Hobi saya memancing ... memancing keributan.
—Lily.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Benar sekali dugaan Devon. Ratusan pesan dan puluhan panggilan masuk yang berasal dari mama saat ia menyalakan ponselnya. Isinya hampir sama yaitu menanyakan di mana keberadaan bunga yang dipesan.
Di sinilah Devon berada, ballroom hotel dengan nuansa soft pink dengan lautan manusia di dalamnya. Dirinya datang setelah acara inti dari penyelenggara sudah selesai. Sebenarnya karangan bunga pesanan mamanya dan hadiah titipan Brandon saat menitipkan Lily tadi pagi sekarang tidak terlihat, itu semua tertahan di meja jaga depan ruangan. Ralat, kecuali buket bunga putih yang tidak ingin Lily serahkan ke penjaga, meski diminta.
Dengan percaya diri yang membumbung tinggi, Lily berjalan di samping Devon dengan bunga buket putih yang ukurannya menutupi badan mungil Lily. Tak ayal, hal ini mengundang ratusan pasang mata untuk melihat. Biasa saja bagi Lily yang memang sangat suka menjadi pusat perhatian, tetapi tidak dengan Devon. Pria jangkung yang mengenakan tuxedo ini merasa risi.
"Mama di mana, Om?" Lily hampir terjengkang saat mendongakkan kepalanya secara berlebihan ke belakang.
Bukannya kaget dan takut terjatuh, Lily malah tertawa kegirangan. Devon mengangkat Lily ke dalam gendongannya, berusaha untuk menyingkir ke tepi ruangan dan mengakhiri tatapan-tatapan penuh tanya yang melayang ke arahnya.
"Lily mau jalan sendiri, Om Devon. Lily nggak mau digendong."
"Hmm."
Devon mengabaikan perkataan Lily dan memilih berjalan ke tepi ruangan, bergabung ke dalam kerumunan orang.
Plak. Tangan Lily mendarat di dahi Devon, bocah nakal itu mendelik. "Turunin Lily!"
Tetap dalam prinsipnya yaitu mengabaikan semua yang Lily minta. Devon menyibukkan diri mengecek ponselnya untuk melihat pesan yang kira-kira mendarat di sana. Tidak mungkin mama dan sepupu-sepupunya tidak melihat keberadaan Devon saat masuk tadi.
Benar sekali! Tebakan Devon benar. Ada beberapa notifikasi memenuhi lockscreennya.
__________
Dio?: lanjut bang, mantap ? [08:22 am]
__________
Brandon: Nitip Lily dulu, gue lagi makan [08:18 am]
__________
Mama♡: Mama lagi ngobrol sama temen papa, kamu tungguin di situ dulu [08:17 am]
Mama♡: Nanti mama susulin [08:17 am]
__________
Good, apa yang harus Devon lakukan untuk menjaga Lily saat acara kondangan?
"Ngapain nih? Mana rame orang lagi, fuh fuh fuh." tanyanya dalam hati.
Lily membenturkan kepalanya ke kepala Devon yang sontak membuat Devon kaget seketika. Masih ingat, kan, kalau Lily meminta mahkota dari bunga? Mm bukan bunga, daun lebih tepatnya. Ya, Lily mengenakan mahkota yang dirangkai dari untaian daun dan ujung-ujung daun serta batang yang mencuat dari mahkota Lily mengenai kepala Devon dengan tajam. Menyetujui keinginan absurd Lily adalah sebuah kesalahan, tolong ingatkan Devon untukan tidak mengulanginya lagi nanti.
"Mana mama?"
Devon menurunkan Lily dari gendongannya, Lily benar-benar sangat tidak terduga dan berbahaya. "Lagi makan."
"Makan?" Lily bertanya dengan penuh semangat. Matanya penuh binar saat mendengar kata makanan.
"Oh tidak, jangan sekarang! Jangan membuat ulah sekarang, Lily," harap Devon dalam hati.
"Lily mau makan itu!"
Rasanya Devon seperti kejatuhan bola besi yang berat saat Lily menjatuhkan pilihannya. "Ini boleh cosplay jadi patung di pojokan aja, nggak, sih? Mana Lily matanya aktif banget. Jadi susah, kan, akhirnya."
