Urusanku adalah urusanku.
Urusanmu adalah urusanmu.
Mengurusi urusan orang lain, bukanlah kewajibanmu.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
"Saya Clara." Wanita itu mengulurkan tangan dan menyebut namanya, menunggu tanggapan dari Devon.
Sejenak, Devon mengalihkan pandangannya ke arah Lily. Apapun yang berhubungan dengan Lily, Devon mengaku lelah dan memilih angkat tangan. Gadis kecil satu itu selalu tidak terduga dan mampu membuat tekanan darah Devon melonjak seketika.
"Maaf." Suara lembut diiringi lambaian tangan di depan mukanya menyadarkan Devon bahwa dirinya sudah mengabaikan orang yang ada di hadapannya selama beberapa detik.
Devon mengangguk, mengusap tengkuknya untuk meredakan kekikukan yang terjadi. "Saya Devon, pamannya Lily."
"Ngapain gugup gitu, sih, Dev? Kayak baru pertama banget deket sama cewek. Salah tingkah ya, lo? Cih, malu-maluin."
Ini kenapa otaknya malah meledeknya? Devon butuh untuk berpikir jernih, memikirkan bagaimana caranya membawa Lily pergi dari sini, menyerahkannya kepada Brandon atau Shannon atau siapa pun yang ia kenal, agar Devon bisa secepatnya enyah dari tempat ini.
"Gaya banget sok-sokan mau enyah. Di sini banyak cewek cantik, bego! Yakin, lo, enggak mau lirik-lirik dikit? Lily yang masih bocah aja, cuma berdiri doang udah dapet pasangan tuh, lo kapan?"
"Om Devon, sini!" Teriakan Lily menghentikan makian-makian yang bergumul di otak Devon. Lily tidak mengaku-ngaku Devon adalah ayahnya saja, Devon sudah syukur. Kadar kenakalan Lily mampu membuat Devon olahraga jantung.
"Mari duduk." Wanita bernama Clara memegang lengannya, menyadarkan Devon untuk segera bergerak.
Harapannya untuk membawa Lily pergi dengan cepat, rupanya harus diundur. Bagaimana caranya menolak ajakan secara halus saat di tempat kondangan seperti ini? Devon sangat minim pengalaman untuk yang satu ini. Mungkin jika Clara menawarkan berbincang dengan berdiri, bukannya duduk, Devon bisa memikirkan alasan yang tepat untuk menyingkir tanpa terlalu kentara.
"Lily anak yang pintar, ya."
Kalimat pembuka yang tidak benar adanya. Clara baru mengenal Lily, keburukan dan sifat bobrok Lily belum sepenuhnya terlihat. Oh, atau memang Clara yang tidak bisa melihat kecentilan Lily saat ini? Hei, bahkan jiwa centil Lily sudah menguar sejak dirinya dan Lily memasuki ballroom ini tadi.
Devon tersenyum tipis menanggapi Clara. Mengiyakan adalah solusi terbaik untuk saat ini.
"Lily cantik, Tante."
Di saat semua anak lebih menyukai dibilang pintar daripada dibilang cantik, Lily malah sebaliknya. Padahal Devon sebisa mungkin menahan umpatan dalam hatinya untuk tidak membeberkan kebobrokan Lily, namun apa daya. Lily sendiri yang menunjukkan bahwa dirinya bobrok. Benar kata pepatah bahwa anak kecil tidak pandai berbohong.
Clara mengelus pelan rambut Lily. "Iya, sayang. Lily pintar banget, sih. Tante jadi gemas."
"No." Lily menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Lily cantik, tahu."
"Iya benar Lily gadis yang sangat cantik, momma."
"Aaa thank you, Darren yang ganteng."
"Apa sih yang enggak buat kamu, tuan putri? Hmm."
Devon mengernyitkan keningnya saat mendengar percakapan dua orang anak kecil di depannya ini. Drama picisan apalagi yang akan mereka bawakan? Mereka terlalu kecil untuk mengetahui bagaimana rumitnya kisah percintaan.
"Hahaha, astaga kalian berdua ini lucu sekali."
Huh? Devon tidak salah dengar, kan? Apa yang barusan diucapkan Clara? Lucu katanya? Lucu dari mananya, woi? Tolong jelaskan pada Devon di bagian mana kelucuan dari percakapan barusan? Kenapa Devon malah memandangnya sebagai sebuah kemirisan?
