerja mengirim pesan di luar jam kerja? __________ Clara J.: gimana dev? [03:48 pm] Clara J.: bagus kan dev? [04:51 pm] Clara J.: bagusan yang ini apa yang awal tadi? [06:13 pm] Clara J.: kalo pilih yang ini kurang ornamen nggak sih? [07:21 pm] Clara J.: ini aja ya dev. [08:09 pm] Clara J.: dev? udah tidur ya? [10:43 pm] __________ Devon menyendok sepotong brownies, berharap kesialannya ikut larut bersama tertelannya brownies. Entah sial atau tidak, Devon mengakui bahwa Clara berhasil mengusik ketenangannya. Drtt! Dengan penuh rasa waswas Devon melirik satu notifikasi yang muncul memenuhi lockscreennya. __________ Cia: send a picture [10:56 pm] Cia: cantik, kan Bang? [10:56 pm] __________ Sialan! "Nggak guna, Cia! Ngapain, sih, malem-malem nanyain hal enggak penting? Mana udah kaget duluan gue." Devon percaya jika ia seperti ini terus lama-lama dirinya bisa terjangkit sindrom takut mendengar suara ponsel. Tanpa pikir panjang, Devon menggerakkan jemarinya untuk menghubungi nomor Tito. Hanya terdengar nada sambung dari panggilan yang dilakukan Devon. "Angkat, bego." Masih ingin mengganggun masa tenang Tito, Devon mencoba menghubungi Tito secar berturut-turut tanpa jeda. "Mampus, biar sekalian ngelag." Percayalah niat jahat akan selalu berakhir buruk. Setelah percobaan kesekian kalinya, Devon tak lagi dapat menghubungi Tito. Nyatanya Tito tak kehilangan akal di seberang sana. Jika Devon berturut-turut menghubungi tanpa tujuan yang jelas dan Tito sedang tidak ingin meladeni Devon, untuk itulah fungsi fitur mematikan ponsel berguna. Yap, tulisan yang awalnya 'berdering' berubah menjadi 'memanggil', khas sekali orang yang berada di seberang telepon tidak dapat dihubungi. Tidak tahu setan apa yang merasuki tubuh Devon. Bukannya berhenti, Devon malah pindah haluan menghubungi nomor telepon Tito yang satunya lagi.  Percobaan pertama! Tut Tut Tut... Deringan yang sama tetap terdengar setelah beberapa menit menunggu. Nihil, Tito tetap pada pendiriannya dan Devon tetap pada usahanya. Karena takut Tito akan mematikan ponselnya yang lain, Devon mengetikkan satu pesan dengan cepat. Pesan Devon yang tadinya berlogo delivered, kini berubah menjadi read. Bagus! Dengan cepat Devon kembali menekan ikon telepon. Tut Tut Tut! "Halo. Kenapa, b*****t?!" See? Tanpa menunggu deringan pertama berlangsung lama, Tito langsung mengangkat telepon Devon. "Ngambek, lo? Ribet lo." "Heh! Kalau lo cuma mau bicarain hal yang nggak guna. Gue matiin, mending gue tidur." Devon bisa tebak bagaimana ekspresi berang Tito di seberang sana. Nada bicara Tito sudah mencerminkannya dengan jelas. "Masalah pack—" "Itu urusan lo. Gue angkat tangan." Devon memelototi ponselnya seolah-olah sedang memelototi Tito. "Astaga, To. Masih dongkol lo? Hei, itu bahkan udah hampir lewat seminggu." "Menurut lo?" Devon yakin Tito tengah memutar bola matanya di seberang sana. "Kenapa lo limpahin ke gue? Limpahin aja tuh ke anak buah kesayangan lo itu." Mampus! Tito kembali mengungkitnya. "Ya mana bisa. Gue—" "Ya udah kalau gitu, sama. Ya mana bisa lo limpahin lagi ke gue?!" potong Tito. "To, gue enggak bisa—" "Salah sendiri, bego!" Lagi-lagi omongan Devon kembali terpotong. "Lagian lo g****k banget, sih, Dev. Udah dibilangin begini, malah ngambil keputusan sebaliknya. Mana enggak ada nego sama gue dulu. Ya udah rasain aja, mampus. Enak, kan?" Devon mengacaknya rambutnya pelan. Panggilan telepon mereka masih terhubung, hanya saja semua diam tanpa ada yang ingin berbicara. Menyiapkan semua pendapat terbaik yang mereka miliki, sebelum akhirnya kembali berdebat. Helaan napas Devon terdengar