Seakan melupakan keinginan untuk mencari di mana keberadaan mamanya, Lily menarik ujung tuxedo Devon. "Ayo kita makan, Om."
"Mm kita makannya nanti dulu—"
"No!" Lily menggeleng, tangannya menunjuk salah satu anak kecil yang memegang sate buah.
Devon mengamati sekelilingnya. "Jangan bilang kalau—"
"Lily mau itu, Om."
Kenyataan selalu berhasil mengalahkan harapan Devon. Stand sate buah yang diminta Lily sangat ramai orang mengantre dan ... Devon sedang tidak ingin pergi ke sana untuk berdesak-desakan mengantre sate buah.
"Ayo, Om!" Tangan Lily kembali menarik-narik ujung tuxedo Devon.
"Mm Lily enggak mau cari mama dan papa dulu?"
Pertanyaan yang diajukan Devon seolah membuat Lily berada dalam pilihan yang sulit. Ekspresinya begitu lucu saat kepala mungilnya dituntut untuk menentukan pilihan. Gelengan kuat dari Lily setelah Devon digantung beberapa menit seolah menjadi pikulan berat untuk Devon.
"Sial!"
Devon hanya mampu menahannya dalam hati semenyebalkan apapun tingkah Lily. Lily sudah sangat menyebalkan dan Devon tidak ingin kadar menyebalkan yang Lily punya bertambah kian banyak dengan mendengar kosa kata baru yang baru Lily dengar darinya.
"Ayo! Ayo!"
Devon menyamakan tingginya setinggi Lily, ia memerintahkan otaknya untuk menyusun kata-kata lembut untuk mengajak Lily berkompromi. "Lily enggak mau duduk dulu? Tadi kan—"
Lily menggeleng. "Lily enggak capek."
Keputusan final yang Lily katakan sepertinya benar-benar tidak dapat Devon goyahkan sama sekali.
"Udahlah, Dev. Lo enggak bakal menang lawan kecil-kecil cabe rawit macam Lily. Turutin aja, toh setelah ini lo enggak bakal ketemu orang-orang ini lagi." Untuk kali ini Devon setuju dengan kata hatinya, hatinya benar-benar menenangkan sekelebat pikiran ruwet yang datang di pikiran Devon.
"Lagi pula kalau enggak ada Lily di sini, lo bakal cosplay macam orang d***o yang enggak kenal siapa pun. Ambil sisi positifnya Lily dititipin ke lo, bego."
Hatinya yang penuh ketenangan dan otaknya yang sarkas mengingatkan Devon untuk tidak mengeluh dan mensyukuri apa yang ada. "Bener juga, sih. Untung ada Lily."
"Ayo, Om!" Lily menarik tuxedo Devon dengan tidak sabaran.
"Ya udah, ayo." Devon menarik napasnya dalam dan berusaha mendoktrin dirinya bahwa ini bukan keputusan yang salah. "Bunganya ditaruh dulu aja ya, Ly."
"Jangan! Nanti dicuri orang, dibawa aja, Om." Lily semakin mengeratkan buket bunga ke pelukannya.
Ini sebenarnya Devon yang tidak bisa mengatur anak kecil? Atau anak kecil yang memang susah untuk diatur? Atau jangan-jangan hanya Lily yang memang susah diatur?
"Halah, kebanyakan mikir bisa bikin bego, Dev. Anggap aja Lily adalah batu loncatan buat lo, biar lo bisa siap-siap tabah hati kalau nantinya dapet pasangan atau anak yang karakternya macam Lily. Hidup enggak ada yang tahu, Dev." Lagi-lagi otaknya menghentikan opini absurd yang menyusupi pikiran Devon.
"Ayo."
Devon berjalan beriringan dengan Lily membelah lautan manusia yang ada di ballroom pagi itu. Jangan tanya mengapa berjalan beriringan, karena Lily sendiri menolak mentah-mentah tawaran Devon untuk digendong. Yang pasti Devon tetap menggandeng Lily, dirianya tidak ingin disalahkan saat tiba-tiba ada panggilan dari bagian informasi yang mengumumkan adanya anak hilang dalam ballroom.
