Kamu bukanlah langit-langit yang hanya stuck di satu tempat dan menunggu giliran rapuh karena termakan usia. Tugasmu lebih dari itu.
· • -- ٠ ✤ ٠ -- • ·
Pukul 00:02 am, sudah lewat tengah malam dan mata Devon masih sangat segar. Tidak terlalu sepi, samar-samar Devon masih bisa mendengar msuara kendaraan yang berlalu lalang di luar sana, meski apartemennya berada di lantai 7. Beginilah hidup yang ia jalani semenjak memutuskan tinggal terpisah 4 tahun yang lalu.
Hidup mandiri adalah alibi yang indah untuk menutupi rasa bebas yang sudah Devon idam-idamkan sejak dulu. Memang benar rasa bebas Devon dapatkan, namun kesepian dan kesendirian juga ikut menyusup masuk menemaninya.
"Huh," Devon menghela napas panjang. "Bisa jadi launching produknya agak keteteran."
Devon mengubah posisinya ke belakang menjadi bantalan untuk lehernya. "Eh ... enggak juga, sih. Kehitung baru sebulan masuk ajaran baru, tapi masa iya udah harus ngajuin penelitian?"
Perlu diketahui saat satu kesalahan datang, maka akan timbul kesalahan lain yang mengikuti dan Devon benci itu. Pepatah 'lebih baik mencegah daripada mengobati,' memang benar adanya. Proses mengobati atau memperbaiki teramat rumit, perlu tenaga keras dan membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Khususnya bagi Devon yang biasanya hanya mempersiapkan satu plan lurus dan teratur sempurna. Realita selalu berhasil untuk menjatuhkannya dalam lautan ekspektasi yang indah. Terbelenggu di dalam pusaran fana yang ternyata menyakitkan.
Devon mengacak-acak rambutnya pelan, berharap dengan melakukan hal itu sakit kepalanya juga akan ikut teracak dan menyingkir.
"Ah, bego," umpat Devon lirih, "kenapa harus kepikiran? Setiap langkah pasti ada resiko, jadi kenapa gue harus takut?"
Kepala Devon menengadah menatap langit-langit apartemennya. "Belum tentu kalau pakai jalan A bakal lancar. Satu sisi, belum tentu juga kalau ambil jalan B bakal lancar. Enggak ada jaminan pasti di setiap jalan, semuanya tetep beresiko."
Ketakutan untuk mengambil resiko pasti ada, namun jika tidak ada yang dipertaruhkan, akankah timbul kemajuan? Mencoba menerka-nerka malah terdengar sangat mustahil.
Apa yang kalian pikirkan akan menjadi kenyataan, jadi mulailah untuk memikirkan hal-hal baik. Devon memukul kepalanya pelan. "Ah, t***l. Kalau lo takut, yang ada malah kejadian, bego!"
"Kasihan ya, bund, mana masih muda lagi." Sindiran keras selalu datang dari otaknya saat Devon dilanda kegundahan.
"Aku mau spill kontak RSJ sekarang, boleh?"
"Gue sendiri enggak tahu seberapa besar kapasitas yang gue punya." Devon menyunggingkan senyuman tipis. "Di saat gue merasa bisa dan mampu, di lain kenyataan banyak jurang yang nungguin gue buat jatuh ke sana."
Mengabaikan segala pikiran buruk yang sedang berkecamuk di kepalanya, Devon kembali menatap langit-langit apartemennya dengan tatapan kosong. "Salah langkah bukan berarti salah segalanya, kan?"
"Dev, lo enggak perlu merasa insecure dan takut dengan apa yang lo ambil! Harusnya lo mikirin gimana caranya jalan yang lo ambil bisa lancar, lo kudu tahu lo harus lewat mana, arahin lagi fokus lo ke tujuan! Bukan malah bikin skenario aneh yang enggak nyata hasilnya. Buang-buang waktu, goblog."
Devon meresapi makian demi makian darinya untuk dirinya sendiri. Makian itu terolah dan menyerap masuk seiring dengan bunyi teratur dari jam dinding yang memasuki telinganya. Pandangannya yang kosong sangat betah menatap langit-langit agak lama.
"Enak kali ya, kalau jadi langit-langit." Devon tertawa kecil, menertawai dirinya sendiri. "Tinggal stuck di satu tempat dan nunggu giliran buat rapuh gegara terkikis zaman."
"Bodo ah, males ngomong sama Devon! Begonya udah kelewatan."
Tawa membahana memenuhi seisi kamar Devon. Tak perlu menunggu orang lain untuk geregetan, Devon bahkan sudah geregetan dengan dirinya sendiri.
"Sehat, Dev?" Hatinya bertanya tentang kondisi Devon, memastikan bahwa sang pemilik raga masih waras.
Ruangan dengan penerangan remang-remang, ponsel dan iPad dalam kondisi yang menyala, lagu dari Avicii yang mengalun dengan volume rendah, dan secangkir kopi yang kepulan asapnya mulai menghilang menjadi teman setia Devon di sini.
"Makanya nyari pasangan, Dev. Setidaknya lo punya tempat berkeluh kesah, punya orang yang bisa diajak diskusi, punya penyemangat, punya tempat buat didengar ... lo pengen doang, usaha kagak."
Devon sudah sering mendengar kalimat makian yang sama, bukan hanya dari otak dan hatinya, namun dari orang-orang di sekitarnya juga. Andai semudah itu, mungkin Devon akan mengagendakannya nanti. Nyatanya tak ada yang lebih baik yang mampu menyamarkan pahitnya kenyataan selain kopi. Untuk saat ini kopi adalah kandidat terbaik bagi Devon.
Drtt!
Getaran panjang dari ponsel Devon menandakan notifikasi panggilan masuk. "Siapa yang telepon malam-malam?"