Harusnya tumbuh kembang Lily dijaga untuk memastikan masa depannya kelak. Saat seorang anak kecil melakukan kesalahan seharusnya diberi tahu efek baik dan buruk bagi dirinya sendiri, bukannya malah ditertawakan dan dianggap wajar-wajar saja. Devon tidak ingin membayangkan seberapa centilnya Lily sepuluh tahun ke depan?
"Aaa, buka mulutnya, Om Devon!" Lily mengarahkan tusuk potongan buah berlumur cokelat menuju mulut Devon.
Devon membalikkan arah tangan Lily. "No, Lily makan sendiri saja."
Bukannya mengarahkan buah ke dalam mulutnya sendiri, tangan Lily melipir, beralih mengarahkan potongan buah itu ke depan Clara. "Aaa, buka mulutnya, Tante!"
"Thank you, Lily."
"Yeay!" Layaknya menang lotre, Lily bertepuk tangan saat suapan yang ia sodorkan diterima dengan senang hati oleh Clara. "Thank you, Tante cantik."
Setelahnya pandangan Lily menatap Devon sinis, mengacungkan tusuk buah yang ia pakai seakan dirinya bisa melukai Devon menggunakan itu, dan menjulurkan lidahnya meledek kepada Devon.
"Lily," panggil Devon. "Lily nggak mau mencari mama dan papa?"
"Enggak!" Jawaban singkat nan padat dari Lily adalah bogeman mutlak bagi Devon untuk terjebak dalam acara ini cukup lama.
"Lily enggak pengen ketemu sama mama dan papa? Lily dicariin mereka loh."
"Enggak!"
Fix, Lily masuk daftar anak durhaka. Tolong sampaikan pada malaikat untuk memasukkan Lily ke daftar hitam penghuni surga karena tidak merindukan orang tuanya.
Plak. Lagi-lagi tamparan keras berasal dari hatinya untuk dirinya sendiri. "Beginilah bunda, kalau anak anda sudah memasang predikat jomlo sejak lama."
"Kasihan ya, mana masih muda lagi."
Ingin rasanya Devon membenturkan kepalanya ke meja berulang kali. Tidak ada yang mendukungnya, sekali pun itu otak dan hatinya. Apa salahnya jika Devon menginginkan segera pergi dari tempat ini? Kenapa tadi pagi Lily harus dititipkan kepadanya? Jika Devon datang sendirian, mungkin dirinya bisa pergi setelah meletakkan hadiah dan sebuket bunga di meja penerima tamu di depan sana tanpa harus melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ballroom.
Devon sadar dirinya tidak benar-benar bersyukur saat Lily bersamanya. Ia menarik kembali ucapannya beberapa menit lalu. Bagaimana bisa Lily asyik menghabiskan makanannya di saat Devon kebingungan mencari jalan untuk keluar dari acara ini tanpa memulangkan Lily ke Brandon atau Shannon?
"Berhentilah mengeluh! Berhentilah memikirkan postulat bodoh, Dev. Sebaiknya gunakan waktumu untuk berbincang wanita cantik di depanmu. Daripada lo mikirin jalan keluar yang belum pasti, mending lo mikirin gimana caranya bangun conversation yang menarik sama Clara."
"Ck, Devon kan bego."
Glek. Devon kesusahan menelan ludahnya. Gaungan perdebatan antara otak dan hatinya kembali bertabrakan. Tidak ada sedikit pun niatan yang terlintas dalam diri Devon untuk mengenal lebih jauh seorang Clara. Niatnya ke sini dari awal—bukan niat, Devon bahkan sama sekali tidak berniat untuk menginjakkan kakinya ke acara semacam ini. Ini adalah ulah mamanya yang selalu berhasil menjebak Devon untuk terperangkap di dalamnya.
Drtt!
Mama♡ is calling...
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Semoga ini adalah jawaban untuk Devon agar bisa keluar dari tempat ini sekarang juga. Nahas, belum sampai Devon menggeser tombol hijau untuk menjawab telepon mamanya, sambungan panggilan itu terputus.
"Ini mama enggak lagi ngerjain gue, kan?" tanya Devon dalam hati.
"Devon!"
Devon menoleh ke arah sumber suara. Layaknya menemukan air di gurun Sahara, semangat Devon untuk segera pergi dari ballroom ini kembali membara. Itu suara mamanya.