Seakan tetap ingin menarik perhatian, Lily memelankan langkahnya sepelan mungkin. Mahkota yang ... cantik telah tersemat di kepalanya. Satu tangannya memegang sebuket bunga berwarna putih dan tangannya yang lain digandeng oleh Devon. Dengan perlahan, Lily menarik tangannya yang berada di genggaman Devon, melambaikan tangannya secara anggun layaknya Miss Universe. Hanya kurang selempang saja.
Benar saja, antrean panjang harus Devon dan Lily hadapi hanya untuk sebuah sate buah. Devon sibuk membunuh waktu, ia ingin sekali tenggelam dalam pusaran black hole atau menyusut menjadi liliput hanya untuk sekedar menghindari tatapan dan lirikan ... penuh tanya dan penasaran dari puluhan pasang mata saat ini.
Sialan!
Lihatlah Lily! Lilynya malah masih sibuk tebar pesona dan tidak hentinya melambaikan tangan. Tolong dong katakan pada Doraemon bahwa Devon butuh bantuannya sekarang. Mungkin baling-baling bambu atau pintu ke mana saja bisa membawa Devon pergi dari tempat ini sekarang juga.
"Hentikan pikiran bodohmu itu, Dev. Itu tidak akan pernah terjadi. Yang ada malah dirimu malah terlihat semakin bodoh," maki otaknya.
"Hai, cantik."
Oh apalagi ini? Kisah klise apalagi yang harus Devon lihat?
"Thank you. Hallo, ganteng."
Devon bergidik ngeri saat mendengar suara centil Lily menyapa anak laki-laki kecil seusianya. Hei, tolong jangan seperti ini! Dapat Devon pastikan mereka bahkan masih mengompol di malam hari dan menangis saat saat tidak menemui orang tuanya ketika mereka bangun tidur. "Lelucon apa ini? Flirty, huh?"
"Apa gadis secantik dirimu, ingin memakan sate buah ini bersamaku?" Anak laki-laki yang tidak Devon ketahui namanya itu membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya di depan Lily.
"Sure." Lily menyambut uluran tangan pemuda itu.
What the—
"Shut up your mouth, Devon! Bilang saja kau iri pada Lily. Gadis sekecil Lily saja mampu menemukan pasangan di ballroom sempit ini, bagaimana denganmu ..., Tuan Devon? Iri, huh?"
Asdfghjkl. Apa yang sedang dipikirkan otaknya? Devon tidak berpikiran sesempit itu. Maksudnya ba-bagaimana bisa anak sekecil Lily ... sudah—sudahlah Devon tidak ingin memperjelasnya.
Seingat Devon semasa dirinya kecil dulu, dirinya tidak segenit Lily. Mungkin bahkan dirinya belum memikirkan menyukai lawan jenisnya, yang ada di pikirannya dulu mungkin bagaimana caranya memenangkan gundu atau PES saat bermain dengan para sepupunya. Hanya itu, mungkin.
"Itu hanya mungkin, bodoh. Itu masamu, tahun berkembang dan berubah drastis. Masa Lily dan masamu itu beda jauh. Masamu adalah untukmu dan masa Lily adalah untuk Lily. Kau sendiri saja lupa dan masih mengira-ngira ... ma-sih-mung-kin! Be-lum-pas-ti!"
Devon menghela napas lelah, logikanya selalu berhasil mengalahkan otaknya. Entahlah Devon sendiri tidak tahu apakah dirinya merasa ... mm iri? "Enggak, gue enggak iri! Ini cuma perasaan gue dong yang mikir kalau Lily—"
"—Tu-tunggu dulu, ke mana perginya Lily?"
Devon mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan mencari makhluk mungil yang tertutup buket bunga dengan dandanan layaknya Tarzan. Jangan sampai terdengar panggilan dari bagian informasi yang mengumumkan adanya anak hilang.
"Om Devon!" Lily memanggilnya dari salah satu meja tepat di samping tembok. Devon sendiri tidak tahu bagaimana caranya bocah nakal itu bisa menyusup masuk ke dalamnya. Satu lagi, jangan lupakan mulut Lily yang sudah belepotan cokelat sana-sini.
"Anda orang tua Lily?" tanya seorang perempuan cantik di meja itu. Hanya ada perempuan itu, anak laki-laki yang Devon temui tadi, dan Lily. []