Mama♡ is calling...
"Tengah malam? Si mama mau ngapain?"
Dalam deringan kedua, Devon langsung mengangkat panggilan suara dari mamanya.
"Hall—"
"KENAPA BELUM TIDUR?!" teriak mama dari sambungan telepon.
Terlalu banyak pikiran membuat Devon lupa untuk menyalakan fitur loudspeakers. Kupingnya terasa sedikit berdengung, mamanya berteriak secara spontan dan tanpa basa-basi, tidak berminat untuk mengucapkan salam sebelum sukses membuat Devon kaget.
"Mama kenapa telepon?"
"Kamu kenapa belum tidur?!"
"Ini baru mau tidur, udah dulu ya, Ma. Devon matiin, ya. Good—"
"Gitu ya sekarang, Dev?! Enggak suka Mama telepon? Belum ada semenit udah main matiin aja. Enggak sopan kamu."
Jangan tanya dari mana sifat menyebalkan Devon berasal? Sudah tahu sendiri, kan?
"Mm iya, kenapa mama telepon Devon malam-malam?"
"Besok pagi-pagi cariin buket bunga, kalo bisa yang nuansanya putih.
"Kenapa—"
"Mama sama papa kelupaan kalau besok ada acara, keingetnya barusan. Nanti sekalian minta anterin ke tempat. Besok Mama kirim shareloc ke kamu."
"Dimana—"
"Mama enggak tahu. Terserah kamu, yang penting bunganya dapet. Udah ya, Mama tutup teleponnya. Jangan tidur malam-malam! Selesai Mama tutup telepon, kamu harus langsung tidur! Nite."
Pip.
Devon menatap ponselnya dengan pandangan tak percaya. Bahkan untuk sekadar mangap saja, Devon tidak diberi kesempatan. Di mana dirinya harus mencari toko penjual buket bunga yang kerjanya super kilat besok pagi?
Apa kata mamanya tadi? 'Kamu harus langsung tidur!'? Bukannya mengantuk, mata Devon malah tambah segar.
Seperti halnya mengangkat sambungan telepon dari mama tadi, Devon dihadapkan dengan dua pilihan. Yang pertama diangkat dan diomeli. Atau pilihan yang kedua, tidak mengangkat, mengabaikan telepon, dan berakhir diomeli juga. Semesta memang sebercanda itu.
***
Drtt!
04:27 am dan ponsel Devon tak henti-hentinya berbunyi. Kelopak mata Devon masih sangat lengket, fokus pandangannya juga masih samar-samar. Tetapi, orang gabut mana yang menghubunginya pagi-pagi buta begini? Bahkan Devon belum ada 2 jam memejamkan mata, kantuknya yang terlambat datang tadi malam benar-benar mengacaukan segalanya.
Tanpa ada minat untuk bangun, Devon meraba-raba nakasnya. Hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mencari ponsel sialan yang tidak mau berhenti berbunyi.
"Hall—"
"DEVON! KENAPA BARU ANGKAT TELEPON MAMA, SEKARANG?! BARU BANGUN, KAMU?! BURUAN BERANGKAT CARIIN MAMA BUNGA, SEKARANG!"
"Iya, Ma, ini—"
Pip.
Devon menatap ponselnya sebal. Menelepon tanpa ba-bi-bu, berteriak saat nyawa Devon belum sepenuhnya terkumpul, dan mematikan telepon secara sepihak sebelum Devon selesai mengatakan satu kata apapun? Itu semua keahlian mama Devon.
"Bodo, mau lanjut tidur bentar ah."
Devon melemparkan ponselnya begitu saja ke nakas, menarik selimutnya tinggi sampai menutupi kepalanya. Belum sampai Devon hanyut dalam kantuknya, lagi-lagi ponselnya kembali berdering.
Drtt!
Nama mama menari di layar ponselnya, meminta Devon untuk segera mengangkat teleponnya.
"Jangan lupa nyalain loudspeakers, Dev. Sayang telinga," peringat hatinya.
"DEVON!"
Tebakan hatinya benar, mama lagi-lagi berteriak tanpa basa-basi. Hobi banget, teriak-teriak, Ma?
"CEPET BANGUN! MAMA TAHU YA, KALAU KAMU MAU BALIK TIDUR LAGI. BURUAN JALAN, SEKARANG!"
Pip.
Devon menggaruk-garuk rambut yang sebenarnya tidak gatal. "Ini mama, kenapa sinyal telepatinya kuat banget."
Seakan masih tidak rela untuk meninggalkan kasurnya yang empuk, lampu pijar yang ada di kepala Devon tiba-tiba menyala. Buru-buru jemarinya men-scroll daftar kontak yang ada di ponselnya.
Tut tut tut...
Tidak terangkat. Devon kembali mencoba menyambungkan panggilannya lagi. Nihil, hasilnya tetap sama hingga percobaan yang keempat.
"Sial!"
Tidak ingin menyerah, Devon berusaha mencobanya lagi.
Tut tut tut...
Deringan pertama percobaan yang kesekian, akhirnya panggilan itu terangkat.
"Hallo, To. Gue mau—"
"Enggak ada! Urus aja urusan lo sendiri, gue masih sebel sama lo, tai."
Pip.
"Hwe?"
Devon menganga tak percaya, panggilannya dimatikan secara sepihak oleh Tito. Tidak Tito, tidak mamanya, sama saja. Mengapa semua orang hobi sekali menyela omongan yang mereka sendiri belum tahu maksud sebenarnya? Mengapa mereka juga hobi mematikan sambungan telepon secara sepihak?
Di mana Devon bisa mencari toko bunga yang sudah buka di jam 5 pagi?! Tolong katakan, Devon butuh solusi. []