Mama dan papa Devon berdiri tepat di belakang kursi yang sedang Devon duduki bersama ... dengan partner kerja papa mungkin. Devon sendiri tidak mengenal siapa yang sedang berjalan bersama orang tuanya.
"Mama kirain siapa, eh ternyata kamu."
"HAHAHAHA. Lelucon yang sangat lucu, Ma." Devon hanya mampu menertawakan nasibnya di dalam hati. Bayangan mamanya yang akan mengamuk seperti singa, menahan akalnya untuk tetap dalam jalur yang benar. "Emang wajah gue sepasaran itu, ya? 'Mama kirain siapa,' anak cuma satu masa' bisa lupa, sih, Ma?"
"Ya udah kita duduk sini aja, Pa."
Papa Devon yang memang cinta mati dengan mamanya menurut dan mengangguk. Jangan lupakan rekan bicara mereka yang juga turut menggabungkan meja dan kursi menjadi satu.
What the—
Apa-apaan lagi ini? Devon ingin cepat-cepat mengakhiri waktunya di tempat ini, namun mengapa mama dan papanya ikut-ikutan untuk menghalanginya, mana bawa pasukan lagi.
"Kenalin ini Pak Christ sama istrinya, rekan bisnis Papa."
Devon menampilkan senyum tipis, meski hatinya bercokol ingin marah gegara tertahan lebih lama di tempat ini. Menjabat tangan rekan bisnis papa sebagai formalitas.
"Jadi kamu dateng ke sini sama ...?" Mama menggantungkan ucapannya. Perhatikan saja tangannya, begitu aktif menunjuk Clara yang duduk di samping Lily.
"Wah rasanya sebentar lagi keluarga Anderson akan segera menggelar pesta." Sahutan dengan nada bercanda yang berasal dari Nyonya Christ nampaknya membuat rasa penasaran mama semakin menjadi.
Mata Agatha—mama Devon—memicing, menanti jawaban yang keluar dari mulut Devon. Tatapannya mengartikan 'dia siapa? kenapa nggak pernah dikenalin ke Mama?' khas mamanya sekali.
Devon menaikkan satu alisnya seraya menggelengkan kepala. Tatapan mata Agatha semakin menajam, mengisyaratkan 'kamu jawab apa Mama bunuh? Kenalin ke Mama sekarang, Dev!'
Devon mengembuskan napas lelah. "Bukan siapa-siapa, Ma, Nyonya Christ. Ini—"
"Jangan 'bukan', Dev. Ganti kata 'bukan' menjadi 'belum'."
"Huh? Ini Nyonya Christ bisa diem enggak, sih? Suka banget motong omongan orang, mana kalau ngomong enggak dipikir-pikir dulu lagi." Batin Devon meronta-ronta ingin mengeluarkan segala macam jenis umpatan. Ekspresi yang ditampilkan oleh nyonya Christ terlihat dibuat-buat, terlihat ingin akrab dengan mamanya, dan yang terakhir ... terlihat seperti penjilat.
"Saya Clara. Saya—"
"Jadi ini kapan kalian melangsungkan pernikahan?"
Savage! Benar-benar ternyata lebih mirip seperti anjing bodoh yang sedang menggonggong kelaparan menginginkan sebuah tulang, menjijikan.
"Bukan seperti itu, Nyonya Christ. Kami tidak mengenal sebelumnya dan baru bertemu sekitar 20 menit yang lalu. Ada baiknya anda tidak menyela perkataan orang sebelum orang itu selesai berbicara."
Hening. Keheningan mampir masuk ke dalam percakapan ini. Hingga tak terasa, satu tendangan dari bawah meja yang Devon yakini bersumber dari mamanya, mengenai kakinya.
"Saya Clara," tutur Clara memecahkan keheningan, "dan ini anak saya, Darren."
Clara menyebarkan sebuah kartu nama untuk masing-masing orang yang ada di meja itu. Mau tidak mau, Devon pun mengeluarkan kartu namanya, begitu juga dengan papanya.
Clara Josephine.
"Clara Josephine?" Nyonya Christ kembali berbicara setelah sekian menit bungkam.
Clara mengangguk. "Iya."
"Oh, yang tiga bulan kemarin baru cerai, ya?"
Seperti tidak ingin berhenti dan seolah tidak tahu menyadari kesalahannya, Nyonya Christ kembali berulah. Tidak sepantasnya mengungkit kabar buruk layaknya perceraian atau pun menanyakan kapan seseorang akan menikah saat pertama kali bertemu. []