kencang. "Semua keputusan yang gua ambil udah gue pikirin mateng-mateng, To. Tiap langkahnya punya alasan tersendiri." "b*****t! Lo sendiri aja, enggak pernah bilang alasannya ke gue. Gimana gue bisa ngerti, g****k?! Sedangkan lo bersikap, seolah-olah lo membenarkan semua perbuatan orang itu. Gimana gue nggak kesel?" Devon meraih kopi dan meneguknya dengan tatapan datar. "Belum saatnya gue spill alasannya ke lo." "Bilim siitnyi gii spill ilisinnyi ki li." Tito menirukan ucapan Devon. "Ribet lo, ribetnya ngalah-ngalahin cewek." "To! Sekarang bukan waktunya main-main." "HEI, SADAR DIRI DONG BAPAK DEVON ANDERSON YANG TERHORMAT. Yang dari awal main-main, siapa? Yang langsung belokin keputusan tanpa bilang-bilang dulu, siapa? Jangan memutar balikkan fakta dong, Panjul." Devon mengurut-urut dahinya. Probabilitas Tito akan terbujuk rasanya sangat susah.  "Gini deh. Kalo lo tetep susah buat dinego—" "Apa?" tanya Tito dengan anda menantang. "Lo mau pecat gue? Pecat aja. Kita lihat siapa yang bakal butuh duluan. Ribet lo." Pip. Devon menatap ponselnya yang mati gara-gara panggilan teleponnya diputus secara sepihak. Siapa yang bisa dihubungi untuk menyelesaikan masalahnya? Devon meraih kopinya, menyesapnya dengan amat pelan. Pahit dari kopi yang baru ia minum membekas di lidahnya. Kue browniesnya tinggal separuh, Devon sudah tidak berminat sama sekali untuk menghabiskannya lagi. Lampu pijar di kepala Devon tiba-tiba menyala. Secercah harapan tepat di depan matanya. Brandon! Siapa lagi yang bisa ia mintai tolong selain Brandon. Good choice! Tanpa ingin mengulur waktu lebih lama lagi, Devon menghubungi Brandon. Tut Tut Tut! Buliran peluh Devon menumpuk di dahi saking gemasnya dengan nada dering yang sampai saat ini belum terhubung juga. "Please, angkat teleponnya. Please, angkat." Devon menyeruput kopinya lagi sembari menunggu. Hingga deringan keempat si penerima telepon sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengangkat panggilannya.  "Ya Tuhan, mengapa hamba berbeda?" Selalu seperti ini. Devon akan langsung mengecek notifikasi apapun yang mampir di ponselnya saat Devon mendengar bunyi—ralat, ini berlaku jika Devon tidak sedang sibuk. Berbeda sekali dengan saudara sepupunya yang lain, sangat susah dihubungi terlebih jika dalam keadaan genting. "Kenapa gue fast respon banget, sih? Andai aja gue bisa—" "Kenapa lagi?" Akhirnya panggilan yang sejak tadi Devon tunggu-tunggu tersambung juga. Khas Brandon sekali, mengangkat telepon tanpa menyapa atau sekadar berbasa-basi mengatakan hello. "Tolong bantuin gue." Ada hening beberapa saat yang masuk di dalam percakapan mereka. "Bantuin apalagi?" Satu binar bahagia terbit di pupil Devon. "Bantuin handle masalah gue yang kemarin." "Emangnya lo kenapa?" Lama-lama Devon kesal mendengar kata 'kenapa' keluar dari mulut Brandon. Tidak bisakah ia mengiyakan permintaan Devon? Mengapa harus ada kosakata 'kenapa' di muka bumi ini? "Yang nanganin hubungan kerja gue ternyata orang yang sama kayak orang yang kita temuin di kondangan kemarin." "Siapa? Clara maksud lo?" Devon mengangguk, tidak ingin menanyakan bagaimana bisa Brandon mampu mengingat nama Clara dengan jelas, sedangkan dirinya tidak. Sadar tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Devon baru ingat jika Brandon tidak bisa melihat anggukannya. "Iya," jawab Devon.  "Terus?" "Ya ...." Devon memutar otaknya demi mendapatkan pilihan jawaban yang tepat agar Brandon mau membantunya. "G-gue agak risi aja." "Siapa?" Semakin lama, semua jawaban yang diutarakan Brandon membuat Devon agak sedikit menyesal, mengapa otaknya memilih Brandon untuk dihubungi. "Guelah." "Yang nanya, bego! Ya udah, sih, Dev. Jalanin aja apa yang ada, namanya juga kerja. Kapan lagi lihat lo turun tangan nge-handle semuanya sendiri? Kapan lagi gue bisa ngelihat lo sengsara kayak gini. Jangan kebanyakan ngeluh! Bye, gue mau tidur." Devon terperangah tak percaya mendengar serentetan kalimat yang Brandon ucapkan, nyaris tanpa jeda. "Oh iya, satu lagi. Gue enggak ada niatan buat bantuin lo, kecuali kasih kontak orang relasi doang. Kalau mau marah, silakan. Lo bisa coba telepon Tito, Steve, atau Levin buat minta tolong. Itu juga kalau mereka mau bantuin lo haha. Bye!" sambung Brandon. Pip. Dipotong omongan sama Tito? Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan sama Brandon? Kini apalagi yang harus Devon lewati? Drtt! Senyuman di bibir Devon memudar saat melihat satu notifikasi masuk ke ponselnya. Devon kira itu pesan dari Brandon yang mengatakan bahwa ia sedang mengerjai Devon ... mungkin. Ternyata Cia, isi pesannya sama seperti tadi. Menyuruh Devon untuk menyatakan pendapatnya tentang objek yang dia kirimkan antara cantik atau tidak. Andai saja hidup Devon semudah itu. Hanya kebingungan saat memilih barang ingin warna pink atau peach. Mengapa perempuan serumit itu?  Devon menyandarkan punggungnya di kursi. Steve dan Levin, apa iya dirinya harus menghubungi salah satu dari mereka? Oke, tidak ada salahnya mencoba. Tut Tut Tut! Sambungan telepon Steve hanya memunculkan tulisan memanggil. Steve tidak bisa dihubungi dan ... Levin? Rasanya Levin bukan orang yang tepat untuk dimintai tolong. "Coba aja dulu, Dev. Jangan kebanyakan underestimate orang." Satu saran dari hatinya muncul saat bimbang melanda Devon. Dengan berat hati, Devon menggerakkan jemarinya untuk menghubungi Levin. Belum sampai deringan pertama selesai, panggilan telepon itu ditolak. "Hwe?" Tidak seperti ketiga orang yang telah Devon hubungi sebelumnya, Levin langsung mematikannya tanpa permisi. Tut! Panggilan yang kedua ini direspon cukup lama oleh si penerima, tidak seperti yang pertama tadi. "Halo." Devon memastikan telinganya tidak mendengar suara berisik dari sambungan telepon di tempat Levin. "Aman. Enggak lagi di bar berarti nih bocah," batinnya. "Bantuin gue, Vin."  "Ha?"  "Bisa bantuin gue, enggak?" Devon memperjelas maksudnya. "Bantuin apa?" Devon mendengar geraman tertahan yang terselip saat Levin menjawab pertanyaannya barusan. "Bantuin gue buat—" "Engh ... God." "Heh! Lagi ngapain lo di sana?" "Ssh, lo telepon gue besok aja, Dev. Gue lagi si-buk se-ka-rang." Pip. Tanpa perlu menduga, Devon sudah tahu jawabannya. Levin bukan orang yang tepat untuk dimintai tolong, terlebih ini malam hari. "Baru juga kemarin mabuk sampai nangis-nangis. Eh, sekarang udah kumat lagi." Sepertinya takdir sedang menginginkan Devon untuk berdiri di kakinya sendiri, membereskan semua masalah yang ia alami seorang diri. Apa boleh buat kalau keadaannya mendorongnya untuk seperti itu? Devon membuka akun i********:-nya, berusaha mencari pengalihan. Berita apa yang sekiranya Devon lewatkan hari ini. Lima belas menit selanjutnya, Devon malah tenggelam dalam aplikasi itu. Tanpa sengaja, tayangan snapgram Cia hadir melewatinya. Terpampang satu postingan yang Cia repost di sana. Selagi membunuh waktu dan menunggu kantuknya datang, Devon memencetnya. Satu menit postingan itu Devon lihat, tidak bosan dirinya malah candu untuk mengulangnya lagi. "Keren!" Niat hati ingin menjeda, namun tangan Devon malah mengetuk layarnya dua kali yang tak ayal meninggalkan jejak di postingan itu. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN