Apa yang dikatakan adalah anak kecil adalah sebuah pendapat yang jujur. Anak kecil tidak bisa berbohong.
-anonim-
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Eufloria.
Dengan berbekal contact person dari Steve yang bisa Devon ganggu pagi-pagi, di sinilah Devon sekarang, Eufloria. Memenuhi permintaan mamanya untuk mencari bunga dan Brandon, sepupu tidak tahu diri yang satu itu seolah ikut mengujinya dengan menitipkan Lily.
Bocah nakal satu itu sedang sibuk mengunyah sepotong sosis, buncis, dan wortel. Mobil Devon yang awalnya berbau citrus dari pengharum mobil, kini berubah sepenuhnya menjadi aroma minyak telon yang bercampur saus barbeque.
Devon menatap toko bunga di depannya, gembok yang terpasang di teralis pagar hitam ini menandakan si empunya toko masih belum datang. Untuk yang kesekian kalinya, Devon mengecek kembali jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul 06:17 am, itu artinya sudah hampir 20 menit Devon menunggu di sini.
"Mm mantap."
Devon melayangkan tatapan skeptis ke arah Lily. "Ini Lily enggak lagi nyindir, kan? Kok nyebelin, ya?" batin Devon.
Batin Devon bertanya-tanya, apakah kira-kira Lily memiliki sinyal pembaca pikiran yang kuat seperti mamanya tadi pagi? Kalau iya, berarti keluarga besarnya benar-benar aneh.
"Mama pintar sekali memasaknya, ini sangat enak." Lily mengatakannya seperti sedang berkumur. Ucapan Lily kurang jelas didengar karena di mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Jangan makan dengan bicara, Lily," peringat Devon, "nanti tersedak. Telan dulu, baru bicara."
Dengan bersusah payah membungkukkan tubuhnya ke depan, Lily mengacungkan sosis yang tinggal separuh ke depan wajah Devon. "Om Depon mau?"
Devon hanya bisa geleng-geleng kepala. Selain menyebalkan dan sering bersikap bodoh, ternyata Lily juga budek. "Tidak. Lily habiskan sendiri makanan Lily."
Lily menggeleng. "Buka mulutnya!"
Devon menjauhkan tangan kecil Lily dari mulutnya. "Enggak mau, Lily. Tolong jangan ganggu Om. Cepat habiskan makananmu."
"AAA." Lily membuka mulutnya lebar-lebar, menginstruksikan bagaimana caranya membuka mulut dengan benar. Sebenarnya usaha yang Lily lakukan saat ini adalah untuk menyuruh Devon membuka mulutnya. "Tut Tut tut, pesawatnya akan turun."
Devon meraup wajahnya, ia berusaha sebisa mungkin agar mood Lily tidak anjlok. Mood bagus Lily saja sangat menyebalkan. Bagaimana jika mood Lily tiba-tiba turun? Jawabannya hanya satu, kadar menyebalkan yang Lily miliki akan meningkat.
"Mana ada pesawat yang bunyinya tut tut tut, Lily?"
"Ada!" Bibir Lily mengerucut ke bawah, dirinya tidak sabaran karena Devon menolak perintahnya. "Ayo cepat buka mulutnya, Om Depon!"
Selain menyebalkan, ternyata Lily juga pemaksa yang ulung. "Makan saja sendiri, Lily."
"Om nggak asik," cibir Lily. Tidak lupa sebelum duduk kembali ke asalnya, tangan Lily yang penuh saus melipir ke lengan Devon. Meninggalkan jejak barbeque di sana.
Sekali iblis, tetap iblis. Devon dengan malas mengambil sejumput tisu dan membersihkan kelakuan Lily. Matanya melirik jam tangannya lagi, pukul 6:20 am dan sang pemilik toko bunga ini belum datang.
Untung Devon sudah mematikan ponselnya sejak tadi, sudah dapat dipastikan mamanya saat ini memberondonginya dengan ratusan pesan dan puluhan panggilan. Menyebalkan!
Clak! Clak! Clak!
Devon melirik Lily yang tengah menghabiskan bekalnya. Apalagi ini? Baru juga tenang beberapa menit, mengapa suka sekali memancing keributan?
Diam, Devon mencoba untuk menutup mulutnya dan tetap mengawasi Lily. Ingat kan, tadi? Semakin direspon, Lily semakin menjadi.
Clak! Clak! Clak!
Devon tetap mengabaikan Lily dan berusaha memfokuskan diri, tenggelam dalam layar iPadnya.
Clak! Clak! Clak!
Suara kunyahan Lily semakin menggema. Devon menghela napas panjang, menghadapi sikap konyol Lily. "Etika makan, Lily!"
"Sudah habis." Lily mengangkat kedua tangannya yang sudah kosong berlumuran saus barbeque. "s**u Lily mana?"
Tangan Devon menahan tubuh Lily untuk tetap di tempatnya. Gadis kecil ini pasti akan berbuat kerusuhan lagi jika dibiarkan mengambil susunya sendiri. Devon mengambil tisu basah dan tisu kering, ia mulai membersihkan tangan mungil Lily yang kotor.
"Kecil-kecil, makannya udah urakan," batinnya.
Saus barbeque dari sosis yang Lily makan meleber ke mana-mana. Tidak hanya telapak tangan, lengannya juga kena. Tidak sampai situ saja, dagu, leher, pipi, bahkan keningnya pun terolesi saus barbeque. "Ini Lily makan apa tawuran, sih? Bar-bar banget jadi bocah."
Untung saus barbeque itu tidak sampai mengenai dress putih polos yang Lily pakai. Siaga 1 untuk Devon jika saja ada setitik noda yang menempeli dress Lily, Shannon akan mengomelinya habis-habisan.
"Iii udah." Lily memberontak. " Udah bersih! Udah bersih! Lily mau s**u!"
Benar, tangannya sudah bersih. Tetapi, lihatlah! Dahi, hidung, pipi, dan mulut Lily, semuanya masih berlumuran saus barbeque.
Lily mendelik. "s**u LILY MANA?!"
"Dibersihin dulu mulutnya, baru minum susu."
"MINUM DULU!" Lily berkacak pinggang memelototi Devon.
Mau tidak mau, Devon pun akhirnya mengambilkan sekotak s**u milik Lily. Tidak lupa untuk menyembunyikan sedotannya terlebih dahulu.
"Pegang dulu," titah Devon. Lily menuruti perintah Devon, meski bibirnya masih mengerucut tak terima.
Percuma saja mendebat bocah sebebal Lily. Hanya menguras tenaga dan berakhir sia-sia. Tanpa ingin mendengar rengekan Lily lebih lama, Devon dengan cepat mengusapi saus barbeque yang menempeli wajah Lily.
Tin! Tin!
Bertepatan dengan sapuan terakhir noda yang ada di kening Lily, terdengar suara klakson dari arah belakang mobil Devon. Netra Devon menyipit melalui spion tengah, memastikan bahwa itu adalah mobil sang pemilik toko bunga.
"Kenapa belum keluar juga?" gumam Devon lirih.
"Siapa, sih, Om?" Lily ikut-ikutan mendongakkan kepalanya, mengedarkan pandangan ke arah yang Devon lihat.
Beginilah susahnya saat dititipi anak kecil, terlebih jika anak kecilnya sangat hiperaktif dan kadar keingintahuannya begitu tinggi seperti Lily.
"Ada apa, sih, Om?"
Lihat! Baru saja Devon katakan, Lily sudah bertanya lagi dan parahnya Lily tidak akan berhenti bicara saat belum menemui jawaban yang ia mau.
Tidak berlangsung lama, 2 orang ibu dan anak dalam mobil di belakangnya, akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Ibu paruh paya yang berpakaian cukup rapi dan seorang gadis perempuan yang mengenakan baju tidur lengkap dengan ... rambut singanya keluar dari mobil.
"Lily," panggil Devon. "Lily tunggu di sini dulu ya, Om mau—"
"Ikut!" Lily merentangkan kedua tangannya meminta untuk digendong.
Menabahkan hatinya terlebih dulu, akhirnya Devon memutuskan untuk mengajak Lily keluar.
"Mari, Mas." Ibu pemilik toko bunga itu menyambut dan mempersilakan Devon untuk masuk ke dalam dan dengan tampang yang mengenaskan, gadis berambut singa yang bisa Devon tebak adalah anak si ibu pemilik toko ini mengekori ibunya masuk ke toko.
"Lily mau turun, Om."
Tanpa berminat untuk menyanggah atau membuat ribut dengan Lily, Devon membiarkan Lily turun dari gendongannya.
"Mau costum apa aja, Mas?" tanya ibu itu pada Devon.
"Mau pesen karangan bunga sama buket bunga, tapi bunganya warna putih ya, Bu."
Ibu Susi—yang Devon ketahui namanya dari kontak yang diberikan Steve—mengangguk. "Karangan bunga yang gede bisanya dianter agak siangan. Tetep jadi order?"
"Mampus, pasti kena damprat mama ini," umpat Devon dalam hati. Secara refleks, Devon mengelus tengkuknya untuk meredakan kebingungan.
"I ... iya, enggak apa-apa, Bu. Kalau buketnya bisa diambil sekarang?"
"Bisa." Susi mencatat pesanan Devon dalam sebuah note kertas. "Di karangan bunga yang gede mau dikasih tulisan apa?"
Devon menunjukkan pesan dari mamanya yang sudah ia salin ke tablet yang sedari tadi ditentengnya.
"Silakan ditunggu sebentar, ya." Susi menunjukkan kursi tunggu di pojok ruangan dengan senyuman lebar seusai mencatat pesanan Devon.
"ODI!"
Devon yang baru saja mendudukkan diri di kursi terlonjak akibat teriakan nyaring dari sang pemilik toko bunga. Lily lari terbirit-b***t mendekat ke arah Devon, matanya melotot, dan tangannya menggenggam erat sekotak s**u miliknya tadi.
"Bantuin Mama, cepetan! Tidur mulu, enggak bikin kaya."
Gadis berambut layaknya singa yang Devon dengar bernama Odi itu malah membalikkan posisinya dari yang awalnya tidur dengan bertopang dagu menjadi menelungkupkan kepala ke atas meja.
"Astaga, Odi! Cepetan bangun, bantuin Mama! Tidurnya lanjut nanti lagi! Itu ada pelanggan, enggak malu kamu, tiduran gitu?! Buruan bangun bantuin Mama!"
"Hoam," Odi menguap lebar sembari mengucek-ucek matanya. "Odi ngantuk, Ma. Ini masih pagi."
Susi membawakan hand sprayer, bersiap memandikan Odi saat itu juga. Odi buru-buru bangkit dari posisi ternyamannya saat ini, menghindari semprotan maut dari ibunya.
"Ini bangun. Ini bangun." Tangan Odi menghadang ibunya untuk menghentikan rencana busuk itu mengenai dirinya.
Devon dapat melihat dengan jelas bagaimana interaksi ibu dan anak itu. Bukan hanya mamanya saja yang bar-bar dan suka berteriak, mungkin semua ibu-ibu akan melakukan hal yang sama pada anaknya.
"Tante itu akan memandikan kakak itu dengan air seperti bunga, Om?" Pertanyaan tidak berdosa terlontar dengan lancar dari mulut Lily yang sontak membuat 2 orang yang Lily tunjuk menoleh.
Hal yang tidak Devon harapkan saat membawa Lily turun dari mobil, akhirnya terjadi juga. Mau ditaruh di mana muka Devon?
"Ingat, Devon! Ini adalah pertama dan terakhir kalinya lo dateng ke sini. Setelah lo keluar dari sini semua clear dan anggap enggak pernah terjadi sesuatu." Devon menenangkan dirinya sendiri.
Lily sukses membuat hawa dalam toko bunga ini menjadi tegang. Merasa bahwa Devon tidak memiliki jawaban, kaki mungil Lily melangkah menuju ke arah Odi dan Susi. Devon hanya berharap semoga Lily tidak berubah menjadi makhluk menyebalkan dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga.
"Lily mau pakai itu. Lily mau itu."
Belum genap semenit Devon berharap agar Lily tidak berulah macam-macam, harapannya lenyap seketika itu juga. Bahkan Lily menghancurkannya tanpa perlu menyentuh.
"Mau apa, sayang?" Susi jongkok menyejajarkan tubuhnya setinggi Lily.
Lily sangat antusias saat menunjuk apa yang sedang ia inginkan. "Mau itu!"
Susi mengambilkan setangkai mawar putih yang batangnya sudah bersih dari duri untuk Lily. Lily menggeleng. "No! Bukan itu."
Penolakan dari Lily tak ayal membuat Susi, Odi, dan Devon dilanda kebingungan. Apa yang sebenarnya Lily inginkan? Sepengamatan Devon, pandangan Lily hanya terpaku ke mawar-mawar putih yang berserakan di atas meja. Apa Lily tidak menginginkan mawar putih? Atau jangan-jangan Lily menginginkan bunga lily, seperti namanya?
"Lily mau mahkota seperti yang dipakai kakak itu."
Hwe? Mahkota? Apa yang dimaksud mahkota oleh Lily adalah daun-daunan bekas bunga yang tersangkut di rambut singa Odi?
"Lily mau jadi Tarzan cantik."
Perkiraan Devon akan apa yang akan dilakukan Lily begitu melenceng jauh. Rasanya Devon membutuhkan kantung kertas untuk menutupi mukanya saat ini juga. Entahlah apakah Lily berniat memuji atau menyindir Odi saat ini, yang pasti Devon tidak ingin memikirkannya. []